Bahaya Militer Ikut Berpolitik

ilustrasi

Oleh : Presiden Soekarno

“….. Disamping krisis-krisis Kabinet yang telah saya sebutkan tadi, adalah satu krisis yang diminta banyak dari fikiran dan perhatian kita. Krisis itu adalah krisis alat-kekuasaan Negara kita, yakni Angkatan Perang. Tanda-tanda adanya krisis ini sebenarnya sudah saya sinyalir dua tahun yang lalu. Pada hari Angkatan perang 5 Oktober 1951 yang lalu sudah saya sebut-sebut adanya krisis dalam alat-kekuasaan negara kita itu. Tetapi sejak itu krisis itu malahan makin menjadi. Akhirnya pada 17 Oktober tahun yang lalu ia memecah menjadi peristiwa yang menyedihkan. Demikianlah jadinya kalau Angkatan Perang ikut-ikut politik.

Padahal Angkatan Perang TIDAK BOLEH IKUT-IKUT POLITIK. Tidak boleh diombang-ambingkan oleh sesuatu politik. Angkatan Perang harus BERJIWA - tetapi ia TIDAK BOLEH ikut-ikut politik. Angkatan Perang adalah alat-kekuasaan Negara, alat-senjata, - ALAT, ALAT,- sekali lagi ALAT!

Alat ini harus tetap tajam, tetap ampuh, tetap syakti, tidak tergantung dari tangan yang memegangnya, asal tangan itu ialah tangannya Negara. Senjata Pasupati dari cerita Mahabharata tetap syakti, ditangan siapapun berada. Senjata Cakra tetap syakti, ditangan siapapun berada. Senjata Kunta Wijayadanu tetap syakti, ditangan siapapun berada. Tentara-pun sebagai senjata Negara, harus tetap syakti, tetap tajam, tetap ampuh, pemerintah apapun memegangnya, menurut hasil perbandingan-perbandingan-politik dalam Negara. Dan sebagaimana Pasupati hilang syaktinya, kalau ia retak, Nenggala hilang syaktinya kalau ia retak, Cakra hilang syaktinya kalau ia retak, Kunta hilang syaktinya kalau ia retak, maka Angkatan Perangpun akan hilang syaktinya kalau ia retak.

Senjata Pasupati dari cerita Mahabharata tetap syakti, ditangan siapapun berada. Senjata Cakra tetap syakti, ditangan siapapun berada. Senjata Kunta Wijayadanu tetap syakti, ditangan siapapun berada. Tentara-pun sebagai senjata Negara, harus tetap syakti, tetap tajam, tetap ampuh, pemerintah apapun memegangnya, menurut hasil perbandingan-perbandingan-politik dalam Negara. Dan sebagaimana Pasupati hilang syaktinya, kalau ia retak, Nenggala hilang syaktinya kalau ia retak, Cakra hilang syaktinya kalau ia retak, Kunta hilang syaktinya kalau ia retak, maka Angkatan Perangpun akan hilang syaktinya kalau ia retak.

Karena itu HARUS TEGAS-TEGAS DIPERSALAHKAN seseorang dalam Angkatan Perang kalau ia ikut-ikut politik uit de aard der zaak mendatangkan keretakan dalam Angkatan Perang. Karena itu manakala ada keretakan sedikitpun dalam Angkatan Perang, segala sesuatu harus diusahakan untuk mengembalikan keutuhan dalam Angkatan Perang. Dan aku yakin , keutuhan dalam Angkatan perang itu akan segera kembali, jika modal tenaga pejoang kemerdekaan tetap menjadi intisarinya Angkatan Perang!"
( Pidato Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1953 )

 

Wednesday, September 9, 2020 - 18:15
Kategori Rubrik: