Bahasa Minang Tidak Identik dengan Agama Islam

ilustrasi

Oleh : Sofyardi Bachyuljb

Dulu sebelum Islam masuk ke Ranah Minangkabau pada akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an agama orang Minang adalah Buddha.

Buktinya adalah sejumlah batu bersurat (prasasti) mayoritas era Raja Adityawarman yang terkenal. Batu-batu bersurat tersebut masih bisa dilihat di Tanah Datar.

Ditilik dari penyebaran Buddha di bagian tengah pulau Sumatra (termasuk wilayah Minangkabau), agama Buddha sudah dianut lebih 1.000 tahun sebelum perlahan orang Minang mulai menganut Islam dan meninggalkan Buddha.

Lalu terjadi klaim bahwa orang Minangkabau identik dengan Islam dan bahasa Minangkabau hanya untuk Islam. Padahal adat Minangkabau sendiri adalah warisan nenek-moyang sebelum Islam, terutama pengaruh Hindu-Buddha.

Tentang Buddha di Sumatra ini pernah saya posting di akun Fb saya ini pada 29 Mei 2018. Silakan baca untuk memperkuat "baalam laweh ba padang lapang" (beralam luas, berpadang lapang).

--

BUDDHA DI SUMATRA

--Salah satu pusat ajaran Buddha dunia yang menjadi agama sekitar 1100 tahun--

Alkisah, sebelum masyarakat Sumatra menganut Islam pada awal abad ke-16 (1500-an) dan lebih awal untuk Kesultanan Samudera Pasai di timur Aceh (sejak 1267), masyarakat Sumatra adalah penganut Buddha.

Jika Islam sudah menjadi agama masyarakat Sumatra sekitar 518 tahun, Buddha jauh lebih lama, yaitu sekitar 1.100 tahun dan mungkin juga lebih.

Sebelum Kedatuan Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan besar menguasai Asia Tenggara, dikenallah Kerajaan Kendali atau Kantoli yang mengirim utusan ke Kekaisaran Cina pada 430 hingga abad ke-6.

Kerajaan yang diduga beribu kota di pantai timur Sumatra bagian tengah ini disebut sebagai proto-Sriwijaya.

Era kemunduran Sriwijaya pada abad ke-12 dilanjutkan sejumlah kerajaan lebih kecil, di antaranya Kerajaan Dharmasraya lebih ke hulu sungai Batang Hari hingga abad ke 13. Kemudian dilanjutkan oleh Adityawarman dengan Kerajaan Pagaruyung hingga eksis sampai abad ke-15.

Buddha adalah agama kerajaan-kerajaan Malayu ini. Biara atau biaro, adalah candi tempat orang-orang suci dan para raja bersembahyang meminta berkah. Biara memiliki khas Sumatra, terbuat dari batubata yang berukuran lebih besar dari batubata yang kita kenal sekarang.

Kemajuan Buddha di Negeri Sribhoga (Sumatra tengah) tidak tanggung-tanggung. Ia menjadi poros Nalanda - Tibet - Swarnadwipa (Sumatra). I-Tsing (baca: I-Ching), biksu Cina yang ingin belajar ilmu Buddha ke Nalanda (India), justru akhirnya memutuskan belajar lebih dulu di Sribhoga selama 6 bulan.

Kemudian pulang dari Nalanda ia bertahun-tahun menetap di kerajaan Malayu atau Kedatuan Sriwijaya ini.

I-Tsing menukilkan bahwa di kerajaan ini terdapat seribu biksu yang menekuni semua mata pelajaran yang sama dengan Nalanda: mantik, tata bahasa, kesenian, ilmu pustaka, pengobatan, metafisika, dan filsafat.

Hampir empat abad kemudian, tahun 1012 seorang biksu terkenal dari India bernama Atisha Dipamkara Shrijnana (pangeran dari Kerajaan Sahor, Bangladesh sekarang) bersama 125 muridnya dan sekelompok pedagang dari Gujarat yang hendak mencari emas, mengarungi lautan selama 13 bulan dari India bagian timur menuju kerajaan Malayu untuk menemui gurunya yang paling ia sayangi bernama Serlingpa, Manusia dari Pulau Emas.

Selama 12 tahun ia bersama Guru Serlingpa yang diduga berlokasi di Kompleks Candi Muara Jambi sekarang. Pada 1025 ia berlayar pulang ke India.

Atisha tinggal selama 13 tahun di Tibet hingga wafat 1054. Ia guru Buddha terkenal karena menyatukan semua aliran Buddha dan mempengaruhi agama Buddha Tibet.

Serlingpa, guru Atisha, adalah guru Buddha yang berasal dari Sumatra.

Jadi, jangan heran, setelah masyarakat Sumatra menganut Islam, beberapa ritual atau simbol Buddha yang orang menyebutnya pengaruh Hindu, masih berlangsung bahkan hingga kini.

Berlimau dengan kembang, membakar kemenyan untuk dupa sebelum berdoa, memukul gong, memakai genta, berpantun-berseloka, dan (mungkin juga) duduk bersila. 

Caption:
(1) Kelapa muda, nyiur muda, dan bunga rampai di Candi (Biara) Muara Takus.
(2) Sebuah bangku di pohon yang rindang di halaman salah satu Candi (Biara) Muara Jambi.

Sumber : Status Facebook Syofiardi Bachyul Jb

Saturday, June 6, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: