Bahasa Arab

ilustrasi

Oleh : Afifah

Dari sejak di Denmark dulu hingga pindah ke NZ, dalam pergaulan kerja dan keseharian, saya cukup sering berinteraksi dengan orang2 penutur asli Arab. Ada yang pernah jadi tetangga, ada yang pernah jadi mahasiswa, dan ada juga yang jadi kolega. Yang paling sering berinteraksi dengan saya dari Mesir dan UAE.

Dua negara di Timur Tengah ini memang cukup banyak diasporanya yang menjadi pengajar di luar negara mereka, dibandingkan lainnya. Spesialisasi mereka rata2 di STEM (Science, Technology, Engineering dan Math).

Diaspora Iran juga banyak tapi mereka tak berbahasa Arab. Hanya tulisannya saja yang menggunakan huruf Arab. Sisanya saya pernah berinteraksi dengan mereka yang dari Saudi, Syiria, Jordan, Oman, Bahrain, Libanon, dan Kuwait.

Di antara mereka ada yang muslim, non-muslim, ada yang Islam garis keras, dan ada yang islam garis santai. Meski saya tak fasih berbahasa Arab, dari nada mereka berbicara Arab, saya bisa membedakan langgam Saudi, langgam Emirati, Mesir, Syiria dan Libanon.

Dari beberapa langgam tersebut, langgam Syiria dan Libanon merupakan langgam Arab yang paling halus dan mendayu. Ketika orang Syiria dan Libanon misuh2 pun terdengar seperti memuji2. Dari sisi pengucapan, Arab Mesir terdengar lebih jelas. Saking jelasnya jim dibaca g, Saat mereka menjadi imam shalat, aksen dan langgam mereka juga masih terdengar.

Menurut native Arab tersebut, bahasa Arab sendiri ada tiga tingkatan. Bahasa Arab sehari2, modern standard Arab, dan Arab klasik (fusha). Modern Standard Arab digunakan di media massa, sedangkan fusha adalah bahasa Arab yang digunakan Quran.

Satu yang menarik juga, mereka yang aksen Arabnya masih belum bisa hilang, sangat sulit bagi mereka untuk membedakan huruf p dan b dalam bahasa Inggris. Parking diucapkan barking, dan piece diucapkan biece.

Apa tidak kaget ketika seorang teman native English, dalam satu mobil yang dibawa oleh teman lainnya dari Kuwait, kemudian dia bertanya "Where should we bark? Can we bark, here?"

Sumber : Status Facebook Umi Afifah

Friday, June 12, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: