Bahasa Arab & Bahasa Inggris, Bahasa Religius vs Bahasa Kafir?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Baik Bahasa Arab maupun Bahasa Inggris adalah sama-sama bahasa "transnational". Meskipun tentu saja tidak "seinternasional" Bahasa Inggris, Bahasa Arab juga lintas-negara dan lintas-benua.

Menarik memperhatikan dinamika perkembangan kedua bahasa ini, khususnya di Indonesia dan negara-negara Arab. Di Indonesia, ada kecenderungan (sebagian) masyarakat yang menganggap Bahasa Inggris sebagai "bahasa modern" dan "bahasa kelas terdidik" atau "bahasa akademik". Jadi, kalau ngomong atau nulis pakai Bahasa Inggris seolah-olah sudah jadi "orang intelek" atau "wong piner" atau "orang elit". Ada pula sebagian masyarakat yang menganggap Bahasa Inggris sebagai "bahasa kapir" (yang ini tentu saja adalah jamaah Mamat dan Mimin yang aduhai unyunya).

Adapun mengenai Bahasa Arab, sebagian masyarakat Muslim di Indonesia menganggapnya sebagai "bahasa relijius" (atau bahasa Islami) dan "bahasa sakral". Fenomena ini persis seperti persepsi dan perlakuan umat Hindu, Buddha, atau Jainisme terhadap Bahasa Sanskrit atau Pali; umat Yahudi terhadap Bahasa Ibrani; umat Kristen terhadap Bahasa Aram, Latin, Yunani Koine, Koptik, dlsb.

 

 

Di kawasan Arab, tidak semua kaum Arab Muslim menganggap Bahasa Arab sebagai "bahasa Islami" (apalagi "bahasa surga"). Menurut mereka, Bahasa Arab adalah sama dengan bahasa-bahasa lain, kecuali Bahasa Arab klasik (fushah) yang dipakai dalam Al-Qur'an yang sangat spesifik.

Ada temuan menarik dalam survei yang bertajuk "Arab Youth Survey" yang dirilis di Dubai, Uni Emirat Arab, belum lama ini. Menurut survei ini yang dilakukan di hampir semua negara-negara Arab, termasuk Arab Teluk, Afrika Utara, Levant, dlsb, Bahasa Inggris menjadi "bahasa primadona" masyarakat Arab kontemporer.

Meskipun mereka (lebih dari 80%) menganggap Bahasa Arab adalah bagian penting dari "identitas masyarakat Arab", tetapi mayoritas menganggap Bahasa Arab telah kehilangan nilai signifikansinya. Hampir 70% (khususnya di kawasan Arab Teluk) mengaku sering menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Seperti umumnya masyarakat Indonesia, masyarakat Arab kontemporer, seperti ditunjukkan dalam survei itu, menganggap Bahasa Inggris sebagai "bahasa modern dan berkelas."

Memang Bahasa Inggris berkembang pesat di kawasan Arab Teluk ini bahkan telah menjadi bahasa kedua (setelah Arab) dan menjadi "lingua franca" karena banyaknya kaum migran yang lebih memilih menggunakan Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Arab. Bahasa Inggris juga "bahasa pendidikan" dan "bahasa kerja". Banyak sekali institusi pendidikan, pekerjaan, dan perusahaan disini yang mengsyarakatkan kemampuan berbahasa Inggris. Karena itu, wajar kalau Bahasa Inggris laris-manis dan diburu masyarakat Arab modern demi pekerjaan, pendidikan, dan karir yang lebih baik.

Bagiku, bahasa adalah sama saja. Semua adalah produk kebudayaan manusia. Manusialah yang menciptakan bahasa karena itu tidak ada bahasa yang sakral atau modern atau elitis. Manusialah yang membuatnya sakral, modern, dan berkelas itu.

Saya tidak merasa "lebih modern, terdidik, dan berkelas" dengan menggunakan Bahasa Inggris, dan tidak merasa "lebih Islami" kalau memakai Bahasa Arab. Saya menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab hanya sebagai "medium" atau sarana untuk mengajar, menulis, atau berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak paham Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa. Itu saja.

Kalau bertemu dengan orang Indonesia non-Jawa, saya lebih suka memakai Bahasa Indonesia. Tapi kalau bertemu dengan orang Jawa, saya lebih suka menggunakan Bahasa Jawa. Mekaten njih he he..

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Sunday, May 7, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: