Bahar Bin Smith

Ilustrasi

Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin 

Habib Bahar bin Ali bin Smith. Nama ini santer saya dengar setahun terakhir sejak isu 'penistaan agama' Ahok di Pilkada DKI.

Saya hanya ingin cerita sedikit pengalaman saya bertemu orang ini. Saya pernah bertemu dia dua kali di Balikpapan sekitar 6 tahun yang lalu jauh sebelum dia tenar seperti sekarang karena hinaannya pada Jokowi, Ahok dan Kapolri.

Terserah anda mau menganggapnya aib atau bukan, kami berdua berada pada sebuah majelis milik jemaah di Balikpapan sekitar akhir 2011 lalu. Saat itu saya tidak kenal dia dan dia pun tidak mengenal saya (bahkan sampai sekarang). Saya ingat sempat bersalaman + cipika cipiki dengannya.

Yang saya ingat dia saat itu adalah makhluq paling unik, rambut berwarna pirang panjang melebihi bahu, entah hasil Buceri (Bule cet sendiri) atau tidak. Dia berpakaian serba hitam mulai dari sarung hitam, baju gamis hitam, peci hitam, dan Rida'/Burdah (selendang) berwarna hitam, tidak lupa dengan kacamata hitam.

Dalam hati saya saat itu, "Ni orang mungkin agen MIB kesasar, nyentrik di tempat yang salah". Dan akhirnya saya tahu beberapa jemaah lain memanggilnya sebagai "Habib Bule". Tidak usah ditanya kenapa dia dipanggil begitu, tanya saja sama Sule kenapa dia dipanggil 'Sunda Bule'.

Lanjut. Ada satu hal menarik, di luar penampilannya yang nyentrik itu ternyata pembawaannya biasa saja. Satu hal yang saya tahu, para Habaib senior terlihat sangat menghormati dia dan memberi dia tempat di depan. Dia lebih banyak diam dan baru berbicara ketika diminta berbicara. Bahkan saat kami berziarah ke makam beberapa sesepuh Habaib di halaman Masjid At Taqwa dia hanya berdiri sendiri di belakang dengan gaya coolnya. Satu hal lagi, dia juga perokok. Setidaknya itu yang saya lihat.

Dia nampak tak menonjol sedikitpun di mata saya selain dari penampilannya yang unik dan gaya bicaranya yang seperti orang kebakaran.

Waktu berlalu, nothing special sampai tiba kabar bahwa ia menjadi pemimpin Majelis Pembela Rasulullah, gemar melakukan ceramah provokatif dimana-mana, melakukan sweeping seenaknya dengan senjata tajam bersama 60 anggotanya yang rata-rata pemuda di bawah umur, dan kabarnya ia pernah ditahan di Mapolres Jaksel. Ia juga bikin rame dengan membuat ancaman siram bensin dan bakar hidup-hidup orang yang memakai atribut PKI. Ia juga memaki Presiden, menyebut Polisi sebagai anjing-anjing PKI, juga menjadi loyalis setia Sayyid Rizieq Shihab. Terakhir saya dengar ia mengancam perang jika "Sehelai rambut Habib Rizieq jatuh".

Satu hal yang saya puji dari orang ini adalah dia pandai berbicara. Saya ingat ketika ia dapat giliran berbicara, ia sempat tersinggung ketika jemaah lain tidak mendengarkannya. Lalu ia berkata "Dengarkan saya! Sesungguhnya saya akan menyampaikan pesan dari datukku Rasulullah SAW", seakan yang keturunan Nabi disana hanya dia, padahal banyak Habaib disana yang lebih sepuh. You know, dia memang punya rasa percaya diri ekstra.

Selain itu, saya akui dia memang 'Singa Mikropon', sangat jago mengaum di depan mikropon. Tapi sayang yang namanya Singa, kadang terlalu sibuk mengaum tapi tidak jelas apa yang diteriakkan. Asal ngelantur, yang penting keras dan mengintimidasi lawan.

Terakhir saya melihat dia kembali mengaum di panggung reuni alumni 212 hari ini lewat layar TvOne.

Ahh sudahlah, saya cukupkan cerita saya tentang sosok tidak penting ini. Saya masih berdoa semoga dia berubah. Masa depan dia masih panjang, kharisma dia juga ada, ghiroh beragama dia dahsyat.

Orang ini perlu slow down sedikit, berhenti berceramah, menjauh dari mikropon, mulai lebih banyak belajar, terutama kepada para tokoh Habaib yang memang layak digelari "Habib", seperti Habib Luthfi bin Yahya, Habib Jindan bin Novel Jindan, Habib Quraish Shihab dll. Itu jauh lebih baik daripada dia terus mempermalukan ajaran datuknya sendiri.

Sumber : Status Facebook Ahmed Zain Oul Mottaqin

Friday, December 8, 2017 - 16:00
Kategori Rubrik: