Bahar bin Smith, Habib Rasa Preman

Oleh : Tango Juliet

Menyebut semua keturunan Nabi dengan habib sebenarnya kurang tepat, karena posisi habib itu dituakan, bahkan di antara sesama keturunan Nabi. Ia menjadi tempat meminta nasehat. Menjadi panutan dan peneduh. Tetapi istilah ini pengertiannya sudah terlanjur melebar, semua disebut habib. Bahkan yang bermental preman.

Rizieq Shihab adalah salah satu habib dengan perangai keras ini. Dan kita semua tahu bagaimana kisah petualangan asmaranya. Di balik sikap sok suci itu, ternyata ada kenistaan terselubung. Dan ironisnya, orang ini memiliki pengikut fanatik yang menganggapnya sebagai dewa kecil.

Bahar bin Smith adalah gambaran habib lain yang gayanya juga lebih mirip preman. Ketika ia berceramah, seperti sedang kesurupan. Ia gemar memprovokasi jamaahnya dengan segala bibit kebencian. Memasukkan unsur politik dalam lingkup keagamaan. Kadang, habib gondrong berambut merah ini berlagak seperti aktor teater. Diam saja di atas panggung. Ketika siuman dari aksi teatrikal tadi, tiba-tiba ia meledak-ledak seperti bocah tantrum.

Kehabiban memang harus dihormati. Apalagi bagi seorang muslim. Ia simbol rasa sayang kita pada Nabi dan keluarganya. Namun tidak boleh buta dan mengabaikan logika.

Bahar bin Smith ini baru saja ditolak di Manado. Ada kesan, polisi di sana takut jika kasus ini dibesar-besarkan. Padahal sebaliknya, kasus ini harus diangkat ke permukaan. Masyarakat setempat berhak menyuarakan pendapat mereka. Menolak Bahar bin Smith dan FPI-nya adalah perlawanan, terhadap aksi kesewenangan. Memang terkesan seperti paradoks. Menolak kekerasan dengan kekerasan.

Tetapi jika reaksi massa itu adalah akibat ulah Bahar bin Smith, maka perbuatan itu sebenarnya adalah hukuman sosial. Dan hukum sosial tak bisa disalahkan, karena itu hubungan kausal yang tak terelakkan. Akarnya sangat dalam dan sulit untuk diurai.

Pasca penolakan itu ada dua kejadian ikutan. Rumah makan Manado konon dirusak oleh oknum tak dikenal. Dan di Aceh, ormas kantong sampah mengancam akan menumpahkan darah. Dalam sebuah video, beberapa orang membawa senjata tajam menebarkan bibit permusuhan antar-etnis dengan latar agama.

Ini bukan perkara sepele. FPI-nya mungkin hanya segelintir. Tapi pesan kekerasan itu meluas dan melahirkan stigma. Islam yang jadi korban. Toleransi di Manado sangat baik. Umat beragama hidup rukun dan saling menghormati. Kebencian mereka pada Bahar bin Smith adalah kebencian personal. Jika ormas kantong sampah hendak menyeret persoalan ini jadi urusan komunal, orang-orang ini jelas sedang memprovokasi.

Habib rasa preman seperti Bahar bin Smith adalah anomali dalam keislaman Nusantara. Ia tidak mewakili orang-orang yang lebih dulu dari dirinya. Bahar Cs lebih mirip aktor teater dengan embel-embel agama. Demi memerankan tokoh ulama kharismatik, habib rasa preman itu bergaya di atas panggung.

Secara teatrikal, aktingnya sebenarnya buruk. Retorika yang digunakan dangkal. Ia hanya mengulang-ulang amarah dan kebencian dengan menciptakan musuh bayangan. Dan audiens yang disasar hanya kelompoknya. Orang-orang yang telah dia doktrin dengan aksi panggung murahan tadi.

Ketika Bahar bin Smith diam cukup lama di atas panggung, mungkin fans setianya berpikir, orang ini sedang menerima wangsit. Ketika ia mulai berteriak-teriak macam orang sinting, mungkin pencinta butanya menganggap, orang ini sedang menerima mandat dari antah-berantah.

Indonesia tidak memberikan ruang untuk habib rasa preman. Orang seperti Bahar bin Smith harus membaca sejarah, Islam telah lama masuk Indonesia, tapi tidak diterima. Komunitas masyarakat islam, termasuk habib dan pedagang Gujarat, terkosentrasi di daerah pantai. Penduduk lokal menganggap kelompok muslim itu asing dan mereka tak berminat masuk Islam. Itu terjadi selama ratusan tahun.

Kenapa orang-orang Nusantara menolak Islam yang dibawa habib dan pedagang Gujarat itu? Karena model dakwahnya mungkin seperti Bahar bin Smith. Orang-orang Jawa khususnya, sudah punya keyakinan yang mendarah-daging. Islam dengan gaya preman tidak cocok bagi mereka.

Baru ketika generasi brilian bernama Walisongo lahir, Islam diterima secara luas. Hanya butuh waktu lima puluh tahun islam menjadi agama mayoritas. Kenapa penduduk Nusantara rela menukar keyakinan yang sudah mendarah-daging itu dengan ajaran Islam? Karena bentuk luarnya sama dengan ajaran lama mereka.

Masjid memakai bedug dan kentongan. Ada acara kenduri dan nyadran. Sunan Kudus bahkan memakai menara dan melarang muridnya memotong sapi. Walisanga tidak menggambarkan Tuhan sebagaimana personifikasi orang Arab. Tetapi menyerap ajaran Kapitayan, "Tan kinoyo ngopo (tidak seperti apapun)." Cocok dengan ayat "Laisa kamitslihi syai-un."

Maka orang-orang Jawa khususnya, menerima ajaran itu. Karena cocok dengan ajaran lama mereka. Islam tak jauh beda dengan ajaran budhi. Hukum-hukum yang keras di Arab, berubah jadi lentur. Tidak ada potong tangan dan rajam dalam sejarah Islam kita.

Ulah Bahar bin Smith dan seniornya, Rizieq Shihab, itu jelas bertolak belakang dengan sejarah tadi. Mereka ingin merusak wajah Islam yang susah payah dibangun Walisongo. Ini ancaman yang serius bagi kerukunan beragama. Ini bahaya bagi Islam yang bekembang di Nusantara.

Bukan hanya tradisi fisik yang dijaga di Indonesia, tapi sikap dan pemikiran ulama terdahulu tetap dirawat. Suluk Ki Ageng Selo misalnya, adalah kekayaan pemikiran Islam Nusantara. Sebuah upaya menerjemahkan ajaran Islam dengan jiwa Nusantara.

Habib rasa Preman tak boleh diberi ruang untuk merusak warisan leluhur kita ini. Islam kita adalah Islam yang berproses ratusan tahun. Islam yang awalnya ditolak karena asing dan kaku. Sementara habib yang teduh, mengayomi, menjadi inspirasi umat, ini yang harus diberi panggung seluas-luasnya.

Ancaman terhadap Islam di Indonesia bukan datang dari luar. Tapi karena oknum habib rasa preman dan ustad karbitan yang belum cukup ilmunya. Mereka bukan ulama, tapi aktor teater yang sedang bergaya di atas panggung. Dan anehnya, penontonnya pada kesurupan dan siap berkoban nyawa untuk mereka. Betapa bodoh tiada terkira

 

Sumber : facebook Tango J

Saturday, October 20, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: