Bagi Warga NU, Mau Pilih Ahok atau Anies? Ini Kaidah Fiqihnya!

Oleh : Slamet Abd Aziz

Dalam putaran kedua di Pilkada DKI, suara NU dan kalangan muslim moderat ditunggu-tunggu kalangan muslim nasionalis dan progresif yang sudah melabuhkan pilihannya pada Ahok Djarot pada putaran pertama.

Sedangkan Anies Sandi sudah jelas-jelas didukung oleh kelompok-kelompok garis keras, Salafi Wahabi, PKS, varian Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang paling ekstrim melahirkan ISIS di Suriah dan Iraq.

Kedekatan Anies dengan tokoh-tokoh garis keras seperti Rizieq Shihab FPI, Gatot Saptono alias Muhammad Al-Khathath dari FUI yang mantan Ketua Umum DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin, Farid Okbah dan Firanda yang jelas-jelas tokoh Salafi Wahabi yang dikaitkan dengan pengiriman dana ke ISIS. Secara politik yakni PKS dan secara kultural yaitu kelompok-kelompok Wahabi, maka sudah terasa ancaman bagi kalangan NU dari kubu Anies Sandi. Ancaman yang nyata baik terhadap politik dan kultural NU. Secara politik, PKS adalah “serigala berbulu domba” yang tetap menginginkan berdirinya Negara Islam, PKS adalah lanjutan dari DI/TII dan penjelmaan dari Ikhwanul Muslim di Mesir yang telah membuat porak-poranda negeri para Nabi dan Awliyaa’ itu.

Sedangkan secara kultural, Kelompok-kelompok Salafi Wahabi ini lah yang mudah mengafir-kafirkan, menuduh Bid’ah, sesat, dan syirik terhadap amaliyah-amaliyah NU.

Maka, NU yang berpegang teguh pada hasil Bahtsul Masail tahun 1999 di Lirboyo Kediri yang menyatakan haram memilih pemimpin non muslim kalau bukan karena darurat dan bisa membawa kemaslahatan bagi umat Islam, telah KONSISTEN dengan memilih pasangan Agus Sylvi di putaran pertama.

Namun untuk putaran kedua, kubu Anies Sandi membawa ancaman bagi NU baik secara politik dan kultural. Di sini lain, pasangan Ahok Djarot adalah Ahoknya yang beragama Kristen.

Di hadapan 2 pilihan ini, maka dalam kaidah Fiqih ditentukan cara-cara untuk menentukan pilihan di antara dua hal yang bisa dibilang ada ancaman dan kerusakan (mafsadah) dengan adanya kebaikan (mashlahah).

 

1.

الضرورة تبيح المحظورات

 

Ini kaidah terkenal, kondisi yang darurat maka hal-hal yang sebelumnya dilarang diperbolehkan. Misal yang populer, kalau tidak ada makanan sama sekali, yang ada hanya makanan haram, misalnya daging babi, kalau tidak makan akan menyebabkan kematian maka, boleh makan daging babi itu.

Dalam putaran kedua, warga NU bisa memakai kaidah ini, karena bunyi Bahtsul Masail demikian, tidak boleh memilih pemimpin non muslim kecuali dalam kondisi darurat. Maka, kubu Anies Sandi yang membawa ancaman dan kerusakan baik pada politik dan kultural NU, membawa pada pilihan darurat yakni Ahok Djarot. Karena Ahok Kristen dan Djarot muslim. Kondisi darurat hanya berlaku di putaran kedua bukan putaran pertama, karena masih ada Agus Sylvi, maka, garis politik NU, yakni PKB pun memilih Agus Sylvi sebagai pilihan alternatif.

 

2.

إذا تعارضت مفسدتان رُوعي أعظمُهما ضررًا بارتكاب أخفهما

Kaidah ini memberikan petunjuk kalau ada dua hal yang sama-sama membawa dampak keburukan dan bertentangan maka dipilih yang paling sedikit dampak buruknya.

Ahok non muslim dan kubu Anies Sandi membawa keburukan bagi politik dan kultural NU, maka dipilih yang paling sedikit dampak buruknya, bahwa Ahok meskipun Kristen dan sudah jadi gubernur terbukti membawa kemaslahatan bagi umat Islam, bangun masjid-masjid, umrohkan Marbot-marbot, menetapkan makam Mbah Priok sebagai Cagar budaya dan membangun Makam Mbah Priok, membagikan KJP khusus untuk madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah Islam dllnya. Sedangkan agama Ahok, Kristen tidak pernah mempengaruhi kebijakan Ahok yang jelas-jelas pro Islam, maka, lebih tepat memilih Ahok Djarot daripada Anies Sandi yang akan membawa ancaman bagi politik dan kultural NU.

 

3.

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak dampak buruk lebih diutamakan daripada mengambil dampak baik. Ini kaidah untuk menolak pasangan Anies Sandi meski ada hak baik, keduanya muslim, tapi pasangan ini akan bawa dampak buruk bagi politik dan kultural NU. Maka menolak keduanya lebih diutamakan daripada melihat sisi positif dari keduanya.

 

4.

ما لا يدرك كله لا يترك كله

Yang tidak bisa diambil seluruhnya tidak bisa ditinggalkan seluruhnya. Ini persis pepatah di kita, tidak ada rotan, akar pun jadi. Kalau yang ideal tidak bisa diperoleh maka yang realistis yang baik pun dipilih.

Bahwa pasangan Ahok Djarot bukan pasangan ideal bagi kalangan muslim dan NU, karen Ahok Kristen, Djarot muslim, tapi tidak menyebabkan keduanya tidak layak dipilih karena pasangan satunya, Anies Sandi membawa ancaman dan dampak buruk bagi politik dan kultural NU.

Warga NU juga sangat akrab dengan kaidah

 

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

Kebijakan pemimpin pada rakyatnya berdasarkan kemaslahatan dan kepentingan utama rakyat. Di sinilah patokan memilih pemimpin lebih berdasarkan standar standar kebijakan yang sudah dilakukan bagi rakyat. Maka, Ahok Djarot lebih memenuhi kriteria ini daripada Anies Sandi yang masih baru akan melaksanakan dan malah membawa ancaman terhadap politik dan kultural NU.

Khusus PKB, garis politik NU dan sebagai partai ideologis Gus Dur, inilah saatnya membuktikan. Apakah benar ideologis Gus Dur atau bukan. Karena Gus Dur lah dengan PKB yang mendukung Ahok sebagai Cagub Babel tahun 2007, saat itu Gus Dur juga mengatakan tidak ada masalah dengan agama Ahok. Bahkan ini dianggap sebagai pembuktian terhadap konstitusi dan NKRI.

Dalam putaran pertama, PKB sudah melaksanakan hasil Bahtsul Masail NU tahun 1999, dengan milih Agus Sylvi, maka dalam putaran kedua dengan kondisi darurat serta pembuktikan sebagai partai ideologis Gus Dur, PKB bisa melabuhkan pilihan pada Ahok Djarot.

Sumber : Jakartaasoy

 

 

Monday, March 6, 2017 - 16:45
Kategori Rubrik: