Bagaimana Saya Menjadi Radikal dan Intoleran

Ilustrasi

Oleh : Kaisar Bartolomeo

Saya percaya bahwa tidak ada penjelasan tunggal atas tindak ekstremisme agama yang berujung pada aksi intoleransi dengan penggunaan kekerasan. Tulisan ini adalah kenangan pribadi saya yang sempat bersinggungan dengan apa yang orang-orang sebut sebagai paham radikal meskipun pada akhirnya saya tidak sampai terjerumus lebih jauh.

Kejadiannya sekitar 2008, suatu fase dimana seperti anak muda lain yang baru lulus sekolah menengah atas saya memiliki optimisme untuk menjalani hidup yang lebih baik. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja.

Saya lalu pindah ke kota. Enam bulan lamanya tanpa kejelasan nasib, tak ada panggilan wawancara kerja menjadikan hari-hariku disibukkan dengan membaca buku, selain bolak balik dari kost ke mesjid. Namun tepat disaat inilah saya mulai berkenalan dengan gagasan-gagasan baru tentang Islam yang saya dapat dari ta’mir -yang belakangan kutahu adalah seorang aktivis islam- di masjid setempat.

Mereka mulai mendiskusikan sesuatu yang jarang saya dengar di kampung. Mereka berbicara seperti mencampur adukkan politik dan agama. Saya diperkenalkan dengan istilah seperti zionis, kapitalisme, konspirasi hingga antek toghut. Karena penasaran saya berusaha mencari lebih jauh. saya menghapal setiap nama tokoh yang mereka diskusikan untuk setelahnya mencari lebih jauh di warnet.

Dari proses penelusuran itulah saya mulai mengenal nama Hasan al Banna dan Sayyid Quthb hingga pejuang-pejuang Kaukasus yang sekarang telah saya lupa namanya. Karena tak punya uang untuk membeli buku saya harus bersabar membaca berjam-jam di depan layar komputer dalam format pdf. Anda bisa dengan gampang mengunduh tulisan-tulisan seperti Beberapa Studi Tentang Islam hingga yang paling populer Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.

Dari pengalaman membaca mereka saya jadi sadar bahwa telah terjadi penindasan terhadap umat Islam dimana-mana. Kaum kafir dan pemimpin toghut bahu-membahu menghancurkan Islam. Ada semacam kemarahan setiap saya menyaksikan video pembantaian anak-anak Palestina, penyiksaan mujahidin oleh tentara Amerika di Irak, hingga jet tempur yang menjatuhkan bom di kota-kota Afganistan.

Lalu kemana para pemimpin muslim hari ini? apa yang dilakukan oleh tentara-tentara muslim kita? saya mempertanyakan otoritas ulama macam MUI hingga da’i-da’i yang ada di tv itu. Semua pertanyaan ini menghantarku bukan kepada sebuah jawaban meliankan kekecewaan. Saya mulai memberikan label kafir kepada mereka yang tak sepemahaman.

Saya membangun komunikasi di facebook, membuat sejumlah akun palsu. Aktif berdebat dengan memprovokasi pemeluk agama lain, hingga membagikan tautan yang berisi solidaritas untuk berjihad. Singkatnya saya telah menjalankan apa yang orang-orang sebut hari ini sebagai ujaran kebencian. Aktivitas ini tidak berhenti bahkan setelah saya masuk kuliah.

Di kampus saya bergabung dengan salahsatu organisasi Islam –sekalipun pada akhirnya saya kecewa karena lembaga ini berislam secara sekuler- namun gagasan fanatik tidak goyah dikepalaku. Puncaknya pada 2012 saya dan beberapa kawan lain harus bersembunyi dari kejaran polisi setelah melakukan pengrusakan terhadap sejumlah gerai makanan cepat saji milik “kafir” sebagai reaksi atas film Innocent of Muslim yang menghina Rasulullah.

Boleh dibilang pada momen inilah perjalananku mengalami titik balik. Iklim akademis kampus dan teman-teman organisasi yang berpikiran terbuka sedikit demi sedikit mencairkan gaya berpikir ekskusif di kepalaku. Fanatisme dalam menafsirkan Islam nampak goyah dihadapan luasnya perspektif yang ditawarkan orang-orang. Lama-kelamaan saya sadar bahwa pandanganku tak bisa dipertahankan lagi dan sayapun menyerah.

Saya baru bisa benar-benar memahami masa laluku ketika pada suatu hari membaca tulisan-tulisan Erich Fromm, seorang Humanis yang kepadanya saya bercermin banyak tentang pribadiku. Sebagai seorang yang menghayati agama dengan antusiasme tinggi, saya telah mengfixasi Islam sebagai satu-satunya solusi atas segala permasalahan dalam hidup.

Rasa bangga itu pada akhirnya harus dibenturkan dengan realitas. Saya justru mendapati kenyataan bahwa agamaku menjadi begitu direndahkan di mata barat. Tersingkir secara ekonomi dan politik menyisakan satu ruang yang harus kupertahankan hidup mati, dan bila itu juga dirampas maka saya merasa harga diri sebagai muslim tak ada lagi.

Mengingat gambaran Tan Malaka atas cara berpikir muslim dunia ketiga “aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga?”. Bagiku agama adalah harga mati, dan itulah yang tersisa. Irasionalitas tindakan dan kekerasan yang mengikut di belakangnya sebagaimana dikatakan Fromm adalah respon atas ketidakberdayaan. Dalam kondisi seperti ini saya berdalih dengan membalik posisi dan menganggap diri sebagai superior.

Menurut Fromm ini berangkat dari permasalahan eksistensial sebagai manusia. Menyadari Islam sebagai pihak yang dijadikan objek oleh barat, ummat islam berusaha melampaui batas-batas eksistensinya. Semakin kuat tekanan, semakin besar ketidakberdayaan maka semakin besar pula hasrat untuk menunujukkan kekuasaan pada pihak lain. Dan ini saling terjalin dengan cara kita menghayati agama.

Dalam konsepnya yang lain, Fromm mengatakan bahwa ada dua modus eksistensi manusia. To have (memiliki) dan To be (menjadi). Dalam modus memiliki seseorang merasa eksis sejauh ia memiliki objek-objek. Sementara dalam modus menjadi, eksistensi diukur sejauh mana objek-objek tersebut membuat kita “menjadi” orang yang lebih baik.

Dalam kaitannya dengan praktik beragama, modus memiliki memposisikan agama sebagai sesuatu yang mesti diklaim dalam bentuk kepemilikan. Inilah yang terjadi di masa lalu. Semua yang beragama secara berbeda dari cara yang kupraktikkan adalah kafir dan sesat. Hanya akulah, Islam yang kumiliki inilah yang benar. Intoleransi lahir dari penghayatan agama seperti ini.

Padahal alih-alih memiliki, seharusnya modus beragama kita diarahkan untuk membuat kita “menjadi” orang yang lebih baik. Bukankah dikatakan bahwa sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan munkar? seharusnya membuat kita “menjadi” lebih baik? namun mengapa masih kita temukan silaturahmi yang putus karena perbedaan cara sholat? Ini berangkat dari model eksistensi kita dalam beragama.

Akhirnya saya sampai pada suatu kesadaran bahwa intoleransi dan kekerasan beragama merupakan suatu masalah yang sangat kompleks. Saya bersyukur tidak berjalan terlalu jauh dan ikut meledakkan diri untuk mengejar syahid. Kalau memang dunia pendidikan bisa menyelamatkan saya, bagaimana dengan yang lain? Lagipula, seberapa efektifkah pendidikan melakukan deradikalisasi? mengingat Dr Anzhari yang pelaku teroris itu adalah lulusan Ph.D dari kampus ternama di Inggris.

Kalaupun masalahnya adalah ekonomi, bagaimana kita menjelaskan motif Osama bin Laden yang merupakan anak dari Kontraktor paling sukses di tanah Arab? atau yang dilakukan muda-mudi di Eropa barat yang kebanyakan berasal dari keluarga kelas menengah yang berbondong-bondong ke timur untuk berperang di sisi ISIS?

Sekali lagi tidak ada sebab tunggal atas fenomena ini. Yang kuceritakan ini hanyalah satu diantara sekian banyak pengalaman yang tidak bisa diselesaikan dengan satu obat. Apalagi bila obat itu bernama hukuman mati.

Sumber : Qureta

Saturday, March 3, 2018 - 14:00
Kategori Rubrik: