Bagaimana Nasib MUI Dibawah Kyai Mifttachul Akhyar?

Ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Terpilihnya KH. Miftachul Akhyar sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebetulnya sejak awal memang telah jauh diprediksi akan dipastikan naik untuk menggantikan KH. Ma'ruf Amin yang didapuk menjadi Wakil Presiden. Baik Kiai Ma'ruf maupun Kiai Miftah adalah Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kelihatannya kursi Ketua Umum MUI memang telah menjadi kesepakatan akan diberikan secara hormat kepada Rais Am PBNU. Sebetulnya bukan hanya sekadar hormat, ditinjau dari segi keilmuan, jelas-jelas Kiai Miftah sangat mumpuni.

Saya hanya ingin kilas balik. Betapa selama ini MUI merupakan lembaga tinggi perkumpulan ulama Indonesia yang paling sering mendapatkan bulan-bulanan. KH. Mustofa Bisri alias Gus Mus pernah melayangkan sindiran menukik kepada MUI. "MUI itu sebenarnya makhluk apa? Enggak pernah dijelaskan. Ujuk-ujuk (tiba-tiba) dijadikan lembaga fatwa, aneh sekali." Sindirannya tersebut dilontarkan tahun 2015 di akhir masa jabatan Prof. Din Syamsuddin. Kita tahu bahwa Ketua Umum MUI ini dipastikan dijabat oleh-oleh orang terpandang, sejak Buya Hamka sampai sekarang Kiai Miftah. Kalau tidak dari Muhamadiyah ya dari NU.

Saya merasa memahami sindiran Gus Mus itu, karena konon MUI merupakan buatan Orde Baru. Selain itu ternyata, formasi kepengurusan MUI merupakan kumpulan perwakilan setiap Ormas Islam yang ada. Tidak aneh jika kemudian di masa kepemimpinan setiap masanya, sekalipun MUI dipimpin oleh ulama yang alim, tetapi MUI justru sering kali blunder dan malah menjadi biang disharmonisasi antar agama dan aliran kepercayaan. MUI justru menjadi lembaga yang sering kali mengeluarkan fatwa-fatwa tidak perlu. Oleh karena itu, ketika Gus Mus dan banyak pihak menyindir dan membully MUI, Muhammadiyah dan NU-lah dua Ormas Islam yang mestinya paling bertanggungjawab.

Coba saja bayangkan. MUI selalu dijabat oleh para petinggi Muhammadiyah atau NU, tetapi banyak dari kader Muhammadiyah dan NU yang justru menyindir dan membully MUI. Sindiran maupun bully-an yang kerap mengemuka itu menurut saya kurang bijak. Mestinya disampaikan baik-baik kepada masing-masing kadernya, baik yang Muhammadiyah maupun NU. Jangan sampai MUI di bawah kepemimpinan Kiai Miftah tidak ada perubahan signifikan. MUI yang nantinya akan kembali mengulang kesalahan demi kesalahan. MUI yang gampang mengeluarkan fatwa sesat, sinis terhadap non Muslim, mencap haram selamat Natal, dan semacamnya.

Wallahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Sunday, November 29, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: