Bagaimana Menjadikan Indonesia Negara Maju

ilustrasi

Oleh : Eiwei Younora

Sebenarnya bukan tergantung dari siapa pemimpinnya. Tapi justru tergantung dari masyarakatnya. Tingkah laku dan sifat masing-masing masyarakat harus di ganti supaya bisa menjadi manusia-manusia yg bertanggung jawab dan bersikap terbuka serta punya integritias yang tinggi. Saling menghina antara Cebong dan Kampret tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

Kampret dan cebong kan sama-sama tinggal di Indonesia. Seharusnya kalian bersatu dan jangan mengharapkan kemajuan negara tergantung dari pemimpinnya saja. Kalau Kita mau maju, kita sebagai masyarakatlah yg harus merubah sikap. Misalnya: pilihlah wakil2 rakyat yg cerdas dan berintegritas serta kredibilitas yang kuat. Yang perduli akan keluhan rakyat. Yang bisa mencari jalan keluar dengan bermusyawarah dan mencari jalan tengah secara adil dan merata. Janganlah mimilih wakil rakyat yang malas, yang gila kedudukan dan kekuasaan lalu akhirnya tidak bertugas mewakili rakyat, bahkan akhirnya kerjanya hanya korupsi dan membohongi rakyat dan pemerintah.

Sebagai anak bangsa yang bertanggun jawab, jauhkanlah sifat-sifat malas dan tidak punya inisiatif. Kita harus belajar, belajar dan belajar. Belajar bukan berarti harus sekolah setinggi2nya. Belajar untuk menjadi cerdas banyak sekali cara2 nya. Diantaranya : Membaca atau menggali pengetahuan dari segi apapun entah itu dari segi perekenomian, sejarah, masalah dalam dan luar negeri, dan pandai memilah mana yang benar dan mana yang tidak. Dalam menambah pengetahun, beraktiflah dalam mengikuti seminar-seminar tentang ekonomi, komunikasi, keuangan, politik dalam dan luar negeri, kebudayaan, dan masih banyak seminar2 lainnya yg menguntungkan kita. Lalu kalau kita sudah punya pengetahuan, bagikanlah ide2 cemerlang yang kita punya kepada masyarakat di lingkungan kita misalnya : Bagaimana mengelola lingkungan bersih secara konsisten di daerah masing2, bagaimana hidup sehat, bagaimana cara berkomunikasi yang baik, bagaimana hidup bertoleransi dan masih banyak lagi cara2 bagaimana mendidik teman2 atau masyarakat sekitar kita yg tidak berpengetahuan tersebut untuk menjadi manusia2 yang cerdas.

Jadi seharusnya masyarakat tidak selalu tergantung mendengarkan ceramah2 dari Ustad 2 atau Ulama2 atau pastur atau dari pemimpin agama apapun saja yang kadang2 keyakinan spiritual banyak menghambat sikap toleransi dan menghambat wawasan pengetahuan dalam menjalani hidup bermasyarakat yang berasal dari bermacam2 suku, kebudayaan serta keyakinan beragama yang berbeda beda.

Masyarakat harus bisa membedakan mana kebutuhan spiritual dan mana kebutuhan dalam kehidupan bermasyarakat atau bersosialisasi dengan lingkungan.

Sebetulnya kehidupan bermasyarakat di Indonesia akan sangatlah indah dan harmonis, kalau masyarakat sudah tidak mempermasalahkan etnis dan suku dan agama lagi. Maka NKRI akan maju sangat cepat jika di huni oleh manusia2 cerdas dan berwawasan luas tanpa mempermasalahkan latar belakang agama tersebut.

Kalau sudah begini, maka ketika ada diskusi umum, masyarakat akan bisa di ajak berdiskusi dengan kepala terbuka dalam membahas berbagai macam masalah2 yang menghambat perkembangan di Indonesia. Masyarakat yang cerdas akan mulai berdiskusi bagaimana cara mengeluarkan pendapat2 atau gagasan yang cermerlang yang berguna untuk memajukan Negara Indonesia tanpa membahas isu2 agama sama sekali.

Urusan spiritual tidak perlu menjadi bahasan di muka umum. Cukup disimpan di dalam pribadi masing2 saja.

Jadi sudah jelas, sebetulnya untuk mempunyai negara yg maju tidak tergantung oleh pemimpin negara tapi tergantung dari tingkah laku dan sikap kita sehari2.

Jadilah generasi penerus yg mempunyai sikap dan mental yang intelektual dan berkualitas, yang akhirnya akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

Vancouver BC Oct21,2020

Sumber : Status Facebook Eiwie Younora

 

Friday, October 23, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: