Badanmu Boleh Sakit, Tapi tidak dengan Mental dan Hatimu

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Saya pikir ini catatan yang penting saya tulis. Insya Allah bermanfaat bagi siapapun. Bahwa manusia itu hidup senantiasa berpasangan atau bergantian, antara suka dan duka, sedih dan gembira, susah dan mudah, siang dan malam, lapar dan kenyang, cinta dan benci, demikian seterusnya, termasuk sehat dan sakit. Hidup di dunia memang begitu. Kalau kita tidak sehat ya sakit. Lalu kenapa harus ada orang yang sakit? Agar kita memahami betapa sehat itu mahal dan berharga. Lebih daripada itu bahwa sakit dan sehat itu merupakan kuasa Allah. Dokter, tabib, paranormal dan siapapun itu yang dipercaya bisa mengobati pun, mereka pasti akan merasakan sakit. Iya nggak?

Maka jika ada yang sampai hari ini sedang sakit, sepenuh hati saya mendoakan, semoga Allah berkenan menyembuhkan dan mengangkat penyakitnya. Saya sangat yakin jika segala penyakit pasti ada obatnya. Oleh karena itu, daripada kita meratap, menyalahkan keadaan, mengkambinghitamkan orang lain, melayangkan sumpah serapah yang tak keruan, mending kita koreksi diri. Manfaatkan waktu sakitmu, sebagai momen titik balik agar kamu bisa lebih dewasa dan bijak lagi dalam menjaga kesehatan dan umumnya menjalani kehidupan.

Kamu juga tidak perlu menyebarluaskan informasi sakitmu ke mana-mana, lebih-lebih media sosial bahwa kamu sedang sakit yang butuh belas kasihan. Nggak perlu. Jalani, nikmati dan hayati agar sakitmu, menjadi penggugur dosa. Ingat baik-baik pesan saya yang satu ini: sakitnya orang beriman adalah nikmat, sementara sakitnya orang yang tidak beriman itu penderitaan, malah bisa jadi laknat. Bisa jadi dengan sakitmu, bisa membuatmu semakin dekat dengan Allah, lebih ingat keluarga. Barang kali selama ini kamu terlalu sibuk, sombong dan memporsir aktivitas.

Ada yang lebih penting dari sekadar sakit atau tidak, yakni bersyukur. Bahwa badanmu boleh sakit, tetapi tidak dengan mental dan hatimu. Sebab betapa banyak orang yang badannya sehat, uangnya banyak, terkenal, jabatannya tinggi dll, tetapi mental dan hatinya sakit. Tidak akan pernah ada ujungnya, kalau kita meratap dan menyesali perbuatan, apalagi kamu sampai menyalahkan keadaan. Biasanya di kala sakit itu kita akan mudah ingat kepada Allah. Nah di situ, segera minta ampun kepada Allah, jangan malah "petengtengan." Semakin rendah hati dan meminta maaf kepada siapapun yang barang kali selama ini pernah tersakiti hatinya.

*Insya Allah akan berlanjut ke bagian 2

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Saturday, July 4, 2020 - 15:15
Kategori Rubrik: