Badai Ketidakpastian

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Dapat surat dari Kecamatan, saya diminta menutup workshop sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebab tidak ada keterangan di surat itu, sampai kapan harus ditutup. Kita harus paham, dalam kondisi seperti ini, kepastiannya adalah ketidakpastian itu sendiri. Kita harus pandai menerjemahkan keadaan.

Padahal memang dari minggu lalu workshop sudah saya tutup. Dan model bisnis seperti saya, karyawannya tidak bisa kerja di rumah. Kerja di rumah berarti produksi berhenti. Bararti tidak bisa menghasilkan apa-apa.

 

Sementara kita masih terus berjibaku bagaimana memenuhi kewajiban. Karyawan harus menangung biaya buat anak istrinya. Buat biaya hidup. Dan pengusaha harus menanggung semua karyawan plus biaya untuk dirinya sendiri. 

Karyawan saya jumlahnya tidak sampai 20 orang. Itu juga bukan hal mudah. Ketika produksi berhenti, kita tidak bisa begitu saja menghentikan gaji mereka. Dan sebentar lagi lebaran. Wajib siapkan THR.

Saya membayangkan pengusaha yang karyawannya ribuan. Bagaimana mereka bisa keluar dari badai ini? Bagaimana mereka bisa menjalankan usahanya saat cashflow mandeg? Saat tagihan mandeg karena klien juga mengalami suasana terjepit. Dan apa yang kini sedang mereka pikirkan?

Jika mereka terpaksa PHK karyawannya juga bukan persoalan mudah. Karena UU mengharuskan menyiapkan pesangon. Padahal duit lagi cekak.

Apalagi jika dalam suasana terjepit begini karyawannya ngeyel. Bikin demo dan ancaman. Seperti ulah Said Iqbal yang mau mengerahkan 30 ribu buruh ke jalan. Benar-benar ngehek seruannya. 

Walhasil butuh mental baja menjadi pengusaha dalam kondisi seperti ini. Saya punya banyak teman, yang kini sedang menjajakan aset pribadinya untuk bayar gaji karyawan. "Broh, mereka selama ini telah membantu usaha gue. Dalam kondisi seperti ini, gue harus berjuang agar mereka bisa dapat gaji. Jika perlu semua aset pribadi akan gue lepas, untuk bayar gaji karyawan," ujarnya.

"Insyallah, nanti suasana akan mereda. Dan Allah sudah siapkan gantinya," ujarnya lagi dengan nada optimis. 

Sebetulnya paling mengerikan bagi pengusaha adalah ketidakpastian! Pegangan pengusaha adalah kepastian. Apapun kondisinya asal ajeg, kita masih bisa berfikir bagaimana jalan keluarnya. Misalnya, pengusaha lebih suka nilai tukar yang stabil meski tinggi, ketimbang fluktuatif dengan range yang lebar.

Tapi ada harapan. Ekonomi Indonesia sebetulnya 80% digerakkan oleh konsumsi domestik. Ketergantungan dengan pihak luar hanya 20% saja. Artinya jika suasana sudah mereda sedikit, geliatnya akan lebih cepat dibanding negara yang melulu mengandalkan pihak luar. Itu salah satu kekuatan ekonomi kita.

Dalam kondisi ketidakpastian tidak ada rencana logis yang bisa dijalankan. Yang tersisa hanyalah intuisi dan mental yang sehat.

Saya percaya mental yang sehat yang akan menentukan kita bisa survive atau tidak dalam segala ketidakpastian. Mental sehat ditandai dari cara pandang yang melulu melihat sisi positif dari segala keadaan.

Ketika ada masalah, yang pertama dipikirkan bukan mencari siapa yang salah. Tetapi yang pertama dipikirkan adalah bagaimana jalan keluarnya. Itu dulu yang harus dicari. 

Setelah menemukan jalan keluarnya, baru pelan-pelan dicari siapa yang bertanggungjawab dan bagaimana treatmentnya. Ini semacam pola berfikir yang harus dianut siapa saja yang ingin hidupnya lebih sehat.

Sebab berkutat dengan masalah tanpa memikirkan jalan keluarnya sama saja bohong. Yang ada hanya menyangkalan, penghukuman atau malah berkutat di labirin yang tidak ada habisnya. 

Tapi masalahnya bagaimana mencari jalan keluar dari ketidakpastian? Itu yang tidak mudah.

Dalam kondisi begini, saya percaya, yang membedakan mereka yang survive dan yang akan terus tenggelam adalah pola pikir. Bagi orang yang pola berfikirnya sehat, ia akan bisa menghadapi semuanya dan cepat keluar dari tekanan yang menyesakkan. Sedangkan mereka yang irrasional, mental pengerutu, dan sibuk dengan pikiran negatif akan mati tenggelam.

"Mas, usaha minyak telon saya kayaknya terpaksa PHK karyawan," ujar Abu Kumkum. "Masalahnya bosnya ya aku sendiri dan karyawannya cuma aku sendiri. Kalau suasananya begitu, saya perlu bayar pesangon gak mas?"

Mbuhh, Kum. 

"Bambang Kusnadi sih, enak. Dia jualan bubur. Pesangonnya dibayar dengan bubur. Makanya sekarang tiap hari dia makan bubur buatannya sendiri."

"Kamu minum minyak telonmu aja, Kang," timpal Bambang Kusnadi. 

Ah, teman-temanku pengusaha liat yang gak mati-mati ini. Mereka seperti kecoak. Selalu punya kemampuan adaptasi dalam segala kondisi.

 

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Thursday, April 9, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: