Baca Al Qur'an Membosankan, Apakah Saya Munafik?

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Ada pertanyaan jadi seorang jamaah ke WA saya, dia mengadu bahwa dia merasa dirinya telah jadi munafik. Hal itu karena setiap kali membaca Al-Quran, kok tidak ada pengaruhnya apa-apa. Tidak bertambah iman, juga tidak tambah semangat, malah cenderung boring dan membosankan. Baru juga dapat 1 halaman sudah bosan.

Saya jawab santai, sebenarnya bukan hanya ente doang yang merasakan itu, saya pun juga merasakan hal yang sama, baca Quran itu bosan dan bikin ngantuk.

Ah, yang benar, Ustadz? Masak sekelas antum kayak gitu juga?

Iya, saya mengalami yang antum alami juga. Baca Quran itu membosankan, boring dan malah bikin ngantuk.

Lalu gimana caranya biar nggak mengalami kayak gitu?

Sederhana sih, kenapa kita jadi boring, bosan dan ngantuk? Karena ayat yang kita baca itu terlalu banyak alias kebanyakan. Nggak usah banyak-banyak yang penting berkesan.

Lalu ditambah lagi masalahnya, yaitu kita juga nggak paham makna, arti, tafsir dan kandungan ayat yang kita baca. Masalahnya sempurna sudah.

Nah, iya tuh ustadz, benar sekali. Saya ini baca Quran memang nggak paham sama sekali apa yang saya baca.

Beda sekali dengan para shahabat dulu ketika mereka menerima ayat-ayat Quran dari Nabi SAW. Setiap ayat itu punya kisah tersendiri yang begitu mengesankan di hati.

Kalau ada orang baca satu ayat, lalu tiba-tiba dia menangis, karena ayat itu seperti membangkitkan memory tersendiri di masa ketika turunnya ayat itu di masa kenabian.

Memang para shahabat ini unik sekali, di masa mereka itulah ayat-ayat itu turun, kadang juga menjawab masalah mereka sendiri. Jadi ada semacam chemistri dengan tiap-tiap ayat.

Wajar kalau di masa berikutnya, tiap baca satu ayat mereka nangis dan berhenti. Ini ngangis karena haru, bukan hanya sekedar tahu isinya, tapi ikut terlibat di dalamnya.

Beda sekali dengan kita, mungkin kita tahu arti tiap ayat lewat terjemahan, tetapi kita tidak punya chemistri dengan ayat-ayat itu. Seolah ayat-ayat itu lewat begitu saja, karena dikejar target harus sekali baca sekian juz.

Itulah yang membuat kita dengan Al-Quran kayak tidak mengalami chemistri apa-apa, akhirnya jadi boring, bosan, dan ngantuk aja bawaannya.

Lalu gimana dong solusinya?

Meski sekarang sudah tidak ada lagi ayat yang turun ke bumi, namun semua kisah bagaimana turunnya ayat itu masih terekam dengan jelas. Dalam suasana apa ayat itu turun, untuk apa, apa kandungannya, dan bagaimana kesudahan kisahnya, tentu semua masih terekam dengan baik.

Siapa saja yang mengikuti kisah-kisah turunnya Al-Quran di masa kenabian, tentu dia juga akan ikut terlibat dan mendapatkan chemistrinya.

Rekamannya ada dimana?

Ya di kitab-kitab tafsir para ulama. Maka mengaji tafsir yang baik itu tentu saja bukan sekedar memaknai ayat kata per kata, apalagi hanya makna harfiyahnya saja. Belajar tafsir itu harusi bicara juga [1] asbabunn-nuzul, [2] munasabah, [3] siyaq, [4] kandungan hukum serta [5] hikmah-hikmahnya.

Kalau rutin kita belajar tafsir hingga selesai 30 juz, maka tiap baca satu ayat, dijamin kita punya chemistri yang kuat. Tidak akan boring, bosan apalagi mengantuk.

Malah ayat itu akan terus kita senandungkan tiap waktu. Shalat pun kita baca, karena kita tahu ceritanya.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, April 8, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: