Babi Dan Produk Halal

ilustrasi

Oleh : Anick Ht

Mengikuti beberapa status Monique Rijkers tentang ditutupnya warung/restoran yang menjual makanan berbahan daging babi di Mall Pipo Makassar, saya merasa harus lebih banyak orang yang menanggapi kelucuan dan ironi Indonesia ini.

1. Negara ini menjamin setiap penduduknya untuk bisa menempati setiap inci wilayah di seantero negeri, berpindah ke tempat lain, atau kembali ke tempat asalnya. Ini prinsip konstitusional. Jadi tidak ada wilayah yang bisa dikavling berdasarkan identitas dan agama tertentu. Jadi, jika tidak tepat ketika warung mengandung babi di Makassar ditutup hanya karena “kesan” bahwa Makassar adalah kota Islam.

2. Atas nama sipakainge atau sipakainga (adat Bugis Makassar yang berarti saling mengingatkan), sekelompok orang yang mengatasnamakan Aliansi Jaga Moral Makassar itu mendorong penutupan warung tersebut, dan berhasil. Dalam banyak kasus seperti ini, mendorong atas nama kelompok dengan label agama atau “moral” di belakangnya seringkali sama artinya dengan “menuntut”, “meneror”, sehingga piihak yang menjadi sasaran dorongan itu tersandera oleh mobokrasi semacam itu. Dalam hal seperti ini, seharusnya aparat pemerintah bertindak dan turun tangan, bukan untuk membela penuntut tak masuk akal itu, tapi untuk melindungi hak konstitusional warganya.

3. Kasus ini menunjukkan bahwa tidak ada gunanya label halal diterapkan, jika yang haram tidak boleh dijual. Saya kira spirit UU produk halal adalah untuk melindungi umat (Islam) agar tidak keliru membeli sesuatu yang “diharamkan”, bukan melarang yang “diharamkan” itu dijual dan dikonsumsi oleh orang lain. Yang hendak dipastikan oleh UU itu bukanlah melarang orang menjual kotoran kuda (dalam bentuk pupuk kompos), tapi melarang orang melabeli kotoran kuda sebagai kacang atom. Artinya, jika babi dianggap haram, yang dilarang adalah melabeli daging babi dengan label halal, sementara menjual daging babi untuk orang yang tidak mengharamkannya, tentu boleh.

4. Mungkin Aliansi Jaga Moral Makassar itu ingin melindungi umat Islam Makassar dari salah beli, salah makan, atau tergiur makan. Nah, jika logika ini dipakai, ini seperti halnya Anda sedang berpuasa, lalu mengusir siapapun yang membawa makanan di depan Anda, meskipun mereka gak puasa. Sedangkal itukah iman kita?

5. Nah, Das'ad Latif yang dikutip Monique Rijkers ini (mohon ijin saya sertakan fotonya Kk..) ternyata adalah Doktor Ilmu Komunikasi dan Doktor Ilmu Syariah dan Hukum Islam. Percayalah, dua ilmu itu mensyaratkan, atau menelorkan akademisi yang ngerti bahwa teks atau hukum itu punya gradasi yang sangat lebar, tidak hitam putih. Dan tentu, seorang Doktor (or Double Doktor) sudah pasti tahu bahwa hukum yang berlaku di negeri ini bukan hukum syariah (yang juga tidak hitam putih itu).

6. Soal Aliansi Jaga Moral Makassar. Maaf, saya nggak tahu apa artinya moral yang harus dijaga itu. Lihatlah cara pandang dia tentang poligami dalam salah satu postingannya itu. Perlu ada perdebatan serius soal moral ini.

7. Terakhir, anggap aja ini bagian dari sipakainge (saling mengingatkan)...

Mohon pencerahannya para permisah...

Sumber : Status Facebook Anick Ht

Thursday, August 1, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: