Babad Dipanegara dan Jejak Khilafah

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Belum selesai membaca buku "Kerajaan Islam Pertama di Jawa" karya De Graaf dan Pigeaud, apalagi baca "Babad Tanah Jawi" karya Olthof, eh kok muncul buku "Babad Dipanagara" karya Pangeran Diponegoro sendiri edisi terbaru 2019. Maka sementara beralih ke buku ini.

Di halaman awal menarik, karena saya baru ketemu kisah atau cerita zaman kecilku di buku bergambar era dahulu untuk anak kecil yang rujukan paling awal belum saya ketahui. Contohnya di buku ini, Pangeran Diponegoro mengisahkan tentang Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan dengan anaknya yang bernama Dewi Nawangsih (terlepas mitos) tapi ternyata saya menemukan rujukan awalnya di buku ini, bisa jadi ada buku lebih lawas yang mengisahkan tapi belum saya tahu).

Hal yang juga menarik, dalam buku ini disebut tentang para sunan seperti Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Ngudung, Sunan Bonang, Sunan Gunungjati dan Sunan Kalaijaga. Artinya Pangeran Diponegoro bukan orang Wahaboy yang tidak mempercayai para wali di tanah Jawa.

Bahkan juga cerita bagaimana Sunan Kalijaga atau Raden Sahid mau merampok Sunan Bonang lalu ditunjukkan buah emas dari pohon enau hingga kisah Sunan Kalijaga disuruh bertapa sampai badannya kayak mayat (mumi) tinggal tulang dan kulit.

Tidak kalah menarik, kata "santri" beberapa kali disebut oleh Pangeran Diponegoro. Inilah rujukan kata santri yang saya tahu paling awal, sekali lagi yg saya tahu. Sebelumnya saya tahu tentang penjelasan santri dari karya Zamakhsyari Dhofir dalam buku "Tradisi Pesantren" atau Nurcholis Madjid lewat buku "Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan".

Lalu Masalah khilafah bagaimana? Saya belum selesai membaca buku ini, di halaman awal tidak disinggung masalah khilafah. Tapi diandaikan, sekali lagi diandaikan ada penjelasan jejak tentang khilafah, lalu apa implikasinya bagi kita? Tentu tidak ada implikasi apa-apa.

 

Kalau bicara jejak dinasti atau kerajaan luar di Nusantara, banyak ada jejak. kaisar Khubilai Khan dari Mongol, negara Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Jepang dan mungkin negara atau kerajaan lain pernah punya jejak di Nusantara. Semuanya tidak ada implikasi imperatif alias wajib menerapkan atau meniru model sistem dinasti atau kerajaan yang pernah punya jejak di Nusantara. Tidak ada kewajiban.

Kalau pecinta eks HTI bilang, khilafah tidak menjajah, maka bisa saya katakan Khubilai Khan juga tidak menjajah.

Kalau penggila eks-HTI berkata bahwa khilafah Turki membantu kerajaan di Nusantara. Maka kalau benar membantu apa harus meniru? Betapa banyak negara modern bahkan negara Barat yang membantu Indonesia. Apakah kita wajib meniru mereka?

Maka bicara jejak negara luar di Nusantara ya hanya jejak, bila itu benar ada jejak. Tiada yang perlu ditakuti atau diikuti. Jejak yang perlu ditakuti adalah jejak digital, bila itu jejak buruk.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Sunday, August 9, 2020 - 16:45
Kategori Rubrik: