Azab, Corona dan Ibnu Sina

Oleh: Muhammad Ilhan Fadli

 

"Azab-kah virus Corona itu ?", demikian tanya seorang kawan. 

Tak usah kita berdebat di wilayah konsep itu. Apakah azab. Apakah Ujian. Apakah Musibah. Apakah kesengajaan dan seterusnya. Manusia itu makhluk simbolis. Makhluk yang (juga) dipenuhi oleh makna dan penafsiran yang biasanya "hadir" karena faktor-faktor tertentu. Faktor ideologis, faktor sosiologis, faktor historis ... bahkan faktor teologis. Faktor-faktor itu biasanya tak sama antara seorang manusia dengan manusia lainnya. Karena itu, penafsiran terhadap sebuah konsep antara seorang manusia dengan manusia yang lainnya, tidak tunggal. Berbeda. Bahkan tak jarang, konsep yang digunakan oleh satu pihak, seperti "dipaksakan" kepada pihak lain, agar sama. Dikonstruksikan agar tak beda. Sependapat dan sejenisnya. Dalam konteks hermeneutika, dikenal asumsi, "jangan cari arti sebuah kata, tapi pahami bagaimana kata itu difungsikan !". Maka, siapa yang memfungsi-menggunakan kata itu ? ... Siapa yang berkepentingan dengan kata itu ? ..... siapa yang dirugikan dan diuntungkan dengan narasinya ? ..... dan seterusnya. Demikian dengan konsep Azab. Demikian pula dengan konsep Ujian/Cobaan. Bahkan, kata Banjir juga bisa kita lekatkan dengan asumsi ini. Ada yang bilang Azab (langit), pun ada yang mengatakan sebagai berkah (langit).

 

"Lalu ... ?"
Kita gunakan saja konsep musibah kemanusiaan. 
Karena kita bukan Tuhan, bukan pula malaikat, tapi manusia, maka lebih baik kamu pandang mereka yang terkena musibah tersebut sebagai manusia pula. Sebagai sahabat. Bukan memandang mereka sebagai bukan manusia. Bukan sebagai lawan. Ketika kita memandang orang-orang yang terkena musibah di China dan (kini : Korea Selatan) sebagai sahabat, sebagai manusia .... maka kita akan melakukan tugas-tugas kemanusiaan kita. Bagi mereka yang memiliki kemampuan keilmuan dan keuangan, tentunya akan membantu dengan ilmu dan donasi mereka. 

Sementara kita ? 
Bantu dengan do'a dan harapan. Bukan cacian dan rasa gembira bersangatan. Bak kata ahli hikmah, "bila kau tak sanggup menjadi pohon kehidupan yang memberi buah dan keteduhan, setidaknya jangan jadi benalu !". 

Do'akan mereka bisa mengatasi musibah ini. 
Do'akan mereka bisa sehat sedia kala
Dan ... yang terpenting adalah, do'akan para ilmuan-ilmuan mampu menciptakan anti virus Corona, hngga kelak, anak cucu kita bisa menghadapi dunia ini dengan siap tanpa ketakutan.

Ada pihak-pihak yang "gembira" dengan musibah itu. 
Tidakkah mereka sadar, kita tidak hidup dalam tembok yang bisa menghambat penyebaran virus. Meminimalisir mungkin, tapi siapa jamin, beberapa tahun ke depan, virus itu tak mengucapkan kata-kata kepada kita, "I'am Coming .... bro and sista !".

Tidakkah mereka sadar virus itu bukan hanya dikhususkan oleh Tuhan untuk komunitas dan pemeluk agama tertentu saja, tapi juga diperuntukkan bagi mereka yang tidak siap dengan antisipasi ? .... antisipasi yang terukur berbasis kerja ilmiah. 
Maka ......... "bila takut anakmu dilanda ombak, jangan tembok kau bangun disepanjang pantai .... tapi ajari anakmu itu berenang !". Orang yang mampu berenang, biasanya berpotensi besar untuk mampu bercengkerama dengan ombak. Bahkan menjadi hobbi. Menyehatkan. Bisa mendatangkan uang bila dilakukan dengan serius serta berbasis kompetensi dan profesionalitas. 

Salah satu antisipasi itu adalah ...... berharap agar secepat mungkin para ilmuan menemukan anti virusnya. Biarlah nanti yang menemukannya itu orang Kutub utara, ilmuan dari Kutub Selatan, Kutub Barat, Kutub Timur (bila ada), Kutub Tengah .... atau alien sekalipun. Bila itu terjadi, kita akan bahagia. Dengan penuh takzim, kita (selayaknya) mengucapkan terima kasih.

Dalam film Pshysician, Beberapa segmen mengisahkan kehidupan Ibnu Sina (Avissena). Film yang diangkat dari Novel karya Noah Gordon, “Der Medicus" ini, salah satunya menceritakan bagaimana Ibnu Sina (diperankan Ben Kingsley) dan murid-muridnya (dengan fokus pada seorang murid pemuda Inggris Kristen, bernama Robert Cole/diperankan Tom Payne) ..... yang berasal dari berbagai agama (Islam, Kristen, Yahudi, Zoroaster) dan berbagai suku bangsa, bahu membahu melakukan kerja ilmuan/medis berbasis riset untuk mengatasi musibah Pes (Black Death) yang menjangkiti Isfahan, ibu kota Kerajaan Persia. Isfahan yang dilindungi benteng kokoh, tetap tembus oleh wabah Pes dimana Bani Seljuk mengirim seorang budak yang terjangkiti penyakit Pes. Satu orang, dalam waktu singkat, mampu menjangkiti ribuan orang bak tentakel gurita. Benteng kokoh jebol. Bani Seljuk yang ingin menjatuhkan Shah Ad-Daula, melakukan hal ini karena sadar, kekuatan militer mereka tak bisa mengalahkan Persia. Moral masyarakat Persia runtuh, khususnya di Isfahan. Wabah Pes menjadi menakutkan. Bak malaikat maut. Para kaum agamawan yang benci dengan Shah Ad-Daula terus memrofokasi masyarakat dengan membangun narasi, "wabah penyakit ini sebagai bentuk bala dan azab dari Tuhan karena kedzoliman Shah/Sultan". Sedangkan Ibnu Sina bersama-sama dengan murid-muridnya, terus bekerja tanpa mengenal lelah. Beberapa eksperimen mereka lakukan. Mengobati dan melakukan riset. Mengobati dan terus melakukan riset. Riset. Riset ........ sampai pada akhirnya, Isfahan dinyatakan bebas dari Pes. Lalu, kaum agamawan berkata, "ini adalah kebaikan dari Tuhan, tapi hanyalah sementara, nanti akan datang kembali wabah seperti ini ?". Tuhan mereka "hadirkan" sebagai Maha Pemarah. Mereka memprovokasi. Mereka tak memberi optimisme. 
Sedangkan Ibnu Sina, justru menghadirkan optimisme. Memberikan kesiapan. Antisipasi. "Mengajarkan masyarakat untuk mampu berenang". 

Semoga, kelak, Corona akan menjadi catatan sejarah, dimana pada suatu fase kehidupan ummat manusia, ada episode menakutkan. Seperti kisah "Black Death" bagi orang Eropa. Corona (hanya) menjadi cerita "kelam" kisah historis kehidupan manusia. Seumpama musibah Cacar dan Lepra serta Flu, tempo dulu ... yang pernah menghantui kehidupan manusia. Sekarang, penyakit itu, sudah dianggap biasa ... bisa ditangani semaksimal mungkin. Nanti, Corona demikian pula hendaknya. Anak cucu kita, cukup membeli pil anti Corona, di kedai-kedai pinggir jalan dalam bentuk Pil Tablet. 

Nanti, di generasi yang akan datang :

"Buyung ........ beli kan Emak pil Corona ?"
"Kena Corona pula Emak ?"
"Iya ...... biasa. Setelah minum pil, Emak akan sembuh. Ayahmu kemaren, juga kena. Minum 2 tablet .... sekarang udah ketawa-ketawa di kedai sebelah !". 

Semoga para ilmuan secepatnya mampu menghadirkan anti virus Corona ini. 

"Doakan lampu tetanggamu, niscaya pekaranganmu akan terang !", demikian pepatah Persia memberikan kearifan. 

Salam Jum'at

 

(Sumber: Facebook M. Ilham Fadli)

Friday, February 28, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: