Ayolah, Kita Bisa Hidup Normal Lagi Dengan Atau Tanpa Masker

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Wajib masker di manapun kapanpun yang diterapkan di Indonesia didasari keyakinan bahwa OTG atau asimtomatik adalah orang yang terinfeksi dan menularkan. Patokannya adalah hasil uji PCR swab nasofaring orofaring serta uji RT antibodi.

Padahal, hasil uji PCR hanya menunjukkan ada atau tidak adanya virus di tempat swab berdasarkan kecocokan dengan potongan virus pada primer. Artinya, virus yang terdeteksi bisa jadi virus utuh maupun sudah lisis.

Hal tersebut meski nilai CQ nya tinggi, karena virus yang sudah diinaktifasi nilai CQnya bisa sama dengan virus yang sama tetapi tidak diinaktifasi.

Sedangkan uji antibodi menunjukkan kekebalan tubuh. Antigen yang masuk ke dalam tubuh juga dapat membuat antibodi bereaksi meskipun tidak menginfeksi.

Artinya, sakit tidaknya seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari hasil uji swab saja, hasil RT antibodi saja, atau kombinasi keduanya. Tetapi juga harus dilihat kondisi fisiknya, gejalanya.

Jika tidak ada gejala, kondisi fisik sehat, ya dia sehat meskipun hasil uji swab positif dan antibodi reaktif. Hal itu bisa jadi yang reaktif IgG, bisa jadi perlu uji RT antibodi ulang, atau antibodi dapat mengendalikan virusnya.

Akan tetapi, mayoritas masyarakat di Indonesia, bahkan termasuk nakes, belum bisa memahami hal tersebut. Mereka lebih nyaman dengan masker.

Baiklah, pakai masker kita demi aktifitas normal. Asalkan warung toko dan restoran bisa buka dengan normal. Asalkan pariwisata, perkantoran dan sekolah bisa berjalan normal. Normal, tanpa batas. Cukup dengan pakai masker.

Tapi faktanya, pakai maskerpun sekolah masih harus di rumah. Beli makan di restoran masih harus dibawa pulang. Seniman belum boleh bebas pentas. Pariwisata masih dibatasi. Orang harus di rumah saja, keluar hanya seperlunya.

Ayolah... Wuhan sudah hidup normal tanpa masker. Padahal belum vaksin. Hanya mengandalkan zero case. Padahal, katanya kita bisa terinfeksi ulang ya kan....

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Monday, October 19, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: