Ayo Reshuffle Kabinet, Pak Presiden

ilustrasi

Oleh : Lantip Wicaksono

Melihat perkembangan kondisi negara saat ini memang butuh orang-orang kuat. Tentu saja yang paling penting menimbang kemampuan para menteri di era yang serba penuh tantangan seperti sekarang. Para menteri yang terpilih pada Oktober 2019 dipilih disaat kondisi normal, bukan hanya belum terpetakan ada tantangan pandemi Corona namun juga dampaknya ke berbagai sektor yang dibawahi oleh para menteri. Tidak hanya meneteri kesehatan, menteri pariwisata, menteri tenaga kerja, menteri pendidikan dan menteri lainnya.

Artinya bisa jadi para menteri sedang dilihat apakah bekerja 150% lebih keras dibandingkan sewaktu kondisi normal seperti biasanya. Tanpa effort lebih, maka penanganan negara dalam mengatasi efek Corona tidak makin melebar kemana-mana. Bisa jadi kemarahan presiden saat bulan Agustus kemarin jadi signal atau semacam tantangan pada bawahannya apakah siap bekerja luar biasa tidak? Bila hanya bekerja sesuai seperti biasanya maka rakyat bakal menanggung akibatnya.

Sudah banyak negara yang karena ketidakmampuannya bekerja secara ekstra keras terperosok. Baik pertumbuhan ekonomi negara minus, namun juga resesi, pertambahan suspect corona bertambah cepat namun juga kerusuhan. Di Israel, Benyamin Netanyahu didesak rakyatnya untuk segera atasi krisis. Di Amerika, rakyat menuntut Trump tidak melakukan pembatasan apapun. Di India, konflik horisontal terjadi dimana-mana.

Tanpa kemampuan menteri yang cakap maka Indonesia bisa secara perlahan terperosok dalam jurang yang dalam. Setidaknya hingga 6 bulan wabah Corona, secara umum masih baik-baik saja.

Kita tak akan ragu Presiden mampu melakukan pergantian menteri bila memang dianggap kurang keras usahanya. Selama ini di periode pertama jika memang tidak terlihat serius ya ganti. Bahkan sekelas Anies Baswedan dan Rizal Ramli saja bisa diganti tanpa beban. Padahal siapa yang tidak tahu kapasitas mereka? Atau politisi-politisi beken macam Imam Nachrawi serta Idrus Marcham juga dengan mudah diganti karena terbukti tersangkut kasus korupsi.

Bahkan publik yang melihat kinerja Ignasius Jonan maupun Susi Pudjiastuti juga tak terpilih dalam kabinet Jokowi yang kedua. Ini menandakan bahwa Presiden tidak punya beban, bekerja secara profesional, melihat kebutuhan lapangan dan memilih orang yang lebih tepat. Bahkan dalam beberapa survey disebut 7 dari 10 orang menghendaki ada pergantian kabinet supaya krisis pandemi saat ini segera tertangani dengan baik. Problem yang dihadapi presiden sebenarnya bukan hanya penambahan suspect Covid 19, namun juga sumber dana yang ada mampu mempertahankan kinerja ekonomi dan juga masyarakat kecil tidak menerima dampaknya makin parah.

Masyarakat menunggu, apakah Presiden akan mengganti menterinya atau mereka harus melakukan terobosan sesuai kewenangannya agar dampak Corona tidak menggerus atau merambat sektor yang lain. Kita lihat beberapa minggu ke depan. Jika ada sebuah sektor keteteran dalam bertahan bisa jadi reshuffle akan dilakukan. Namun bila mampu membenahi bahkan kinerja meningkat ya tidak perlu ada reshuffle.

Saturday, August 1, 2020 - 17:00
Kategori Rubrik: