Ayo Njajan dan Blonco

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Gambar judul ini, saya seneng sekali. Dan sangat setuju. Bener ndak Gus Baha yang 'dawuh', saya belum jelas. Meski dari redaksi-nya tidak terbaca, namun dari 'isi' dan 'ide'-nya memang terasa Gus Baha banget. Yang tak jarang 'liar', nurut saya. Kayak Gus Dur dulu . . .

Memang sedekah 'biasa' ndak boleh ? Ya bole-bole saja. Dianjurkan, malah wajib dalam kondisi tertentu. Namun paling ndak, nurut saya, ucapan Gus Baha itu bisa sedikit njawab apa yang selama ini terpikir.

Kadang saya agak bingung untuk memberi sedekah 'biasa'. Pikir saya, 'Apa nanti dia ndak tersinggung ?'

Sering saya iringi dengan kalimat, misal, 'Buat tambahan beli kopi, Pak,' Atau, 'Titip buat jajan anak-anak,' Atau yang lain, yang ringan-ringan. By the way saja. Justru untuk nutupi rasa rikuh saya . . .

Mungkin karena saya dulu sekali berasal dari keluarga sederhana, kalau ndak bole disebut miskin. Namun punya gengsi 'orang kaya'. Sedikit sombong. Ndak mau dikasihani . . .

Nah, sekarang jadi kayak begini hasilnya. Mau beri, niat sedekah saja jadi muter-muter, mbulêt dulu . . .

Jadi sering juga saya beri pekerjaan apa saja, potong dahan pohon, bersihkan teras atas, gali lubang buat nanam, siram tanaman, atau yang lain. Yang sebenarnya bisa saya kerjakan sendiri.

Cuma cari cara bagaimana bisa memberi tanpa membuat saya, bukan orang lain, jadi rikuh. Minimal agak sedikit berkurang . . .

Di era New Normal ini juga begitu. Kami, saya dan Nyonya segera 'budhal'. Njajan makan dan minum di kedai-kedai langganan kami. Muter terus dari satu ke tempat yang lain.

Tentu saja masih ketat jalankan 'protokol' kesehatan. Namun bisa buat ekonomi bisa lagi berjalan. Bukankah itu inti dari New Normal ?

Jika dI era PSBB, kami hanya bisa onlan-onlen, sekarang bisa bergerak lebih leluasa. Pasar lebih terbuka. Pilihan jadi lebih banyak. Potensi uang berputar juga lebih cepat dan besar . . .

Tempohari kami berdua pergi ke sebuah Mall, di bilangan Jakarta Selatan. Kami pilih hari kerja untuk hindari banyak orang.

Setiap lewat depan atau masuk ke dalam 'tenant', baik pakaian maupun makanan, nampak sekali para SPG dan Pelayan, begitu sopan menyapa. Seakan begitu berharap agar kami jadi 'Penglaris'. Setelah 3 bulan vakum ndak jualan. Sungguh bikin hati kami trenyuh.

Di mall itu kami sempatkan njajan. Pakaian dan Makan-minuman. Alhamdulillah. Sedekah kata Gus Baha . . .

Tapi memang kalau dipikir-pikir benar juga. Kami berdua kan juga 'Pedagang'. Kalau ndak ada yang kirim 'sedekah', beli dagangan kami, ujung2nya ya buruh dan karyawan kami PHK. Mereka ndak punya lagi sumber penghasilan. Terus buat mereka beli beras, bayar sekolah anak, bayar listrik, pakai uang dari mana . . . ?

Jadi kami juga butuh 'sedekah' . . .

Tadi pagi kami berdua olahraga jalan kaki. Dalam kompleks tetangga. Enak disitu sepi kendaraan riwa-riwi, ndak seperti di kompleks saya.

Di satu titik, kami bertemu dengan seorang Ibu yang naik sepeda. Di boncengan ada box dingin warna merah. Jualan minuman atau apa sebutannya. Probiotik. Konon terkandung 'bakteri' yang berguna dan menyehatkan.

Dalam botol-botol kecil. Merek agak ternama. Pakai tag 'Cintai Ususmu'. Kami beli 2 pack @ 5 botol.

Keren perusahaan ini. Tas kresek pembungkus-nya saja biodegradable. Bisa terurai, akrab lingkungan. Dan, ini yang menarik dan mesti selalu saya ingat perhatikan, si Ibu Penjual selalu beri 'bonus' doa untuk para pembelinya.

'Moga-moga selalu sehat, Bapak, Ibu . . .'

Jadi waktu kami berdua duduk di tempat teduh, istirahat. Sambil kurangi dahaga dengan minum si 'Probiotik, ada banyak yang saya terima dan lakukan.

Rasa haus dahaga berkurang mestinya. Secara 'makro', bikin roda ekonomi berputar. Usaha dan perusahaan orang tetep bisa berjalan.

Secara 'mikro' saya dapat pahala karena ber-'sedekah'. Beli minuman tadi. Dan dapat juga kiriman 'sedekah', berupa doa dari si Ibu penjual yang jadi ujung tombak itu . . .

Botol minum berisi air, yang kami bawa, ndak kami utik-utik. Tetap tertutup.

Saya berseloroh pada Nyonya, 'Wong Sogeh iku, nek ngelak gak ngombe banyu !' Orang kaya itu, kalau haus ndak minum air.

Kami berdua pun tergelak. Gembira . . .

Nah kan ? Dalam sekejap kami berdua sudah bisa, bikin roda ekonomi Endonesah kembali berputar, bisa bersedekah sekaligus dapat sedekah. Masih ditambah lagi, bisa tertawa gembira.

Senyum saja sedekah, apalagi ketawa . . .

Ayo ! Monggo ! Njajan dan belanja.

Kalau ndak punya dana atau duit lebih, buat beli ini itu ? Dicoba saja bertukar peran, jadi yang jualan. Jadi Pedagang. Kalau beneran dan ciyus, InsyaAllah laku kok . . .

Bukankah 9 dari 10 pintu rejeki berasal dari berdagang ? Secara statistik kemungkinan 'jadi' dan 'hidup' memang lebih besar . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Sunday, June 21, 2020 - 13:30
Kategori Rubrik: