Ayo Lawan Covid-19 The Silent Killer

Oleh: Prayitno Wongsodidjojo Ramelan

Ada rasa prihatin dan khawatir, level pjbt tinggi yg krn jabatannya bersentuhan langsung dgn org yg bisa terkontaminasi saja tidak alert, masih salaman, cipika cipiki. Menhub Budi Sukarya awalnya sibuk nyambut WNI yg datang dari Yokohama. Pada tgl 11/3 masih ikut rapat kabinet, bukan tdk mungkin sdh masa inkubasi. Beliau mungkin sdh tdk enak badan tapi mensepelekan karena semangat kerjanya.

Langkah pemda DKI yg mengimbau masyarakat membatasi kumpul2, meliburkan sekolah, menutup tpt rekreasi apa efektif? Kemarin mobil yg rekreasi ke Puncak, macet 7 km, ini bukti rakyat Jakarta cuek2 saja, tetap liburan Nah, pemerintah sdh saatnya lebih tegas bertindak, atasi berkembangnya convid-19. Covid-19 ini silent killer karena tdk kasat mata dan mampu berevolusi, tdk menunjukkan gejala spt SARS. Convid-19 dapat dikatakan sebagai teroris kecil, tidak bisa mikir, tidak kasat mata dan pintar menyelinap di tubuh manusia.

 

Indonesia punya pilihan, belajar dari China, Jepang, Korsel, Iran, Italy, Spanyol yang merupakan negara2 maju, tetapi ada yg gagal dan ada yg lumayan sukses melawan Covid-19. Tetap saja yg terinfeksi banyak.

Presiden Jokowi sdh tepat membentuk Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, Ketuanya Letjen Doni Monardo, ex Kopassus. Jadi beban tidak ditanggung dipundaknya sendiri. Biarkan masing2 Gubernur/Bupati berimprovisasi, ini tanggung jawab mereka kepada warga yg memilihnya. Ayo kita bergandeng tangan bersama, jangan sampai kita kalah sama virus yg tidak bisa mikir, sedang kita bisa mikir.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, jadi tumpuan utama, karena sptnya Jakarta jadi epicentrum. Kini Anies diuji apa keputusannya
melakukan kompartmentasi agar virus tidak meluas bisa sukses. Butuh keberanian dan pethitungan masak, ini momentum, yg bila sukses akan tertanam di hati warga.

Edukasi publik, ini yg penting, mau lockdown (catatan harus kpts pemerintah pusat), atau apa langkahnya, terserah, yg penting ambil keputusan dgn resiko yg sdh dihitung, spt perkiraan banyaknya yg kena, kemungkinan RS tdk mampu menampung yg terjangkit dan bahkan hitung kemungkinan chaos, tebatasnya logistik. Jelas akan ada dampak sisi lainnya yg dlm terminologi intelstrat menyangkut komponen politik, ekonomi, sosial, budaya dan milhan. Artinya jadi pemimpin harus berfikir komprehensif.

Menurut Pray, secara sederhana, hambatan utamanya karena masih banyak rakyat yg tdk faham bahaya virus dan mereka masih cuek bebek. Kira2 begitu deh, apa iya lawan teroris yg tdk bisa mikir kita kalah?. 

 

(Sumber: Facebook Prayitno Ramelan)

Friday, March 20, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: