Ayat yang Terabaikan

Oleh: Denny Siregar

"Kalau kamu meyakini non muslim juga masuk surga, berarti kamu meyakini kitab mereka ??" Tanya temanku dengan sengit.

Aku tersenyum. Betapa sempit pemikiran temanku dengan kebenaran yang merasa dalam genggamannya. Ia tidak paham, bahwa yakin itu adalah iman. Bahwa ketika saya beriman kepada kitab saya, jelas saya tidak beriman kepada kitab mereka. Begitu juga sebaliknya. 

Tetapi keberimanan saya kepada kitab saya, tidak serta merta menyalahkan keberimanan mereka pada kitab mereka. Karena kitab itu adalah "manual book" dalam keimanan saya untuk mengikuti jalan Tuhan melalui petunjuk dari pembawa pesan-Nya, seorang Nabi. 

Saya harus meng-imani kitab saya sebagai petunjuk yang benar, supaya saya menjadi orang yang benar berdasarkan petunjuk yang diberikan. Kitab mereka adalah petunjuk bagi mereka, supaya mereka juga menjadi orang yang benar. Itulah pengertian yang benar dalam " Untukku agamaku dan untukmu-lah agamamu.."

Ku seruput kopiku...

"Al-quran itu kitab toleransi. Begitu juga kitab2 yang lain. Betapa pentingnya toleransi dalam kehidupan, supaya kita mendapat banyak pelajaran di dalamnya. Bagaimana kamu bisa mengingkari ayat toleransi yang begitu gamblang di dalam Alquran, padahal lidah-mu sendiri berkata bahwa kamu mengimani kitabmu ?

Bukankah itu berarti kamu mengingkari keimanan-mu sendiri ?"

Temanku terdiam. Jelas itu merombak seluruh bangunan struktur dalam pemikirannya sendiri selama ini, yang dicekokkan oleh guru2 yang dangkal. Luas dan dangkalnya pemikiran seorang murid, tentu banyak ditentukan oleh pemikiran gurunya.

Ia bingung, tidak mengakui ayat tersebut berarti mengingkari Alquran. Mengakui, berarti ia harus siap untuk mencela pemahamannya sendiri selama ini.

"Jadi kamu mengatakan bahwa Tuhan itu banyak ? Kamu musyrik ! " Katanya. 

Ah, kata itu keluar lagi. Sebuah tudingan yang berasal dari pembelaan diri akibat rasa panik ketika logikanya tidak sanggup membantah dengan baik.

Lebih baik kututup diskusi ini. Ia teman baikku dan aku tidak ingin bermusuhan dengannya hanya karena beda pemahaman. Yang kutahu, ia orang baik. Akalnya pasti berproses ketika hatinya mulai merendah nantinya. " Tanyakanlah pada hati, karena sesungguhnya hati tidak pernah menerima suap.. " Kata Imam Ali as.

" Tuhan itu satu, tapi bukan bilangan. Ia ada sesuai prasangka kita kepada-Nya. Tidak mengurangi kemulyaan-Nya meski ribuan cara menyembah-Nya. Kita-lah yang butuh menyembah-Nya, bukan sebaliknya... "

Kututup diskusi tentang "bagaimana sesungguhnya agama itu". 

Meski aku belum merobek aksesoris keber-agama-annya, tetapi setidaknya aku sudah menorehkan sebuah petunjuk yang harus ia pikirkan dengan baik, jika ia mau berpikir. Karena sesuatu yang agung yang turun dari langit adalah hidayah, yang hanya mampir kepada mereka yang mau berusaha....

" Terus, gimana bisnismu... " Kembali secangkir kopi terhidang panas dan nikmat malam ini.

(Sumber: dennysiregar.com)

Sunday, July 10, 2016 - 20:30
Kategori Rubrik: