Awas Jaga Nalarmu

ilustrasi

Oleh : Gunawan Wibisono

“Kebohongan yang terus menerus dijejalkan ke otakmu, lama-lama kamu akan percaya itu sebuah kebenaran!”
atau kalau mengikuti ucapan Joseph Goebbels, “apabila kamu terus menerus memberitakan kebohongan, lama-lama orang akan percaya, bahkan, termasuk dirimu!”

Siapa Goebbels? Dia adalah menteri urusan propaganda Hitler, ketika Jerman masih dikuasai Nazi (1933-1945). Ia spesialis menyebarkan berita bohong.

Salah satu dari ribuan penyesatannya adalah, saat rakyat dan tentara Polandia sedang hidup damai, Goebbels mendadak memerintahkan puluhan tentara Jerman agar berpakaian bak tentara Polandia, dan ‘tentara Polandia’ ini kemudian bergerak -seolah-olah- menerobos perbatasan Jerman, memukuli dan membunuh tentara penjaga dan rakyat Jerman disana.

Jadi ini sebetulnya tentara Jerman menyerang tentara dan rakyat sendiri!
Nah, di belakang iring-iringan 'tentara Polandia' ini, puluhan kamera siap merekam.
Hasil ‘liputan’ itu diumumkan luas, judulnya “Tentara Polandia menerobos perbatasan dan menyerang kita” berita itu terus diulang hingga mendidihlah orang di seluruh Jerman.
Jadi, ketika 1 September 1939 tentara Jerman benar-benar menyerbu Polandia, rakyat Jerman pun bertepuk tangan!
Itulah awal meletusnya PD 2.

Nah,
Kemarin kita terperangah, juga tertawa, melihat seorang ‘letnan jendral’ (bintang 3) dari ‘Kekaisaran Sunda’ berbicara di depan televisi dengan mantap nyaris tanpa ragu, bahwa apa yang ia dan kawan-kawannya lakukan adalah benar.

Pakaian tentara yang dikenakan ia klaim sebagai seragam resmi, terdaftar di PBB, Nato dan Pentagon! (Dengan suara mantap)
Si ‘jendral’ juga tanpa ragu menegur siapa saja, termasuk pers bahkan Gubernur Jawa Barat supaya tidak melecehkan ‘kerajaannya’.

Kita, termasuk saya, menertawakan tingkahnya, tapi seorang kawan -wanita- melalui pesan inboks ‘menegur’ saya,
“Itu otaknya sudah rusak, sudah dicuci habis. Sangat sulit dibetulkan. Jadi, dia sudah menganggap apa yang dia lakukan dan katakan adalah benar! Orang lainlah yang salah. Kan, gawat! Diketawain juga percuma, kasihan sebetulnya”

Si Ibu, sebut saja Ani, lalu cerita, “suami saya sendiri tercuci otaknya, rusak. Omongannya selalu ngawur, bicara harta, emas batangan dan uang milyaran, seolah-olah sudah tidak menapak di bumi. Kalau ditegur malah marah!”

Kemelut itu bermula ketika si suami terpengaruh akan ‘harta emas batangan’ milik Kerajaan se-Nusantara yang disimpan Soekarno di luar negeri (baca link di bawah) dan orang harus bergotong royong untuk menebus ‘harta’ itu.

“Tamunya datang setiap hari. Membujuk. Yang parah, suami saya tidak saja habis harta -apa saja dia jual- tapi juga ikutan pergi dengan kawan barunya. Tujuannya, ya, mencari orang baru yang mau ikut bergotong-royong. Jadi orang yang bergabung makin lama makin banyak!”
Bu Ani menulis lagi,
“Mending perginya sebentar. Ini berbulan-bulan! Meninggalkan ikatan dinas negara! Saya kuatir dan menangis setiap malam. Untung saya bekerja, jadi bisa menghidupi tiga anak. Kalau nggak, matilah kita semua!”

Si ibu sempat melacak kemana saja si suami pergi, “pimpinannya, yang diagung-agungkan sebagai ketua panitia pengambilan harta, yang sudah dianggap seperti raja, ternyata rumahnya ngontrak. Itupun kecil!”

Hal diluar nalar pun terjadi, misalnya,
“berendam di Pantai Selatan, agar penguasa disana “membantu” juga bertapa di tempat-tempat yang dianggap keramat. Berbulan-bulan!”
Kondisi kesehatan si suami menurun. Ia sakit dan tahun lalu meninggal dunia.
Instansi tempat si suami dulu bekerja sudah angkat tangan, karena ia sudah dianggap kabur dari tugas.

“Eh, sekarang, saudara saya yang lain juga kena. Harta dan rumah ludes!”
Bu Ani berpesan wanti-wanti, “kalau ada orang menawarkan hal yang tak masuk akal, segeralah angkat kaki. Tolak. Dan, bergaulah dengan orang-orang yang waras!”

Nah, hati-hatilah dengan nalarmu, sebab, apa yang diucapkan Goebbels di atas ternyata benar.

Sumber : Status Facebook Gunawan Wibisono

Sunday, January 26, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: