Awas IMF

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Ini adalah dialog imajiner saya melalui SILIT (Sambungan Internasional Langsung Ilmu Telepati) dengan Mbah Soros terkait kunjungan IMF di Indonesia:

"Mbah, banyak yang ketar ketir atas kunjungan IMF ke Indonesia. Apalagi sampai seminggu. Bisa-bisa krisis 98 terulang lagi. Buktinya US dolar langsung menguat, harga Pertamax naik, dan ngerinya lagi mbah, hutang kita yang sudah mencapai Rp. 4.000 trilliun itu bisa-bisa nambah!"

"Hehehe.., Presidenmu itu memang lihai sekali mempermainkan psikologi hatersnya. Tak bisikin ya.., tapi ojo rame-rame. Baru pertama kali dalam sejarah moneter Indonesia, penerbitan uang baru mulai pecahan Rp. 2.000 sampai Rp. 100.000 dilakukan secara bersamaan pada awal 2016 lalu. Yang kemudian dinamakan dengan uang NKRI"

"Kalau itu, semua juga tahu mbah. Tapi alasannya kenapa, itu kita yang banyak gak tahu."

"Nah, itulah! Uang NKRI itu simbol kedaulatan Indonesia. Berpuluh-puluh tahun penerbitan rupiah selalu melalui kolateral pinjaman yang dikuasai segelintir bankir elit global. Kini sudah tidak lagi. Makanya dinamakan Uang NKRI dan ada tanda tangan Menteri Keuangan sebagai representasi pemerintah dalam tiap lembarnya. Itu artinya Bank Sentral sudah berdaulat dan dibawah kendali penuh Pemerintah RI. Ditambah lagi, berpuluh-puluh tahun pula, ada segelintir elit Indonesia yang menjadi kloningers. Mereka mencetak sendiri uang rupiah tanpa di back up oleh kolateral. Celakanya, uang ini digunakan untuk ambisi pribadi dan kelompoknya. Terutama terkait penguasaan ekonomi dan politik. Uang itu ramai-ramai di"cuci" dengan belanja Valas dan Saham serta disembunyikan di luar negeri. Dan hanya akan mudik untuk ongkos politik. Makanya, Jokowi menerbitkan Tax Amnesty agar aset tersembunyi itu pulang ke dalam negeri. Sekaligus Uang NKRI diterbitkan juga untuk mencegah kloningisasi. Jadi gaduhlah negeri ini menggugat Tax Amnesty dan Uang "PKI". Preman berjubah dibayar untuk aksi, salah satunya demi kepentingan kloningers itu."

"Tapi kenyataannya sekarang hutang RI membengkak jadi Rp.4.000 trilliun! Piye jal?"

"Secara faktual, hutang Jokowi sebenarnya adalah Rp.800 trilliun. Sisanya adalah warisan rezim-rezim sebelumnya. Ditambah hitungan bunga yang belum terbayar. Dan hutang Jokowi porsinya lebih banyak pada penerbitan SBN (Surat Berharga Negara). Ibaratnya kamu berhutang pada brangkasmu sendiri."

"Ooh, berarti isi brangkas sudah menipis, lantas mau hutang lagi ke IMF begitu?"

"Hahaha! Justru Indonesia akan menyelesaikan semua hutang-hutangnya, tapi tidak sekarang. Tapi nanti pada periode kedua pemerintahan Jokowi."

"Kenapa gak sekarang mbah? Bisa-bisa dikatakan licik dan demi ambisi kekuasaan."

"Ingat gak pengalaman Gus Dur dulu? Satu-satunya Presiden yang mampu membayar (mengurangi) hutang RI. Eeh.., kok malah dijegal sama sengkuni. Dasar orang-orang yang tak tahu diri. Mereka pikir bisa menikmati "buah" yang ditanam oleh Gus Dur. Yang ada malah saling berebut kekuasaan. Nah, itu jangan sampai terjadi lagi."

"Nah, terus apa hubungannya dengan IMF dan Bank Dunia di Indonesia? Apa agenda mereka mbah? Termasuk konferensi Oktober nanti di Bali?"

"Orang Indonesia ini memang lucu. Contohnya, lebih tertarik hoax tentang PKI. Padahal diluar sana, Indonesia menjadi sorotan dunia. Mulai tingkat pertumbuhan ekonominya, hingga cadangan kolateralnya menjadi salah satu yang terbesar di dunia! Gak tahu kan?"

"Mosok sih mbah?"

"Indonesia sekarang menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Bank Dunia karena cadangan kolateralnya. Satu-satunya kantor Bank Dunia diluar Washington, hanya ada di Indonesia. Jadi isi "brangkas" Indonesia adalah salah satu yang terbesar. Tapi disini ribut masalah "hutang". Sementara kehadiran IMF bukannya untuk memberikan pinjaman. Malah mereka berharap kiprah dari Indonesia atas moneter dunia. Sebagaimana kontribusi Indonesia pada Bank Dunia. Selain untuk memastikan kestabilan ekonomi Indonesia kedepannya."

"Konkritnya gimana mbah?"

"Indonesia akan mencairkan sebagian kolateralnya. Itu baru sebagian lho! Tapi dampak ekonominya luar biasa. Nah, IMF memastikan peruntukannya. Misalnya: jangan memicu inflasi, jangan memicu investor keluar dari Indonesia karena menganggap kita sudah banyak modal, termasuk orientasi pembiayaan ke sektor riil seperti pasar tradisional selain orientasi pembiayaan infrastruktur."

"Ooh, pantesan direktur IMF diajak blusukan ke Tanah Abang."

"Bukan hanya di Tanah Abang. Tim mereka selama seminggu blusukan di pasar-pasar rakyat. Tidak saja di Jakarta, tapi di kota-kota lain di Indonesia."

"Ooh, jadi bukan untuk pinjemin duit? Tapi US Dolar kok menguat? Dan harga Pertamax juga naik?"

"Kalau menguatnya USD itu dipicu kenaikan suku bunga Fed. Itu berlaku global dan bukan hanya di Indonesia. Justru kenaikan suku bunga itu salah satu indikator menurunnya Investasi di Amerika. Dan kenaikan Pertamax di picu oleh kenaikan harga minyak dunia. Karena Pertamax bukan termasuk BBM yang di subsidi pemerintah. Emang situ pake mobil apa, kok cemas atas naiknya Pertamax?"

"Saya naik onta mbah!" 

"Silit kowe le!"

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan
 
Saturday, March 3, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: