Atas Nama Tuhan

Oleh: Denny Siregar

 

Seorang teman nasrani pagi ini bertanya kepadaku, "jika Islam adalah agama damai kenapa timur tengah terus menerus bergolak? Yang perang ya sesama Islam. Lalu di mana ajaran damainya?

Saya tersenyum. Terkadang begitu banyak faktor dalam sebuah masalah, tetapi manusia cenderung mengambil satu faktor saja dan kali ini temanku hanya berpegang pada faktor agama.

"Kalau kita hanya mengambil faktor agama dalam gejolak di timur tengah, berarti kamu menyingkirkan kristen maronit di Lebanon yang jumlahnya mencapai 40 persen dari total jumlah penduduk Lebanon. Atau menyingkirkan peran kristen di Suriah dan Irak. Berarti kamu berpandangan bahwa Kristen disana tidak berbuat apa-apa?"

Dia terdiam sambil menyeruput kopinya.

"Konflik Timur tengah itu sangat kompleks, ada masalah politik, penguasaan sumber daya alam, keterlibatan pihak luar seperti Amerika dan Eropa yang tergabung dalam NATO dan peran besar Israel yang zionis. Di dalam konflik itu dimasukkan-lah unsur agama sebagai pembenaran aksi.

Yang mengaku muslim menyebut jihad, yang mengaku Kristen menganggapnya perang salib jilid 2, coba perhatikan kata2 George Bush saat pembom-an gedung WTC. Yang mengaku Yahudi menganggapnya sebagai langkah kembali ke bukit zion, padahal ada kelompok agama Yahudi yang menentang mereka, menamakan diri Naturei Karta."

Kuseruput dulu kopiku, yang msih panas sebelum melanjutkan..

"Jadi faktor agama bukan faktor utama disini, karena semua ini sudah masuk dalam kerangka agenda politik. Agama hanya bungkus saja untuk membenarkan aksi dan diperalat sebagai bumbu.

Bergolaknya Timur Tengah karena ditengahnya ada Israel yang ingin tetap aman dalam melakukan aksinya memperbesar negaranya dengan menyingkirkan Palestina, maka ia mengadu domba negara2 sekitarnya. Juga karena korporasi AS ingin menguasai blok migas besar di sana. Belum faktor2 lain seperti agenda penghapusan sebagian umat manusia atau dikenal dengan nama depopulasi untuk mengurangi jumlah penduduk di dunia ini yang semakin sesak."

Dia mulai mengerti peta besarnya.

"Kenapa agama selalu dijadikan alasan terbesar manusia berperang?" tanyanya.

Saya tersenyum. "Karena sejarah. Para manusia tamak dibelakang peristiwa ini memahami sejarah bahwa agama itu adalah isu seksi untuk menguasai suatu wilayah. Harus ada alasan yang benar dan bisa diterima oleh banyak kalangan seperti misi misionaris atau khilafah, daripada alasan yang terkesan negatif seperti imperialisme dan akuisisi.

Karena itu ditiupkanlah kebencian atas nama agama, supaya ada rasa nyaman dalam melakukan genosida. Atas nama Tuhan. Pencipta mereka yang mereka fitnah sendiri nama-Nya.

Pada titik tertentu, akhirnya mereka yang toleran memahami, bahwa sebenarnya kita semua akan terbagi menjadi 2 barisan saja, yaitu barisan yang benar dan yang salah. Karena itulah Tuhan menempatkan akal pada setiap manusia, supaya kita bisa memilah."

Aku mengangkat gelas kopiku.

"Seperti secangkir kopi ini. Rasanya nikmat karena ia dipilah dari biji kopi yang terbaik dan di proses dengan proses terbaik. Bukan sebaliknya."

 

(Sumber: Akun Facebook Denny Siregar)

 

Thursday, December 10, 2015 - 08:45
Kategori Rubrik: