Asyik Menang, Ganti Pesindhen!

Oleh: Sunardian Wirodono
 

Tentu saja, Gerindra senang dengan reportase dan analisis Pilkada di Kompas. Apalagi dituliskan; partai oposisi akan menjadi pesaing serius partai penguasa.

Tentu analisis itu dibangun timbunan data, juga dalam perspektif yang independent meski terkesan kayak komentator bola kita di Pildun. Karena hampir di semua daerah Pilkada, tetap saja faktor figure begitu dominan dibanding partai. Bukan sekedar mesin partai.

Maka aneh jika menggunakan frame partai oposisi dan penguasa. Rakyat tak peduli partai. Di Jawa Timur, PDIP didukung Gerindra dan PKS mengusung Gus Ipul dan Puti Guntur. Hasil sementara, Kofifah-Emil yang didukung Golkar, Demokrat, PAN mengunggulinya.

 

 
Gerindra dan PKS di Jabar, merasa unggul meski hitung cepat mengunggulkan pasangan Ridwan Kamil yang diusung Nasdem dan koalisi. Duo Dedi didukung Golkar dan Demokrat, jeblok, tak sebagaimana babonan mereka di Jatim. Dedi Mizwar bukan sebuah pesona. Terlalu banyak nawarin sosis.
 
Jawa Tengah, meski bersaing ketat, masih merupakan kandang banteng yang juara. Padahal PKS sebagai tim pemenangan Said-Ida, sudah menyiapkan isu-isu korupsi untuk menghantam Ganjar Pranowo.
 
Yang menarik, di Makasar, juga di Bone, pertarungan dengan kotak kosong. Dalam hitung cepat sementara, kotak kosong menang di dua daerah itu. Pendukung kotak kosong turun ke jalan, merayakan kemenangan, meski calon tunggal untuk Makassar membantahnya. Pemilihan walkot di Jawa Barat, beberapa tps dimenangkan kotak kosong.
 
Tak sebagaimana pengamat dan politikus, yang selalu mengatakan calon tunggal menciderai demokrasi, rakyat lebih dewasa. Bayangkan, cawalkot Makasar didukung 10 partai politik. Rakyat melawan. Suara mereka tipis perbandingannya. Jika kotak kosong kalah, selama ini parpol mewadahi kepentingan siapa? Rakyat atau elitenya sendiri?
 
Jawa bagaimana pun penting, karena hampir ¾ suara nasional. Pertarungan di Jawa secara geopolotik selalu jadi ukuran. Dan hasilnya? Hanya PDIP yang memunculkan kader internal di Jateng. Selebihnya, calon comotan, untuk menunjukkan betapa tak mudah partai melakukan perannya, kecuali hanya corong dagangan para elite politik. Tapi rakyat dengan mudah, memberikan penilaian. Memilih figure yang mereka suka, percaya, tak ada urusan dengan partai. Beruntung di Jawa masih ada Jabar, Jateng dan Jatim, yang tak se-okeoce Jakarta.
 
Bagaimana kans Prabowo yang berteriak seantero Jabar; Asyik Gubernur, Prabowo Presiden? Seperti biasa, Gerindra sudah pasang peluru, hasil perhitungan mereka Asyik-lah yang menang, bukan Rindu. Harus ngotot. Tentu, kita nunggu hasil perhitungan KPUD masing-masing. Meski pun yang mengejutkan, Korsel berhasil menggusur tim Panzer Jerman. Kesingkir juga tim militeristik itu oleh ginseng Korea.
 
Pokokmen ganti pesindhen. Kalau nggak Endah Laras, ya, Sunyahni deh! Heil Hitler, eh, heil Prabowo ding!
 
 
 
(Sumber: Facebook Sunardian W)
Thursday, June 28, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: