Asperger Dan Pilpres

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

“Saya tak bersetuju dengan pelabelan asperger”, kata saya dengan suara kuat di hadapan Ananda Sukarlan, Meicky Shoreamanis, Aminoto Kosin, Untung Siahaan, Muna Panggabean, dan Chendra Panatan. Kami berbincang selama 8 (iya, delapan) jam kemarin.

“Itu bukan labelling,” tolak Meicky, penulis calon buku, yang kelak bertutur mengenai Asperger dan Ananda Sukarlan.

Pada usia 28 tahun Ananda Sukarlan, pianis dan komposer jenius Indonesia, divonis menderita Asperger. Itu semacam penamaan bagi behaviour yang bernaung dalam kelompok besar Autisme. “Saya tidak paham soal geometri,” jelas Ananda. "Dikasih soal semudah apa pun saya gak berhasil mengerjakannya. Saya tak punya sense terhadap bagan 3-gimensi, juga gak pernah bisa nyetir. Saya bahkan sering digebukin pada waktu muda karena selalu menabrak mobil orang, pagar, portal, atau hal-hal yang mempersempit jalan di depan saya.”

Saya tolak penjelasan Ananda. “Semua orang punya masalah atau kekurangan tertentu dalam hidupnya. Berbagai kekurangan dalam diri Anda kemudian diberi label ‘Asperger’. Saya, Muna, Aminoto, masing-masing, juga punya kekurangan. Pertanyaan saya, kenapa tak ada nama bagi kekurangan-kekurangan tersebut? Kenapa cuma terhadap kekurangan-kekurangan orang seperti Anda, atau keponakan saya, atau beberapa orang lain, dunia memberi label?” tolak saya.

“Ada nama untuk itu,” selak Meicky: “neurotypicals.”
“Jadi untuk kekurangan Muna—yang sebetulnya berbeda dengan kekurangan Aminoto—kalian memberi nama sama: neurotypicals?”
“Ya!”
“Kenapa? Karena kekurangan-kekurangan tersebut dianggap normal, dan Ananda Sukarlan tidak normal?”

Meicky terdiam. “I got your point,” susulnya kemudian.

Di dalam apa yang dianggap tidak normal, Ananda terhitung jenius dalam soal piano dan komposisi musik. Dia punya nama yang cukup bergaung di belantara musik klasik Eropa. Darinya lahir beberapa komposisi opera. Dia ditanggap di mana-mana, akhir bulan ini bakal berpentas di Washington.

“Anda masih memperhatikan kaidah harmoni yang disebut diabolus in musica,” tanya saya menjajal kepanggahannya.

“Dulu, di masa awal bikin komposisi, kaidah-kaidah semacam itu saya perhatikan betul. Lama-lama, itu embedded dalam benak. Saya tak lagi peduli. Tapi saya yakin dan percaya, tidak ada kesalahan teknikal dalam komposisi saya.”

Saya tercengang. Lalu kenapa Ananda dianggap tidak normal, dan bagi behaviournya kita perlu memberi nama? Saya benci pengkotak-kotakan manusia semacam itu. Si anu diffabel, si ini autist, si itu bipolar. Padahal Anda dan saya juga punya kekurangan. Tapi dunia menganggapnya normal sehingga gak perlu ada istilah khusus.

Saya toh gak perlu panik karena Muna sering lupa menyajikan sarapan, gak perlu ngamuk karena Darto gak pernah bayar utang—sudah 39 bulan dan selalu bilang besok saban saya tanya, gak perlu mengernyitkan kening karena Dodi selalu nyuekin saya—serajin apa pun saya hadir dalam hidupnya. Maka saya tidak perlu menyebut behaviour Ananda dengan nama khusus: asperger.

Saya belajar dari Jokowi, yang mencintai Indonesia tanpa batas, tanpa kotak-kotak. Bocah-bocah Papua itu bau, dekil, ngotori. Orang menyebutnya bagian dari keterbelakangan sebuah peradaban. Tapi Jokowi menggendong mereka dengan hangat, tak berbeda dengan menggendong si Polan dari Tanah Batak, atau si Poniman di Kendal. Jokowi tak butuh nama sehingga dia merasa perlu memberi perlakuan khusus.

Demikian dengan Iriana yang mengegal-egol bokong saat tetabuhan Asmat mendegap. Bunyi-bunyian itu sontak menyalakan gairah insani dalam tubuhnya. Dia tak berkuasa mengendalikan diri. Dia larut oleh cinta. Di hadapan pasangan suami-istri ini saya menemukan kembali kemanusiaan yang sudah lama hilang.

“Nama itu perlu,” kata Ananda. “Dulu saya dianggap bego, manusia tak berguna, tolol dan ndablek, karena tak mampu menyelesaikan persoalan geometri sederhana. Belasan hingga puluhan tahun saya tersiksa karenanya. Namun ketika para ahli kemudian mengidentifikasi kekurangan tersebut dan menemukan nama golongan yang tepat untuk itu, seluruh keping puzzles, yang tadinya tersembunyi di berbagai sudut, mendadak muncul. Foto diri Ananda Sukarlan hadir utuh dalam sekejap. Seisi dunia siap memberi permakluman. Tak cuma kekurangan, mereka kemudian menandai kelebihan saya. Ada pengakuan tulus. Itu membuat saya lega. Berbagai kekurangan saya tak lagi melahirkan kemarahan di hati orang. Mereka juga tahu bahwa penderita Asperger seperti saya berkemungkinan bunuh diri suatu saat.”

“Karena external cause?”

“No, karena internal causes. Tidak ada hal di luar yang perlu memicu pikiran bunuh diri. Saya terlahir dalam jutaan kemungkinan terjun dari lantai tujuhbelas pada suatu hari. Nama asperger membuat saya sadar akan kemungkinan itu, menghindar dari peluang ke arah sana.”

Saya tersentak. Anda ingat bagaimana kelompok Prabowo-Sandi selama 3 bulan terakhir bertindak aneh? Mereka berceracau ngawur dan membuat dada kita bersuhu 80° C? Kayaknya perlu kita teliti pola kelakuan mereka, menaruh nama yang tepat untuk itu, mendapatkan penjelasan utuh, sehingga kita sanggup memahami mereka: memaklumi ketololan Sandiaga, mengerti penuh kenapa Prabowo sering menakut-nakuti Indonesia, lalu merawat mereka dengan baik.

Jangan sampai mereka berdua bunuh diri, terjun dari lantai 117 Burj Khalifa di Dubai.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, January 2, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: