Asmara Kala Corona

ilustrasi

Oleh : Feriawan Agung Nugroho

“Mulih!” kata saya sedikit berteriak.

Masih duduk di atas motor yang menyala. Berpapasan. Menghadang seorang simbah putri yang kaget. Jalannya terhenti mendadak. Wajahnya seketika berubah pucat.

“Ayo mulih!” saya mengulangi. Kali ini dengan intonasi yang lebih keras.

“Namung sekedhap mawon kok. Ngriku,” (Cuma sebentar saja kok. Ke situ)

Saya diam. Tidak bergeming sedikitpun dan menatap wajah lansia itu tajam-tajam.

“Perut saya ini sakit, Pak. Saya mau ke puskesmas untuk cari obat”

Hmmm...bandel juga.

“Mulih. Pulang. Atau jangan pernah balik lagi ke Balai!”

“Ke puskesmas kok.”

“Pulang! Atau jangan pernah kembali lagi ke Balai!”

Sebentar kemudian matanya mulai mengalirkan air mata.

“Iya saya pulang...saya pulang”(dengan mata menangis)

Dia bergeser, dengan isyarat mempersilahkan saya duluan.

Saya sendiri tidak bergerak. Tetap pada posisi. Menunggunya balik kanan dan melangkah. Setelah saling diam beberapa detik, sampai akhirnya dia balik kanan.

Dengan wajah tertunduk dan tampak menangis dia melangkahkan kakinya berjalan sekitar 400 meter balik kanan menuju ke Panti. Saya naik motor mengawal tak jauh di belakangnya. Mengawasi setiap detil langkahnya dan wajahnya yang tertunduk. Tidak ada sebersit niat sedikitpun untuk memboncengkannya di atas kendaraan ini. Biar.

Barangkali sepintas, saya terlihat bertindak kejam terhadap seorang lanjut usia tua dengan tubuh mungil yang mengaku sakit perut. Tetapi begitulah cara lansia yang bandel untuk memancing belas kasihan dari saya ataupun masyarakat sekitar.

Jauh hari, beberapa kali saya sudah mewanti-wanti simbah lewat bimbingan-bimbingan tentang pentingnya stay di Panti. Tentang bahayanya virus corona. Tentang bagaimana penularannya dan pencegahannya. Juga tentang usia lansia yang secara statistik jauh lebih rentan untuk tertular. Larangan keras bagi lansia untuk meninggalkan Panti dengan alasan apapun selain alasan kesehatan yang standar kedaruratannya diputuskan oleh petugas.

Bukti-bukti sudah demikian banyak dan kasat mata, bagaimana pegawai yang tidak lagi absen sensor jari. Bagaimana tamu-tamu dan mahasiswa sudah tidak diijinkan untuk melakukan kunjungan. Bagaimana penggunaan masker dan sanitizer yang menjadi prosedur bagi petugas ketika berada di lapangan. Kurang apa lagi?

Coba bayangkan yang terjadi jika simbah ini terpapar. Bubar...

Simbah ini, nekat menerobos gerbang mencari kelengahan petugas yang saat itu sedang mempersiapkan musik untuk kegiatan senam pagi rutin di dalam lingkungan panti. Dia sudah sangat hafal dengan kelengahan petugas. Dengan kresek besar terlipat bersama dengan dompet di tangannya, sudah dapat dipastikan bahwa dalihnya ke puskesmas itu cuma sekedar alasan asal untuk mencoba membohongi saya. Kalaupun dia sakit perut, tentu tidak mungkin bisa berjalan sejauh itu, melainkan sambat dengan petugas untuk diberi pertolongan pertama ataupun jika memang darurat akan menggunakan kendaraan ambulans ke rumah sakit.

Tidak. Dia tidak sakit. Lalu dia mau belanja apa? Sangat mudah ditebak. Membeli belanjaan yang akan diberikan demi untuk mengambil hari seorang lansia pria idamannya. Rokok, kopi, gula pasir, lauk daging atau ikan, jajanan pasar, atau sesuatu yang lain.

Ulahnya sudah sering kepergok, jauh sebelum wabah Covid. Lewat CCTV, lewat laporan teman, bahkan lewat pengamatan langsung. Tapi begitulah cinta. Di situlah saya menjadi afgan (baca: sadis) kepada oknum lansia sepert ini.

Evaluasi segera dilakukan. Demi keamanan, sekarang gerbang ditutup total dan hanya petugas atau pegawai dengan protokol kesehatan ketat yang bisa masuk. Simbah-simbah mau menggerutu, mau marah-marah, mau menangis ataupun memohon-mohon, tetap tidak ada ijin untuk bisa keluar balai. 

Sumber : Status Facebook Feriawan Agung Nugroho

Sunday, March 29, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: