Asian Games 2018, Hadiah Indah Dari Jokowi untuk Kita

Oleh : Kajitow Elkayeni

Ada yang mengatakan, Asian Games 2018 ini tak ada hubungannya dengan jasa Presiden atau Kemenpora. Jokowi dan Imam Nahrawi hanya menumpang saja. Ini semua semata karena kesuksesan atletnya. Penyataan ini seolah idealis, bijak, netral. Padahal logikanya kacau. Faktanya tidak tepat.

Tanpa koordinasi yang baik, pagelaran satu acara sederhana saja bisa kacau. Tanyakan pada yang pengalaman berkecimpung dalam event organizer, kalau tidak percaya. Detil-detil pengerjaan itu memusingkan. Apalagi untuk ukuran perhelatan olahraga kelas Asia. Tidak hanya dibutuhkan perencanaan matang, tapi juga etos kerja yang meletup-letup.

Dalam olah raga lari, ada satu nama yang sangat berjasa sejak dulu. Dia adalah Bob Hasan, Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Kemunculan Zohri tak lepas dari jasa orang seperti Bob tadi. Ia bahkan dikatakan rela merogoh kocek pribadinya. Semua itu karena dorongan kecintaan.

Dalam perbulutangkisan, ada Djarum Group, yang telah menyiapkan calon juara, memberikan pelatihan dan beasiswa. Membangun gedung dan mendidik pelatih melalui coaching clinic. Mengundang para bintang untuk turun ke daerah-daerah, guna menularkan semangat pada anak-anak.

Banyak orang berjasa besar, tapi namanya tidak dihitung. Mereka bekerja dalam senyap.

Keberhasilan perolehan medali emas yang luar biasa kali ini, juga berkaitan dengan jasa Presiden dan Kemenpora. Iming-iming hadiah besar, kehadiran presiden, perbaikan recruitmen atlit Pelatnas, semua itu menjadi akumulasi keberhasilan seorang atlet. Kemenangan tidak muncul begitu saja, itu hasil kerja keras banyak orang.

Dalam sejarah Asian Games, perolehan medali emas tahun ini sebagai yang terbanyak, bahkan untuk cabang olah raga yang sifatnya masih exhibisi, masih berupa show, belum diakui, seperti Esport. Hal itu membuktikan, ada kerja luar biasa empat tahun sebelumnya. Ada persiapan yang tak main-main untuk menghasilkan kesuksesan hari ini.

Asian Games hakikatnya adalah ajang kegembiraan semua orang. Pesta olahraga yang membanggakan rakyat Indonesia seluruhnya. Semua orang tentu berjasa, mulai tukang sapu, penonton, sampai atletnya. Hanya orang dengan kedengkian luar biasa yang tidak ikut gembira dengan pencapaian itu. Apalagi jika motifnya politik.

Pembukaan Asian Games yang heboh kemarin, adalah jelas jasa seorang Wishnutama. Sebutan semacam ini penting sebagai penghargaan. Ia rela bekerja sepanjang waktu, hanya libur dua hari dalam setahun. Itu dedikasi luar biasa. Satu upaya yang katanya mendekati mustahil. Nyatanya dia berhasil dengan gemilang.

Jadi tidak salah jika dilihat dari keseluruhan pagelaran Asian Games 2018, kita memuji Presiden atau Kemenpora. Mereka benar-benar bekerja keras di bidangnya masing-masing. Secara faktual bisa dibandingkan dengan pencapaian SBY dan Roy Suryo di masa lalu, untuk bidang yang sama.

Sama-sama Presiden, sama-sama Menpora. Namun kenapa hasilnya jauh berbeda? Hal itu membuktikan, motivasi, dukungan dana, glorifikasi, doa, memberikan nilai lebih bagi para atlet. Di masa SBY situasi perekonomian kondusif, perpolitikan tenang. Toh hasilnya jauh di bawah harapan. Ajang Asian Games di masa itu hanya sekadar pelengkap.

Pemberian hadiah besar itu baru terjadi di rezim ini. Faktanya demikian. Itu juga menyumbang semangat bagi mereka. Perhatian luar biasa dari seorang Presiden dan jajarannya juga baru terjadi di rezim ini. Faktanya demikian. Itu menumbuhkan harapan berbunga-bunga bagi mereka.

Lihat jaman SBY, bandingkan dengan hari ini, kehebohan Asian Games menelusup sampai sendi-sendi bangsa ini. Semua orang bahagia. Di jalan, di kantor, di sekolah, di seluruh pelosok daerah, semua orang bersemangat menyongsong pagelaran Asian Games.

Itu karena dorongan luar biasa dari Presiden dan Kemenpora. Juga instansi-instansi terkait yang turut menyemarakkan dan menyukseskannya. Persiapan fisik bangunan diawasi betul-betul supaya tidak dimaling. Bandingkan dengan Candi Hambalang. Itu saja sudah cukup sebagai bukti. Pemerintahan ini memang serius bekerja.

Jadi, menyebut Jokowi tidak berjasa dan tidak patut dikaitkan dengan Asian Games, itu salah besar. Justru karena jasanya yang luar biasa itulah Asian Games bisa terlaksana dengan sukses. Dia layak menerimanya, meski mungkin tak membutuhkannya. Ini kesadaran kita, ucapan terimakasih sebagai orang beradab.

Bayangkan dengan kejadian trotoar jatah Pemprov Jakarta, yang hampir tak selesai itu. Karena gubernurnya tak bisa bekerja. Hampir saja kita dibuat malu saat acara hendak digelar, trotoar saja belum siap. Padahal itu bukan pekerjaan yang sulit. Akhirnya ia dikerjakan terburu-buru dan banyak kekurangannya. Toh Jokowi tetap memuji Anies, menimbang kepentingan yang lebih besar, Asian Games.

Fungsi kepemimpinan seperti itu, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Pemimpin yang baik mengontrol penuh kesiapan, menumbuhkan semangat, memberikan harapan, menyalakan optimisme, menyemarakkan kegembiraan.

Tugas kita sebagai rakyat merayakan kegembiaraan. Berterimakasih pada semua orang yang telah berjasa membuat negara ini bangga. Mulai dari atlet, pelatih, pembina penonton, tukang sapu, juri, gubernur, kemenpora, sampai presiden. Karena ini pesta kita semua.

Kesuksesan Asian Games adalah hadiah indah dari Jokowi. Ini saat yang tepat untuk menegakkan kepala dan menunjukkan pada masyarakat dunia, Kita Bisa!

 

Sumber : Facebook Kajitow Elkayeni

Thursday, August 30, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: