Asal Mula Isu PKI Ditebar

Oleh: Wahyu Sutono

 

Pilu rasanya melihat bangsa ini diadu domba oleh kelompok tertentu melalui isu PKI yang mustahil itu ada. Makin pedih saat mendengarJokowi difitnah PKI, lalu beliau katakan mana mungkin, karena saat PKI dibubarkan beliau masih balita. Jelas ini murni manuver politik busuk untuk mendeskreditkan pemerintah. Jadi sungguhlah dungu bila masih ada yang percaya isu murahan nan licik ini.

Karenanya masyarakat luas tak perlu takut. Karena cara primitif ini mulai muncul saat kampanye Pilpres 2014 lalu dimana akun Twitter atas nama Trio Macan yang pertama sekali fitnah, dan pelakunya (RN) sudah dipenjara. Lalu cuitan itu dijadikan referensi oleh tabloid abal-abal 'Obor Rakyat' yang saat kampanye membagi secara gratis, dimana kontennya berisi hoax, karenanya tabloid inipun berurusan dengan hukum.

 

 

Bila kemudian beredar foto-foto pasukan komunis yang konon katanya ada 15 juta mengenakan simbol PKI, itu hoax karena ternyata diambil dari Philipina (Partido Komunista ng Pilipinas). Terlebih setelah biang MCA terciduk semuanya semakin terang benderang bila itu murni hoax. Bagaimana dengan pernyataan Kivlan Zen yang gencar mengatakan di PDIP itu sarang PKI, dan tahun depan PKI bakal bangkit dengan jumlah 60 juta. Ini makin lebih ngawur lagi.

Mereka yang gencar menebar isu PKI, sampai saat ini tak bisa membuktikan satupun batang hidung kader PKI, apalagi hingga menyebut siapa ketuanya, sekjennya, kantor pusatnya, kantor cabangnya, dan sebagainya. Yang ada hanya bendera yang mereka buat sendiri. Lucu kan? Coba bayangkan lagi, bila dari 257 juta penduduk Indonesia, 60 juta diantaranya adalah PKI, itu berarti diantara 4-6 orang di Indonesia salah satunya adalah anggota PKI. Wuih ngibulnya terlalu kasar deh.

PKI itu tinggal sejarah dan "tidak" mungkin berkembang kembali di Indonesia. Lalu bila dikatakan sekarang sudah resmi ada kantor pusatnya. Silahkan lihat langsung di Salemba, bahwa bekas kantornya sudah seperti rumah hantu karena lama tak berpenghuni, bau pesing dan sama sekali tidak pernah ada kegiatan. Ada beberapa hal yang tidak memungkinkan PKI bisa berkembang kembali.

Pertama, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dicekoki dengan trauma Komunisme ala rezim orde baru yang bekasnya masih terasa hingga kini. Jadi jelas bila PKI muncul bakal langsung digebuk. Laipula era komunisme international sudah berakhir dan usang. Jerman Timur sudah lama hilang, dan Tiongkok sudah moderat. Mungkin yang bertahan tinggal Kuba, tapi kondisi ekonominya morat marit.

Kedua dalam Undang Undang Nomor 27 tahun 1999, tentang Perubahan Kitab Undang Undang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara, jelas sekali bahwa Indonesia melarang adanya Partai yang berhaluan Komunisme, karena hal itu bertentangan dengan Pancasila.

Ketiga, ini biang keroknya. Amerika mulai khawatir terhadap langkah politik internasional Jokowi yang membangun poros “Jakarta-Beijing-Taheran-Moskow” meliputi perdagangan, teknologi sipil, teknologi militer, kesehatan, nuklir dan investasi.

Hal yang paling merisaukan Amerika adalah hancurnya hegemoni mereka serta hilangnya kontrol atas geliat ekonomi di Indonesia yang pada akhirnya akan merubah kiblat negara-negara kawasan di Asia Tenggara mengikuti jejak langkah Indonesia yang progresif. Lalu ini dimanfaatkan elite tertentu untuk memperkeruh suasana dengan agenda agar elektabilitas Jokowi turun, sehingga 2019 nanti tidak terlalu berat melawannya.

"Sederhana sekali kan? Karenanya mari kita lawan dengan cara yang cerdas. Jadi Jokowi itu PKI? Jawabannya tentu PKI yang lainnya, alias Presiden Keren Indonesia."

Salam 2 periode untuk NKRI gemilang.

**************************************

Foto adalah ilustrasi untuk menggambarkan betapa mustahilnya seorang Jokowi yang saat balita jadi kader PKI. Maklum kaum bumi gepeng kalau ngarang nggak dipikir dulu.

 

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Friday, March 9, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: