Arus Balik Radikalisme di Jawa Timur

ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Aku ingat kata Pramoedya di novelnya Arus balik :
“Penyebaran agama bukanlah perang, majunya tidak seperti tentara berbaris, dia tidak merambah jalan darat atau laut, tetapi hati manusia! Hati yang harus dirambahnya” (hal. 270)

Dan Jawa timur menunggu meledak, dalam beberapa tahun terakhir ada beberapa perampokan Toko emas jawa timur yang diduga untuk mendanai aksi teror. Beberapa isu nasional juga trigernya muncul dari Jatim. Isu Papua dan tagar #BubarkanBanser tombolnya dari Jawatimur.

Arus sudah berubah, dulu jatim adalah lumbung Nahdhliyin dengan akar tradisional dan kebhinekaan yang kuat. Tapi coba lacak pemberitaan tentang kejadian teror dan pelaku teror sejak 2017 hingga 2019 ini,paling banyak Jawa Timur. Radikalisme sudah menemukan arus baliknya, dan itu langsung menyerang jantung Nahdliyin dan kebhinekaan kita.Demikian juga kasus konflik antara sekte Agama, paling banyak kasus justru jawa timur

Mungkin kita masih ingat rentetan teror pada Mei 2018 lalu. Bayangkan dalam sepekan saja 28 korban jiwa dan 57 orang luka-luka. Pasca serangkaian insiden ini, tahun 2018 lalu sekurangnya Polri sudah melakukan 79 penangkapan dengan total 350 terduga teroris yang diamankan, 110 di antaranya terlibat bom Surabaya. Tetapi saya yakin jumlahnya lebih dari yang publik ketahui, dan mereka masih terus bergeriliya.

Daerah lain Hate Spech mungkin banyak, tapi yang berani bunuh bom bunuh diri sekeluarga hanya ada di Jawa Timur, dan itu bukan hanya satu keluarga pelakunya tapi tiga group keluarga (Dita, Anton, dan Tri Murtiono).

Sang ayah, istri, dan anak-anaknya siap mati bersama. Ayah mengorbankan anak-anaknya, ibu bersama anaknya melakukan bunuh diri adalah orang-orang sakit jiwa dan putus asa.Dan itu hanya ada di Jawa timur.

Anda Tahu hari ini (28/8/2019) Densus 88 menangkap 6 orang lagi jaringan teror Jawa Timur. Jumlahnya yang belum ditangkap saya yakin masih banyak. Tidak menutup kemungkinan anggota JAD dan loyalis ISIS lainnya akan menjalankan aksinya tanpa melakukan perencanaan yang matang.

Mereka bukan Jamaah Islamiyah (JI) yang kalau membuat keputusan harus kesepakatan jamaah. Mereka lone wolf, bisa melakukan aksinya sendiri. Kalau cuma punya pisau, ya mereka menyerang pakai pisau.

Polri sebagai institusi keamanan juga berbenah diri supaya aksi terorisme tidak terulang kembali. Salah satu penguatan internalnya, terkhusus di wilayah Jawa Timur. Saya ingat dawuh guru saya Profesor Hermawan Sulistyo "Ideologi hanya bisa dilawan oleh ideologi.

Ada teori ratu lebah, ketika nanti ada figur kharismatik dan bisa diterima oleh pengikut-pengikutnya, nah lahirlah nanti Aman yang baru" kita harus antisipasi ini.

Benteng perlawan ISIS di Suriah dan Timur Tengah lainnya telah luluh lantak, Asia Tenggara harus waspada. Kita harus ingat Indonesia adalah negara penyumbang kombatan ISIS terbanyak nomor empat, dan Jawa Timur adalah salah satu lumbung Kombatan tersebut.

Jawa Timur, lumbung terbesar Nahdhliyin dan daerah markas besar 3 matra TNI. Saya ngeri, Video wawancara dari sahabatku ini mungkin jadi bahan kajian kita bersama. #SaveViaValen

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Thursday, August 29, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: