Artis Hoax dan Dede Gemez

Oleh : Widhi Wedhaswara

Ketika kemarin saya diundang acara digital literasi yang digagas oleh Kantor Staf Presiden dan Kominfo yang dihadiri oleh teman-teman pegiat literasi digital, salah satu peserta mengatakan bahwa peran pemerintah saat ini bersama para komunitas dan organisasi yang ada hanya bersifat memadamkan kebakaran saja dan berkutat di hilir dari persoalan hoax, tiap-tiap komponen yang ada tampak bergerak sendiri-sendiri dan beberapa pihak mulai merasa kedodoran, jenuh dan lelah di tengah gempuran berita-berita hoax yang ada, berita - berita hoax lebih cepat viral dan dishare dibanding berita tentang kebhinekaan, islam ramah atau program pemerintah. Produsen hoax hampir setiap hari melakukan aksinya sementara dari pihak pemerintah tampak bergerak lambat.

Dari pihak pemerintah sendiri pun tidak bisa bergerak leluasa karena keterbatasan wewenang dan juga kebijakan yang ada. Pemaparan - pemaparan yang ada pada tiap workshop, sosialisasi dan diskusi hanya sebatas bagaimana mencegah hoax, bagaimana saring dan cek foto hoax dll sementara sinergisitas dan mata rantai yang ada antara pemerintah dan organisasi/komunitas para pegiat hoax masih berjalan lambat.

Ketika saya berbicara di depan forum kemarin saya bahkan sampai mengatakan bahwa dengan sasaran pemerintah kepada generasi jaman now untuk diajak untuk melek internet menjadi bukti bahwa pihak - pihak yang berkepentingan tidak mampu untuk face to face dengan pelaku hoax, yang harus digempur adalah para generasi jaman old dimana sebagian besar dari mereka adalah para pelaku yang ditangkap oleh pihak kepolisian (baik dari saracen dan mca). Emak-emak pengajian, ibu2 rumah tangga dan perkantoran, para pns di lingkungan pemerintah itu sendiri yang menurut saya cukup banyak sebagai pelaku.

Saya ambil contoh seorang ASN dengan akun twitter @sangpemburu99, dia adalah seorang PNS yang sudah terbukti menyebarkan kebencian kepada pemerintah, bahkan memproduksi akun-akun palsu untuk menyebarkan hoax, namun info terakhir yang didapat bahwa dia hanya mendapatkan sanksi penundaan kenaikan pangkat 1 kali.

Kemudian dalam forum itu saya juga mengatakan, bagaimana kami harus melawan sebuah kelompok, yang mendapatkan penghasilan dari website hoax sebesar Rp 6 - 15 juta perhari, atau Seorang ustadz yang memproduksi hoax suriah (dan kabur ketika diajak tabayyun) dimana videonya sehari bisa menjadi 2-3 trending topik di youtube dan bahkan diikuti oleh para artis - artis "hijrah" sementara para pegiat anti hoax masih memikirkan operasional komunitas mereka. Jika Jerman bisa menekan Facebook dengan denda tinggi jika terbukti ada berita hoax, sepertinya dari pemerintah belum ada agenda kesana.

Catatan-catatan diatas sudah ditampung oleh pihak Kominfo dan KSP dan semoga kedepannya di tahun-tahun politik ini ada langkah nyata dari pihak terkait untuk menekan produsen hoax, bagaimanapun MCA atau saracen hanyalah pucuk gunung es dari fenomena ini.

Sumber : facebook  Widhi Wedhaswara

Wednesday, March 14, 2018 - 12:15
Kategori Rubrik: