Arswendo Yang Berkarakter

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha

Setiap mengingat Bung Arswendo, maka saya mengingat masa kecil saya bersama majalah Bobo dan Hai. Dan keriaan hati saya saat membaca majalah tersebut. Mungkin kebahagiaan yang sama saat membuka Youtube dan bermedsos bagi anak sekarang.

Keluarga Cemara pertama kali saya baca saat menjadi serial di majalah Bobo. Saya kelas dua SD saat itu, atau kelas satu. Tetapi tak mungkin kelas tiga, karena saya belum tinggal di Plaju. Stiker label nama sedang musim, dan keluarga Cemara berkisah tentang Ara yang sebenarnya ingin label nama. Abah kemudian membuatkan Ara label nama dengan tulisan tangan Abah sendiri. Ara membawa nasi ke sekolah untuk mrnrmpelkan label tersebut. Tetapi Pipin tokoh antagonis di kisah tersebut menertawakannya. Saya kecil jadi sedih yang mendalam membaca, sekaligus mendapat pengertian indah tentang kreatifitas.

Episode lain yang sangat berkesan bagi saya berjudul Musik Musim Hujan. Saya tak begitu ingat kisahnya, tetapi judulnya melekat kuat di benak saya. Syahdu. Dikisahkan Ara ingin menonton film The Sound of Music melalui video player yang sedang marak saat itu. Tetapi dengan keterbatasan keluarganya, keinginan itu akhirnya tinggal keinginan.

Dua hal saya ingat dari episode Musik Musim Hujan itu. Pertama film The Sound Of Music. Saya belum pernah menontonnya saat itu, namun berjanji akan menontonnya kelak. Dan ketika kesempatan itu datang, The Sound of Music menjadi salah satu film paling berkesan dan saya tonton berulang kali hingga hari ini.

Yang kedua tentang video player. Saya bisa merasakan apa yang dirasa Ara, karena saat itu keluarga saya pun belum memiliki video player. Yang lebih ironis, dengan kondisi ekonomi keluarga saya saat itu, sebenarnya keluarga kami cukup mampu membelinya. Tetapi entah kenapa, ayah saya punya pertimbangan lain. Mungkin ingin anak-anaknya konsentrasi belajar. Belakangan ketika saya dewasa, ayah saya bercerita, Beliau mrmbaca wawancara dengan Goenawan Mohammad di majalah. GM saat itu enggan membeli televisi berwarna, meski anaknya meminta. GM tak ingin masyarakat terpecah dua, tersegregasi antara pemilik televisi berwarna dan pemilik televisi hitam putih. Ini berpotensi perpecahan, kata ayah saya.

Ayah saya kemudian menambahkan keterangan bahwa Gus Dur pun awalnya menolak pemakaian tutup kepala agamis, dengan alasan yang sama: berpotensi perpecahan. Menyebabkan masyarakat terbelah menjadi pemakai simbol dan non simbol. Tentu ini di luar konteks kewajiban keagamaan. Atau mungkin drngan kedalaman ilmunya, GD punya dasar hukum yang kuat untuk pendapatnya. Kebenaran pendapat GM dan GD itu saya tak tahu pasti, tetapi make sense bagi saya.

Kembali ke karya Bung Wendo, saya teringat pula kisah Kiki dan Komplotannya. Saya tak begitu ingat serial populer di majalah Hai tersebut. Hanya saja saya mencatat serial itu lucu, menampilkan remaja yang kocak, bebas berpendapat sekaligus tidak utopis. Bung Wendo keliatannya cukup dominan dalam mewarnai cerita-cerita di majalah Hai. Hampir semua kisah menampilkan anak-anak yang ceria, bebas berpendapat namun tidak snob.

Belakangan hari Hai melahirkan serial hits Lupus, karya Hilman Hariwijaya. Lupus bisa jadi stereotype remaja di masa saya kecil. Cuek sekaligus pintar, terbukti sebagai wartawan freelance. Dalam kisah-kisah Lupus, penulusnya sering menggambarkan Bung Wendo sebagai boss yang santai namun asyik. Dan suka mencomot gorengan dan makanan yang ada di meja siapapun.

Selain Lupus, kisah remaja yang marak adalah Catatan Si Boy. Entah kenapa saya tidak suka ceritanya, terlalu utopis. Anak muda, kaya raya, ganteng, cakeo, relijius, tanpa pernah bekerja keras. Ada kebetulan yang luar biasa unik tentang pengarangnya. Belakangan penulis si Boy tercatat sebagai aktivis yang sedikit rasis. Kurang berpihak kepada keberagaman. Entah ada hubungannya atau tidak dengan penggambaran Si Boy di masa lalu yang serba sempurna itu.

Namun demikian, sebagai remaja saya juga menonton Catatan Si Boy, karena Onky Alexander memang ganteng....

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha

Saturday, July 20, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: