Arah Baru MUI dan Harapan Memperbaiki Citra Ulama

Ilustrasi

Oleh : Munawar Khalil

Selama ini hampir tidak ada yang menonjol dari MUI, kecuali periode ketika ketokohan pengurusnya sangat dominan dalam mengawal umat. Ketika ilmu mereka mumpuni, bahkan juga ketika fatwa serta pendapat-pendapat mereka dihormati.

Berselang setelah periode itu, masuklah tokoh-tokoh bergenre politikus. Saat dimana bukan mereka yang mengawal umat, tapi segelintir umat yang melabeli mereka sebagai pengawal MUI. Tak ayal seringkali keluar fatwa-fatwa 'nyeleneh' yang tidak mencerminkan kearifan sebagai agamawan cendikia.

Kini dari susunan kepengurusan terpilih, selain nama Din yang hilang, raib juga nama mantan bendahara Yusuf Muhammad Martak, mantan wasekjen Tengku Zulkarnain, dan mantan sekretaris Wantim Bachtiar Nasir.

Susunan diatas, tampaknya membawa pesan agar MUI kedepan berfokus kepada pengembangan umat, tidak lagi mengeluarkan pendapat remeh temeh dan tidak berkelas ulama, cenderung ke arah politik dan kepentingan kelompok serta individu pengurusnya yang kental, termasuk agar tidak disusupi oleh ormas-ormas 'gerombolan' diluar dua ormas besar yang telah setia menjaga Indonesia dengan segala keberagamannya.

Dan, walaupun susunannya terkesan ada semacam penyeragaman dan campur tangan vertikal, setidaknya ini kesempatan memperbaiki citra dan stigma ulama agar kembali otentik. Sambil sesekali MUI bisalah bantu pemerintah melawan persoalan-persoalan intoleransi yang sudah mulai merebak dimana-mana dengan statement pengurusnya yang membikin sejuk, jauh dari kesan provokatif.

Selamat bekerja Engku..

Sumber : Status Facebook Munawar Khalil

Sunday, November 29, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: