Arab Saudi

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 

"Arab Saudi kok ..... mulai moderat ?"
"Mengapa Arab Saudi mulai mengembangkan basis ekonomi mereka yang tidak lagi berbasis minyak ?". Dan seterusnya. 
Ada yang tetap ingin Arab Saudi seperti selama ini. Puritan. 
Selalu diperbincangkan dunia ketika konflik berlangsung di kawasan ini. 

 

Dilihat dari sudut yang tidak elok. Sering di pandang sinis. Ditertawakan (kadang-kadang, saya juga melakukan hal ini). Hati saya terkadang merasa sedih ketika kata-kata untuk menujukkan sebuah kebodohan, justru diambil dari binatang yang identik dengan daerah ini, "dasar, kaum onta !". Mengapa "onta" dipandang sinis ?. Mengapa justru "pinguin, kangguru, panda, dan kelinci serta buah apel yang sumbing sedikit", justru dipandang "ceria" ?. Apa mau dikata, setiap orang berhak untuk memberikan pendapat atas apa yang berlaku di daerah tersebut. Daerah yang hampir tak pernah damai. Identik dengan konflik. Baik konflik atas nama ideologi, atas nama ekonomi, atas nama "jumawa diri", atas nama "busung dada". 

Dari hati yang paling dalam, saya mendo'akan, semoga Arab Saudi dari waktu ke waktu akan menjadi negara yang mampu melindungi saudara-saudaranya di Timur Tengah. Menjadi negara yang mencintai perdamaian. Menjadi negara yang merangsang belahan-belahan dunia lainnya untuk tumbuh dengan baik sebagai kembang-bunga peradaban. 

Dan ketika Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman, mulai membuat paradigma baru Arab Saudi ke depan, jujur, saya bahagia. Saya rindu, dari daerah Arab sana, negeri tempat lahirnya Nabi saya Yang Mulia, kelak akan muncul pemenang-pemenang nobel, memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan IT yang mampu menandingi "Lembah Silicon", negeri yang saling berpegangan tangan dengan negara lain (baik yang seideologi maupun tidak) untuk membangun peradaban dunia ..... bukan identik dengan konflik. Dengan "rezeki" melimpah yang diberikan Tuhan kepada daerah ini, seharusnya mereka (pasti) bisa.

Kalau negara-negara di Timur Tengah sana saling berangkulan tangan, memandang ke depan, "siapakah yang paling bahagia ?". 
Saya termasuk di dalamnya. Dan saya yakin, handai taulan semua, bahagia juga.

Terakhir : 
Ada pepatah dari Iran, "do'akan cahaya lampu tetanggamu, niscaya pekaranganmu akan terang benderang !"

(Sumber: Facebook Muhammad Ilham Fadli)

Tuesday, January 21, 2020 - 17:45
Kategori Rubrik: