Arab Saudi dan Bikini

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Seperti diketahui Negara ini adalah penganut Wahabi yg beraliran keras memperlakukan wanita dibawah tekanan krn alasan agama. Keluar rumah sendiri tidak boleh, nyetir mobil tidak boleh, bila keluar rumah harus dengan baju yg menutup nyaris seluruh tubuh kecuali daerah lingkar mata, walau didalamnya mereka pakai jean dan baju mahal, konon cd nya gambar bendera Amerika.

 

Bak petir disiang bolong tiba-tiba Pangeran Arab Saudi yg baru dilantik mengumumkan kebijakan yg tidak pernah dipikirkan sebelumnya, dia membuat UU yg membolehkan wanita berbikini di resort mahal yg akan dibangun disepanjang pantai laut merah, tujuan pelonggaran aturan ini tidak terlepas dari kebutuhan membangun ekonomi Arab Saudi yg mulai ngos-ngosan karena minyak tidak lagi bisa menjadi andalan para Pangeran yg biasa hidup berkemewahan dan berlebihan, dimana dollar ditaburkan pada saat liburan maupun keluyuran.

Akankah ada jaminan berbikini bisa hanya di belakang resort mewah, wallahu a'lam, karena memberi izin diatas untuk menarik pembeli resort dan membiarkan bokong berlenggang adalah sebuah kemunduran harga diri bagi Arab Saudi yg selama ini sok suci, atau kita yg terlalu melihat mereka bak malaikat gak taunya memang itulah kelakuannya. Harus diakui, tetangganya sesama Arab, UEA sudah jauh mempunyai konsep terbuka membangun negara dengan melihat pasar potensial dan mereka berjaya menarik turis manca negara, sampai lady escot dari Amerika dan Rusia, jangan ditanya dosa karena itu urusan mereka.

Munculnya keputusan kontroversial diatas adalah murni kebutuhan ekonomi sehingga apapun akan dilakukan mereka, budaya yg nyaris tidak berprikemanusian terhadap wanita akhirnya akan berakhir juga, paham jahiliah yg irasional memperlakukan wanita bak budak belian harus disudahi dengan kesadaran bahwa mahluk Tuhan yg indah itu bukan cuma boleh kerukupan dalam dekapan nafsu jahanam, mereka punya hak merdeka bukan saja pakaiannya tapi juga pikirannya, gagasannya, dst, karena Tuhan berkata ; Laki-laki dan wanita punya hak yg sama dalam menerima rahmatNya, kenapa kita memarjinalkannya.

Selamat datang Arab Saudi dalam kancah perang ekonomi dengan mengimport bikini, apa anda terinspirasi sejak pulang dari Bali, datanglah lagi kemari masih banyak tempat yg bisa membuat anda terkesima, daerah Puncak misalnya, bahkan sangking gandrungnya kami bukan saja mengimport cadar, kami telah menyediakan kampung buat tuan-tuan, dan disana sudah berkeliaran anak-anak bermuka belasteran Arab-Sunda, dengan dialek "kumaha".

Sekarang telah dengan sadar anda mulai menuju ke masyarakat dunia pada umumnya, karena dengan alasan apapun agama tidak bisa cuma dibungkus dengan abaya dan menekan wanita untuk tidak berkarya. Bikini bukan soal menjual diri dan tidak bisa dijadikan sebagai bagian manusia rendahan yg memperlihatkan belahan dirinya, karena bikini ternyata bisa mendongkrak ekonomi. Satu pesan kami jangan sampai kalian bolehkan kain ihram dibuka di masjidil haram, kalau itu kalian lakukan Makkah bisa karam.

Zaman sudah bukannya zaman nabi Musa, marilah saling bertukar budaya asal tidak salah gaya, sampai lupa membedakan mana abaya mana kebaya, gamis dibawa kemana-mana, sarung ditinggal dirumah, katanya gamis lebih ramah untuk masuk ke ranah ibadah, dia pikir Tuhan melakukan penjurian lomba pakaian. Sekarang yg gabdrung dengan Arab, sebentar lagi abaya bertukar bikini...hihihi..

Selamat pagi bikini..

Wednesday, August 14, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: