Arab Pegon dan Blangkon

Ilustrasi

Oleh : Mustain Raden

ARAB PEGON adalah salah satu 'maha karya' Orang-Islam Nusantara yang 'tidak terawat' dan nyaris dilupakan orang --minimal terdesak dari lalu-lintas komunikasi masyarakat Nusantara, kecuali mungkin di masyarakat pesantren. (Apakah Anda masih bisa membaca tulisan Arab Pegon di kaos yang kupakai ini?)

Generasi ibuku masih banyak yang melek huruf Arab Pegon. 
ARAB PEGON membuat orang-orang Nusantara lebih mudah mempelajari bahasa Al-Qur'an dan agama Islam. 
Orang-orang Nusantara --Melayu-Jawa-- menggunakan aksara Arab, ARAB PEGON, yang tak banyak dimengerti kaum penjajah, untuk berkomunikasi antar mereka.

Kini nasib ARAB PEGON mirip IKET. Konon ketika para pedagang muslim dari Gujarat datang dengan memakai ikat kepala dari kain putih yang kemudian disebut SERBAN, orang-orang Nusantara --terutama yang muslim-- pun mengikat kepala mereka dengan IKET yang mereka buat dari 'kain lokal'. Belakangan

mereka yang di Jawa mempraktiskannya --mungkin karena mahalnya kain-- menjadi BLANGKON (Serban pun kini ada yang praktis tinggal memakai seperti blangkon). Keutamaan memakai penutup kepala memang ada dalilnya.

IKET dan BLANGKON mungkin malah lebih dahulu terdesak oleh 'perkembangan zaman'.

Waba'du; akhir-akhir ini ada upaya menguri-uri kembali budaya IKET/BLANGKON seperti yang dilakukan beberapa tokoh muslim dengan sengaja memakai ikat kepala made in Nusantara itu sebagai gantinya PECI/SERBAN. Demikian pula upaya menguri-uri ARAB PEGON seperti yang dengan serius dilakukan oleh Ustadz Sahal Mahfudh bin Abdur Rahman dari Pati yang menerbitkan buku "ARAB PEGON" dan memproduksi kaos seperti yang kupakai ini.

Sumber : Status Facebook Mustain Raden

Saturday, March 3, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: