Apresiasi untuk Guru Mengaji Kampung

Oleh: Saefudin Achmad

 

Saya kira di setiap kampung biasanya ada seorang guru ngaji yang konsisten mengajarkan Al-Qur'an dan bacaan shalat kepada anak-anak kecil. Ilmunya tidak tinggi. Jangan bandingkan dengan para kyai besar yang memiliki pesantren, ulama pemimpin ormas besar, serta para profesor. Mereka banya bisa mengajarkan membaca Al-Qur'an dan bacaan shalat.

Namun jangan ditanya soal ketulusan. Para guru ngaji di kampung begitu tulus mengajarkan huruf hijaiyyah dengan penuh kesabaran. Tidak ada kurikulum. Tidak ada target. Hanya ada istiqomah dan kekonsistenan. Terkadang yang berangkat ngaji banyak, terkadang hanya beberapa biji.

 

Mengajar tanpa pamrih. Tidak ada iuran wajib tiap bulan. Melihat anak-anak kecil mau mengaji saja sudah sangat senang. Terkadang, tingkah polah anak-anak itu cukup membuat repot. Namun antusiasme mereka dalam melafadzkan huruf hijaiyah menjadi pelepas dahaga.

Mengajarkan anak kecil agar bisa membaca Al-Qur'an bukan perkara mudah. Membuat lidah mereka 'lanyah' dalam melafadzkan huruf hijaiyah butuh ketelatenan dan kesabaran. Guru-guru yang tidak telaten dan sabar tidak akan bisa membuat anak kecil bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. Soal kesabaran dan ketelatenan, guru ngaji di kampung bisa dikatakan pakarnya.

Saya beranggapan ada masa dimana anak kecil harus diajari membaca Al-Qur'an. Jika masa itu terlewat begitu saja tanpa diajari membaca Al-Qur'an, sampai dewasa dia akan kesulitan membaca Al-Qur'an. Kalaupun bisa, butuh perjuangan dan kefasihannya tidak lebih baik dari yang belajar membaca Al-Qur'an sejak kecil.

Masa yang menurut saya efektif bagi anak untuk diajari membaca Al-Qur'an adalah 1-12 tahun (kelas 6 SD). Usia 1 tahun anak mulai bisa bicara. Siapa yang mengajari membaca Al-Qur'an di usia segitu jika bukan orang tua sendiri atau guru ngaji di kampung?

Biasanya anak masuk pesantren kalau sudah SMP atau SMA. Kalau saya karena terlambat baru masuk pesantren saat kuliah. Di pesantren, anak-anak yang saat kecil belajar membaca Al-Qur'an dari guru ngaji di kampung sangat terbantu. Mereka punya modal yang kuat. Ustadz-ustadz di pesantren pun sangat terbantu karena tak susah mengajari mereka. Biasanya di pesantren adalah tahap penyempurnaan dalam membaca Al-Qur'an.

Berbeda dengan santri yang saat kecil tidak belajar membaca Al-Qur'an dari guru ngaji di kampung. Mereka akan sangat kesulitan di pesantren. Ustadznya pun harus kerja keras untuk bisa membuat mereka bisa membaca Al-Qur'an. Saya pernah merasakan betapa susahnya mengajari santri membaca Al-Qur'an, padahal sudah usia SMA atau kuliah. Usut punya usut, mereka saat kecil tidak pernah belajar membaca Al-Qur'an. Sebaliknya, lebih mudah mengajari anak TPQ yang masih usia SD membaca Al-Qur'an.

Bukan meremehkan sekolah formal, namun saya belum pernah melihat sekolah formal bisa membuat siswanya yang belum bisa membaca Al-Qur'an, yang kemampuan membaca Al-Qur'an masih nol, menjadi fasih membaca Al-Qur'an. Biasanya siswa yang fasih membaca Al-Qur'an adalah mereka yang sejak kecil belajar membaca Al-Qur'an kepada guru ngaji di kampung.

Maka benar bahwa sepandai apapun seseorang, apakah dia sudah jadi ulama besar, pemimpin pesantren, muballigh, dosen agama, dia tetap harus menghormati guru ngajinya di kampung. Meskipun sekarang mungkin ilmunya jauh lebih tinggi, jasa besar guru ngaji di kampung tetap tidak akan terbayar. 

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Wednesday, April 1, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: