Apanya Yang Mau Dicuri Dari KPU?

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Beberapa hari lalu saya interview dengan RRI Pro3 FM, terkait issue hoaks seputar pemilu.

Saya bicara terkait SITUNG dan server KPU, yang sering dijadikan bahan hoaks. Hal ini diakibatkan tidak pahamnya sebagian masyarakat kita bahwa baik Server KPU dan SITUNG ini adalah sistem pendukung, yang tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali.

Yang punya kekuatan hukum adalah hasil rekapitulasi manual berjenjang, lewat sidang pleno bertahap dari tingkat kecamatan hingga pusat, yang dihadiri oleh penyelenggara pemilu, pengawas dan para saksi.

Jadi ekstrimnya, servernya dicuri orang, komputer KPU di semua kabupaten kena virus parah sehingga datanya hilang, itu TIDAK BERDAMPAK apa-apa terhadap Pemilu 2019. Pemilu 2019 akan tetap SAH, meskipun servernya dimasukin hacker dan semua partisi datanya hapus kena perintah fdisk.

Data SITUNG hanya menjadi indikasi kuat hasil real count manual, sehingga adanya kekurangan disana, memang disayangkan, tetapi hasil keputusan KPU hanya tergantung kepada hasil rekapitulasi manual.

Data SITUNG hanya menjadi indikasi kuat hasil real count manual, sehingga adanya kekurangan disana, memang disayangkan, tetapi hasil keputusan KPU hanya tergantung kepada hasil rekapitulasi manual.

Saya sepakat ke depan KPU perlu lebih serius membenahi sistem IT-nya, infrastrukturnya, dan perlu menseriusi mekanisme validasi SITUNG, biar tidak jadi bahan serangan. Termasuk Public Relation yang kurang begitu cakap menyikapi badai issue dan hoaks, ini harus diperbaiki.

Namun yang masih berargumen terkait problematika SITUNG atau Server, untuk menyebut bahwa pemilu ini curang, bahkan membawa-bawa Linux yang dianggap kurang representatif, artinya dia memang kagak ngerti sama sekali literasi kepemiluan ini.

Tong kosong nyaring bunyinya.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Wednesday, May 8, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: