Apakah Vaksin Covid Efektif?

ilustrasi
Oleh : Erta Wiradi Wirawijaya
Ada yang lucu
Dokter-dokter di Amerika Serikat ternyata cukup banyak yang menolak vaksinasi. Kalau anda baca informasi yang beredar online sekitar 60% perawat di Ohio menolak nya, di New York sekitar 50% paramedis enggan di Vaksin. Survey sebuah yayasan di USA menemukan penolakannya mencapai 29%. Artinya hampir 1 dari 3 tenaga kesehatan di USA enggan di vaksinasi. Akibatnya vaksin yang diprioritaskan untuk tenaga kesehatan ini dibeberapa daerah justru tersisa banyak. Padahal program vaksinasi penting untuk mengatasi pandemi ini.
Salah satu alasan yang saya lihat mengemuka dari teman-teman dokter disana karena vaksin yang digunakan disana termasuk barang baru yang belum teruji secara luas. Untuk diketahui vaksin di USA berasal dari Pfizer dan Moderna, keduanya berbasis RNA, ini produk baru yang belum pernah ada sebelumnya. Jadi efek jangka panjangnya masih jadi pertanyaan. Beberapa merasa lebih nyaman menggunakan vaksin inaktif karena jenis vaksin ini lebih terprediksi sifatnya dan teknologinya sudah digunakan ratusan tahun. Kandungannya virus yang sudah dimatikan, dibuat inaktif sama dengan vaksin polio, rabies, hepatitis A, pertusis yang sudah sering kita gunakan. Tapi masalahnya vaksin inaktif tidak ada dalam daftar vaksin yang bisa diberikan untuk mereka.
Perusahaan farmasi barat lebih memilih pengembangan vaksin berbasis RNA (yang sebelumnya belum pernah disetujui untuk digunakan secara luas) dan vaksin berbasis adenovirus (yang uji klinis sebelumnya pada vaksin HIV, vaksin TBC, dan Vaksin Influenza mengalami kegagalan). Sekarang dengan adanya COVID19 mereka buru-buru buat vaksin dengan teknik terbaru dan diluar prediksi mendadak berhasil.
Wajar dong kalau pada akhirnya mereka khawatir.
Mereka skeptis karena vaksin RNA dan adenovirus ini baru (baru dan beres dikembangkan dalam 8 bulan). Efek samping jangka pendek mungkin baik, jangka panjang entahlah. Beberapa lebih memilih vaksin inaktif karena profil keamanannya teruji. Sementara ini vaksin inaktif yang buat dan tampaknya berhasil saat ini cuma perusahaan farmasi China. Kekhawatiran ini tampaknya ditangkap oleh perusahan Farmasi Prancis Valneva, mereka sekarang sedang mengembangkan vaksin Inaktif. Tapi progressnya memang masih tertinggal dibandingkan Sinopharm dan Sinovac.
Lucunya jadi semacam combo karena di Barat tenaga medisnya merasa lebih aman pake vaksin inaktif (yang saat ini baru berhasil dikembangkan China). Sementara beberapa dokter di Indonesia ada merasa lebih aman pake vaksin RNA Pfizer yang baru. Penting juga melihat substansi disini, beberapa dokter barat merasa lebih aman pake vaksin inaktif, sementara dokter Indonesia tampaknya lebih melihat merk-nya Pfizer, perusahaan farmasi ternama yang tentunya buat vaksin berkualitas kan? Vaksin RNA? Mungkin ngga banyak tahu yang ngga perduli dan ngga tahu apa itu. Yang penting katanya efektif.
Kalau saya bagaimana? Kalau saya sih merasa lebih aman disuntik vaksin inaktif karena teknologi dibaliknya sudah lama dipakai dan terbukti aman. Dulu dunia luluh lantak gara-gara polio, sekarang sudah tidak jadi masalah lagi. Vaksin yang digunakan vaksin inaktif. Logika terburuknya kalau menggunakan vaksin inaktif kena COVID19, tapi hal itu hampir mustahil terjadi karena virus SARS COV2 yang terkandung didalamnya sudah dipastikan mati atau inaktif. Sementara vaksin Pfizer itu vaksin perdana RNA di dunia. Jadi untuk profil keamanan saya lebih percaya vaksin inaktif.
Secara teoritis vaksin RNA yang dibuat Pfizer dan Moderna lebih bisa diterima tubuh dan aman karena yang dimasukkan bukan virus inaktif. Tapi RNA yang bisa masuk kedalam sel (seperti virus) untuk menghasilkan spike protein (yang terkandung dalam virus SARS COV2) yang tidak berbahaya sehingga nanti sistem imun kita akan anggap itu sebagai antigen dan membuat antibodi yang sesuai. Nanti ketika virus beneran nya masuk diharapkan spike protein yang ada dalam virus bisa otomatis dikenali dan diserang. Kekhawatiran sejumlah orang yang bilang ini merubah struktur DNA kita, buat kita steril itu tidak berdasar karena terbukti tidak terjadi pada uji klinis fase 1&2. Secara teori aman. Keunggulan lain vaksin model ini menurut pembuatnya adalah vaksin bisa di "program" ulang untuk menghasilkan antigen yang sesuai seandainya terjadi mutasi pada spike protein virus penyebab COVID19. Sesuatu yang saya rasa belum jadi kekhawatiran saat ini. Walau aman jangka pendek, keamanan jangka panjangnya perlu dibuktikan seiring waktu. Sekali lagi ini vaksin perdana umat manusia yang berbasis RNA, wajar dong kalau banyak yang skeptis.
Sementara itu viral vector atau adenovirus seperti yang dibuat Oxford AstraZeneca dan Gamaleya Russia juga termasuk baru, walau teknologinya sudah lama ada, sebelumnya vaksin yang dibuat melalui cara ini untuk HIV, Influenza dan TBC gagal. Adenovirus adalah virus yang ukuran nya besar, dia mudah dimodifikasi. Jika manusia terkena adenovirus jarang ada yang sakit dan biasanya timbul kekebalan yang menetap, karena itu potensial dijadikan vaksin. Vaksin berbasis adenovirus adalah vaksin yg berisi adenovirus yang dimodifikasi, virusnya di edit lalu dipasang spike protein yg terdapat pada virus SARS COV2. Diharapkan kekebalan yang timbul juga efektif untuk COVID19. Hingga kini belum ada juga vaksin berbasis adenovirus yang dijual bebas hingga saat ini. Secara teoritis kekebalan yang didapat melalui vaksinasi adenovirus yang di modifikasi diharapkan bisa memberikan kekebalan yang lama mudah-mudahan menetap. Tapi lagi-lagi itu baru teori. Belum terbukti sampai sekarang karena belum ada vaksin yang berhasil dibuat dan terbukti efektif, sampai sekarang.
Menurut saya vaksin inaktif bisa jadi iya kurang efektif dibandingkan vaksin lain, tapi mendekati kekebalan yang didapat dengan kena COVID19 lalu sembuh. Karena yang dimasukkan tubuh itu virus SARS COV2 yang inaktif. Efektifitas nya bisa ditingkatkan dengan booster dikemudian hari kalau memang ada penurunan titer antibodinya, tanpa berisiko mengalami sakit saat terkena COVID19. Ini jauh lebih baik ketimbang tidak ada proteksi sama sekali. Untuk Indonesia ini jadi pilihan manis karena Biofarma sudah terbiasa buat vaksin inaktif jadi kedepannya bisa dibuat sendiri di sini. Metode penyimpanan nya pun lebih mudah cukup gunakan kulkas biasa.
Sekarang sih yang penting lindungi diri dulu saat badai COVID19 di Indonesia berkembang tidak terkendali. Tidak ada rotan akar pun jadi, tidak ada senapan bambu runcing pun bisa dipakai. Lindungi dulu diri anda dengan vaksin yang ada. Setahun lagi dari sekarang akan ada lebih banyak pilihan vaksin. Saat itu saya berharap sudah ada informasi lebih soal vaksin lainnya yang lebih baru. Kalau memang yang adenovirus atau RNA based misalnya terbukti lebih efektif, lebih aman dan memberikan kekebalan tubuh yang lebih lama ya tinggal dipakai yang itu.
Menurut saya rakyat Indonesia cukup beruntung karena kita punya pilihan, sekarang didatangkan vaksin Inaktif dari China, pertengahan atau akhir tahun didatangkan lagi vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca. Nanti anda mau pake Vaksin inaktif, adenovirus, RNA atau mau test keberuntungan terkena COVID19 nya sendiri silahkan banyak pilihan. Tapi setelah tahu ganasnya virus ini, teman ada yg kena meninggal, paman kena meninggal, saya sih mending pake dulu vaksin yang ada sekarang.
Sumber : Status Facebook Erta Wiradi Wirawijaya
Tuesday, January 5, 2021 - 09:15
Kategori Rubrik: