Apakah Tuhan Birokrat?

ilustrasi

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Ini istilah baru yang saya buat untuk menggambarkan kondisi masyarakat muslim akhir-akhir ini. Setelah melihat kulkas diberi label halal, lalu cat tembok, ada juga panci, entah apalagi.

Banyak orang komplain birokrasi pemerintahan yang rumit, membuat ongkos usaha jadi naik, menurunkan daya saing dalam bisnis dan perlu usaha-usaha untuk mempermudah birokrasi. Pemerintah memangkas sekian puluh aturan agar birokrasi jadi sederhana, orang menciptakan layanan online agar birokrasi jadi simpel tapi justru dalam pengamalan agama diciptakan birokrasi baru.

Birokrasi untuk hidup sesuai aturan agama. Iya aturan agama menurut tafsir para pelaku sertifikasi.
Masyarakat begitu sinis ketika menyaksikan label halal dari MUI untuk kulkas. Berbagai komentar kritis mengikuti. Yang paling terasa adalah bahwa ongkos2 sertifikasi halal adalah ongkos yang harus dibayar konsumen, yang tak lain adalah kita2, masyarakat.

Birokrasi pemerintah rumit mungkin ada peluang mendapatkan uang bagi para pelakunya. Bagusnya, mereka tidak membawa ayat atau nama Tuhan untuk itu.

Birokrasi agama yang ujung2nya cari duit (bagi pihak tertentu) parahnya membawa-bawa ayat dan nama Tuhan. Nama Tuhan yang begitu besar sampai kita sendiri nggak mampu membayangkan dibawa untuk urusan yang sepele, mencari uang!

Segala kerumitan itu tidak berkaitan dengan misi utama agama: memperbaiki akhlak manusia. Jauh urusan akhlak dan labelisasi halal. Dunia bisnis mestinya jangan justru ikut larut menuruti irama MUI atau lembaga pemberi sertifikasi ini. Masyarakat masih banyak yang waras membeli produk yang sehat, berkualitas tanpa harus bersertifikat halal. Entah kalau kementerian agama mewajibkan. Bagaimana nasib UMKM?

Serasa jaman kegelapan Eropa abad pertengahan sedang berjalan di sini. Yaitu, ketika para pemuka agama ingin terlibat di semua urusan masyarakat. Masyarakat dilarang maju atau berpikir di luar tafsir gereja atas ayat Tuhan karena para pemuka agama takut kehilangan kendali atas mereka. Lalu munculah gerakan renaisance/pencerahan. Pasca renaisance di Eropa, justru orang meninggalkan agama. Ini salahnya gereja yang terlalu ingin terlibat di semua urusan masyarakat.
Akankah itu terjadi di sini? Sejarah bisa terulang di tempat lain.

Saya pun bertanya apakah Tuhan birokrat yang suka kerumitan?
Sesungguhnya Tuhan menyukai kemudahan, Tuhan tidak menghendaki kesulitan...begitu bunyi ayat di kitab suci.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko  

Wednesday, August 5, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: