Apakah Semua Manfaat yang Membawa Riba Itu Haram?

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.,MA

.................................................................................................
IKHTISHAR
1. Salah satu 'illat keharaman riba adanya manfaat atas qardh
2. Namun tidak semua manfaat otomatis mengakibatkan riba
3. Manfaat yang dilarang sebatas hanya manfaat yang sifatnya menjadi syarat, atau menjadi kebiasan dan memang diniatkan secara khusus sebagai manfaat.
.................................................................................................

Hadits yang menjadi kunci atas batasan riba sudah masyhur, yaitu :

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Semua qardh yang menarik kepada manfaat, maka itu riba.

Apa yang dimaksud dengan manfaat?

Manfaat adalah segala bentuk keuntungan non ukhrawi yang didapat oleh pihak yang meminjamkan dari pihak yang meminjamkan.

Contoh paling mudah untuk manfaat ini adalah imbalan uang. Pinjam uang 1 juta, tentu kembalikannya 1 juta. Namun ada syarat harus ada manfaat berupa yang 100 ribu. Itulah bentuk akad riba.

Namun apakah semua manfaat yang dihasilkan dari qardh harus selalu jatuh riba? Jawabannya tidak juga. Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi, antara lain :

1. Menjadi Syarat di Awal

Kalau manfaat ini tidak dijadikan syarat dalam qardh, maka tidak masuk kategori riba yang diharamkan. Dasarnya adalah perbuatan Nabi SAW sendiri yang membayar hutang dengan cara dilebihkan dari yang seharusnya, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : كَانَ لِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَيْنٌ فَقَضَانِي وَزَادَنِي

Dari Jabir bin Abdullah berkata: dahulu saya memiliki piutang dari Nabi Muhammad SAW kemudian Beliau SAW membayarnya dan memberi tambahan. (HR. Bukhari)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِىَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ فَرَجَعَ إِلَيْهِ أَبُو رَافِعٍ فَقَالَ لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا رَبَاعِيًا. فَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

Rasulullah SAW pernah meminjam dari seorang seekor onta yang masih muda. Kemudian ada satu ekor onta sedekah yang dibawa kepada beliau. Beliau lalu memerintahkan Abu Rafi’ untuk membayar kepada orang tersebut pinjaman satu ekor onta muda. Abu Rafi’ pulang kepada beliau dan berkata: “Aku tidak mendapatkan kecuali onta yang masuk umur ketujuh”. Lalu beliau menjawab: “Berikanlah itu kepadanya! Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya”. (HR. Muslim).

إن خيار الناس أحسنهم قضاء
Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya”. (HR. Muslim).

Pinjamnya unta yang usia muda tapi bayarnya unta yang usia 7 tahun. Ini jelas kelebihan dan menjadi manfaat, namun justru Beliau SAW membolehkannya.

Para ulama sepakat bahwa kebolehannya disebabkan tambahan ini tidak menjadi syarat peminjaman, tetapi terjadi begitu saja.

2. Tidak Menjadi Adat atau Kebiasaan

Boleh jadi memang tambahan atau manfaat itu tidak dijadikan syarat, namun kalau sudah menjadi kebiasaan, jatuhnya sama saja. Sebab ada kaidah yang baku dan masyhur di tengah para ulama :

المعروف عرفا كالمشروط شرطا

Suatu hal yang dibenarkan oleh kebiasaan (adat) sama halnya dengan sesuatu yang dibenarkan dalam syarat perjanjian.

3. Manfaat Yang Bersifat Khusus

Memang ada larangan manfaat seperti memboncengkan si pemberi hutang, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلا يَرْكَبْهَا وَلا يَقْبَلْهُ ، إِلا أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ
Apabila salah satu dari kalian meminjami (kepada orang lain) suatu pinjaman, kemudian (orang yang dipinjami) memberi hadiah kepadanya atau memberikan tumpangan atas kendaraannya, maka janganlah dia menaikinya dan jangan (pula) menerimanya.” (HR. Ibnu Majah).

Namun para ulama sepakat bahwa manfaat yang dimaksud ini memang disyaratkan dan bersifat khusus, semata-mata karena sebab adanya qardh atau pinjaman.

Sedangkan manfaat yang sifatnya umum, dimana orang yang meminjam sudah bisa memberi manfaat kepada khalayak, termasuk kepada yang meminjamkan, maka tidak termasuk manfaat yang diharamkan.

Diantaranya hadiah yang sifatnya umum seperti menyuguhkan makanan sebagai tetamu dalam acara walimahan. Makanan yang terhidang sebenarnya termasuk hadiah dari pemilik hajat kepada para tetamu.

Sedangkan salah satu tamunya adalah orang yang memberi hutang. Apakah jadi haram baginya untuk makan dalam hidangan walimah si peminjam?

Jawabannya tidak.

Silahkan perhatikan fatwa Al-Khatib Asy-Syirbini dan Ibnu Hazm berikut ini :

ولا يكره للمقرض أخذه ولا أخذ هدية المستقرض بغير شرط. قال الماوردي: والتنزه عنه أولى قبل رد البدل
Tidak dimakruhkan bagi pemberi hutang mengambil tambahan atau hadiah dari penerima hutang jika tidak disyaratkan. Al-Mawardi berkata: Namun berhati-hati (tidak mengambilnya) lebih baik jika hadiah tersebut sebelum pelunasan hutang. (Lihat : Mughni al-Muhtaj jilid 3 hal. 34)

وهدية الذي عليه الدين إلى الذي له عليه الدين حلال - وكذلك ضيافته إياه ما لم يكن شيء من ذلك عن شرط

Hadiah dari orang yang hutang untuk pemberi hutang halal hukumnya. Begitu pila jamuan jika tidak disyaratkan. (Lihat Al-Muhalla jilid 6 hal. 359)

Kesimpulan :

1. Salah satu 'illat keharaman riba adanya manfaat atas qardh
2. Namun tidak semua manfaat otomatis mengakibatkan riba
3. Manfaat yang dilarang sebatas hanya manfaat yang sifatnya menjadi syarat, atau menjadi kebiasan dan memang diniatkan secara khusus sebagai manfaat.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Saturday, October 5, 2019 - 13:00
Kategori Rubrik: