Apakah Saya Materialis?

Dan saya lebih malu lagi saat teringat saya segera berlari panik ke jendela saat terdengar suara gedebuk orang jatuh. Kepanikan terutama disebabkan ketakutan saya bila mobil saya tertimpa sesuatu. Betapa matre dan egoisnya. Betapa saya telah menghamba pada harta.

Saya tahu, dengan tingkat penghasilan saya saat ini, membeli mobil bukan sesuatu yang murah dan mudah. Sehingga saya pun tak mau mengatakan apa sih artinya mobil. Terlalu utopis. Saya hanya menyesali hilangnya ketulusan menjalani hidup pada diri saya. Seandainya saya seorang yang berwelas asih, pikiran pertama saya adalah: semoga tak ada korban. Tetapi Vika Klaretha, si jiwa matre malah berpikir: semoga mobil saya tidak kenapa-kenapa.

Mungkin itu yang membedakan saya dan Pak Boss. Pak Boss mungkin tak mencemaskan hal-hal tak perlu, kecuali rasa kasihan dan keinginan menolong. Tak heran Pak Boss dengan tenang mengambil tindakan. Mengangkat korban, dan membawanya ke Rumah Sakit. Abai dengan cat-cat yang mengotori pakaiannya. Tak peduli pula pada pangkatnya. Sebab saya yakin, banyak orang bila di posisi Pak Boss, lebih memilih memerintahkan bawahannya untuk mengangkat dan membawa korban ke RS.

Saya merasa tertampar sekali, mendapati hidup saya masih sangat dipenuhi kemelekatan super kuat pada materi. Kemelekatan materi itu sering berujung menjadi sombong, bila materi berlimpah ruah. Atau sebaliknya, menjadi minder dan pendendam bila materi tak seberapa, bahkan tak ada. Kemelekatan yang seringkali menutup kemanusiaan.

Saya takut menjadi begitu.

PS:
Tetapi ada sedikit bahagia juga. Saat kejadian, saya bukan menjadi orang yang sibuk mengambil foto korban, tanpa berbuat apa-apa. Paling tidak saya sedikit lebih bisa mengekang jiwa narsis saya. Meski saya tetap tak tahan memotret Pak Boss dan baju penuh noda catnya sepulang dari RS.

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *