Apakah Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo Itu Penting?

 

 

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Pentingkah rekonsiliasi antara Jokowi dengan Prabowo? Nggak penting. Wong untuk cipika-cipiki ‘gitu doang, susah amat. Padahal, amat seperti bintang kecil. Amat banyak menghias angkasa.

Apakah aku ingin terbang dan melayang? Jauh tinggi ke tempat kau berada? Kau siapa? Kau Tuhan atau kau kesombongan, yang dengan ketemu saja maka keyakinanmu runtuh? Kemudian ambruk tiada daya? Tiada identitas? Tiada harga diri?

 

 

Katanya capres pilihan dan dukungan ijtima ulama? Lha kok nggak ngerti makna silaturahmi, apalagi di bulan Syawal? Sampai kelak MK mutusin yang sah menjadi Presiden pun, keributan akan tetap terjadi. Setidaknya, medsos terus saja jadi TPA, Tempat Pembuangan Akhir dari sampah-surepah. 

Tak jelas, di mana peran ulama yang milih capres kek begitu? Apa tak bisa ngasih tadaburan, bahwa membuka pintu silaturahmi sama dengan membuka pintu rejeki? Atau nggak butuh rejeki, karena tabungan di Swiss masih aman, dan nggak bakal jatuh miskin meski kemarin kampanye Pilpres habis 300-an milyar?

Demokrasi kita memang bukan hanya demokrasi elitis, tapi juga masih paternalistik. Kalau capres cewek mungkin demokrasi kita disebut maternalistik, meski yang tepat adalah materialistik. Kaum cewe kemarin cukup dieksploitasi saja, dengan menyebut partai mak-emak militan. Itu sudah bungahnya mintak ampun!

Lagian apa yang mau direkonsiliasi? Ideologi politik? Cara memakmurkan rakyat atau memajukan ekonomi? Tak ada beda secara tajam. Yang menjadikan terpecah lebih karena ideologisasi agama. Dan itu karena satu capres yang dikibuli kelompok kecil pengaku ulama. Padahal ubaru. Baru banget. Muncul dadakan menjelang pilpres.

Kalau MK mutusin Jokowi akhirnya jadi presiden, bukankah lawan yang kalah bisa jadi oposan yang baik? Emangnya jelek jadi oposan? Kalau jelek, bukan posisi penyebabnya. Melainkan karakter individu dan perilakunya yang buruk. 

Apalagi kalau perdebatannya hanya soal benar dan tidak benar. Lebih penting dari itu semua, ialah soal tepat atau tidak. Tidak tepat bisa jadi salah, tapi tepat bisa dipastikan benar, walau pun benar belum tentu tepat. Setidaknya, benar menurut siapa?

Benar menurut Rocky Gerung, Effendy Ghazali, Fahri Hamzah, Emha Ainun Nadjib? Apakah kebenaran mereka tepat? Belum tentu. Dalam situasi transisi, pemerintahan yang masih disesaki Sisa-sisa Laskar Orba, tak semudah omongan mereka. Jangan lupa, bagaimana pun Prabowo, dipilih 44,50% suara, mungkin termasuk nama-nama tersebut di atas yang memilih. Padahal siapa Prabowo? Mari ditimbang.

Itu bukti nyata, disandingkan dengan Jokowi saja, segitu penilaiannya. Lha wong ASN saja, di atas 70% nggak milih pertahana. Meski jumlah mereka nggak significant, tapi itu pesan simbolik, bahwa perubahan banyak musuhnya, termasuk dari tukang gembar-gembornya tadi. Bayangin, mudik bawa mobil, milih masuk ke sawah daripada melalui jalan tol bikinan Jokowi. Meski yang merem karena bagusnya infrastruktur lebih banyak. Wong jadi orang kayak Fadli Zon juga tidak mudah.

Jadi, apa yang mau direkonsiliasikan? Dikompromikan? Kompromi atas apa? Kalah ya kalah. Kalau nggak terima, sepanjang nggak ngelanggar hukum, biarin aja. Nggak usah sok bijak.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, June 14, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: