Apakah Nonmuslim dan Bukan Suku Jawa Bisa Jadi Presiden Indonesia?

Oleh:Herman Pakpahan

 

Kalau anda sering membaca tulisanku, maka saya mau katakan bahwa saya tetap akan menyuarakan baik di tulisan maupun di dalam diskusi publik. Apa itu?!

Selalu dalam acara Diskusi publik seperti yang di selenggarakan Bara UI, saya hadir mau bicara secara pribadi kepada salah satu Nara Sumber yaitu Prof. Sumanto Al-Qartuby, demikian juga diskusi di SBSI yang jadi nara sumber yang saya incar ada dua orang, Pigai dan Yudi Latif. Dan kemarin sore ada dua orang pembicara yang saya targetkan untuk bertanya, Muhaimin dan Gus Nadin. Sebagai seorang Gusdurian, saya harus bertanya kepada Gusdurian lainnya. Apalagi Gus Nadin adalah pengagum Gusdur seperti saya. Dia prof hukum di Australia.

 

 

Pertanyaan yang sama yang saya sampaikan adalah : " Apakah Abraham dari Tanah Ilaga Papua yang beragama Katholik, bisa menjadi Presiden di Indonesia?! Ingat saya yang bertanya ini bukanlah seorang suku Papua dan bukan Katholik, Angel dari Minahasa Utara yang beragama Protestan bisakah di terima menjadi Presiden di Indonesia?! Ingat! Saya bukan berasal dari Minahasa Utara dan saya bukan Protestan, Made dari Bali yang beragama Hindu akankah bisa menjadi Presiden di Indonesia?! Ingat! Saya bukan orang Bali dan saya yang bertanya ini bukanlah beragama Hindu. Apalagi Mey Mey dari Singkawang, mungkinkah Mey Mey yang suku Tionghoa dan beragama Budha menjadi Presiden di Indonesia?! Sekali lagi saya ingatkan, saya bukan warga Singkawang dan saya bukan beragama Budha.

Anda mau tahu apa jawaban yang saya dapatkan?!.

Dari Yudi Latif saya mendapat jawaban "BISA" tapi harus di perjuangkan.

Dari Prof. Sumanto saya dapat jawaban, selama Indonesia mengakui Pancasila sebagai Azas Tunggal, maka siapapun Putra Putri Indonesia yang terbaik berhak menjadi pilihan menjadi Presiden dan Wakil Presiden, kecuali Indonesia menganut paham Khilafah.

Dari Gus Nadin saya dapat jawaban begini, " sama saja anda bertanya, apakah saya Gus Nadin bisa menjadi Perdana Menteri di Australia, Apakah umat Islam bisa jadi Presiden di Amerika Serikat.

Pada 3 kesempatan diskusi publik yang sudah berhasil saya untuk bertanya dan itulah jawaban yang saya terima. Jujur hanya jawaban Prof. Sumanto yang mengena di hatiku, bagaimana dengan sahabatku pembaca?!

Dan ada satu kejadian yang membuat pribadiku sangat simpatik kepada beliau, saat memasuki ruangan dia duduk di bangku tamu barisan ke tujuh dari depan, tak satu orangpun yang mengenal beliau, bahkan tidak ada panitia yang menyambut dia untuk mempersilahkan duduk di bangku depan.

Sedikit saya ceritakan, saya hampiri beliau bersama sahabat saya Nur, dan mereka berdua jadi larut dalam percakapan, lalu dua sahabatku Yenni dan Pelangi pun saya ajak bertemu Sumanto untuk berkenalan dan berfoto bersama.

Rasa penasaranku menuntun saya menginvestigasi lebih jauh, kenapa tidak ada panitia yang menyambut beliau, di pintu masuk semua panitia hadir berdiri dan duduk, Teten masuk ruangan di sambut begitu mesranya, saya tanya ke meja penerimaan tamu yang bertugas masih mahasiswa mahasiswi, dan saya baca nama Sumanto utusan Perseorangan, saya langsung teringat ada anggota DPR dari fraksi Perseorangan di negeri ini tertulis di lembaran daftar tamu.

Kenapa saya tanyakan pertanyaan yang seperti diatas?!. Perdana Menteri ke 2 di Indonesia yang tidak banyak dikenal bangsa ini yaitu Amir Syarifuddin Harahap, sudah pernah dua kali saya tuliskan kisah tentang beliau. Bapak Perdana Menteri kedua ini adalah seorang putra Batak beragama Protestan, tapi dulunya dia adalah seorang anak yang di besarkan dalam keluarga yang Islami, alias Murtadin.

Kalau dia hidup di zaman sekarang ini, saya yakin bukan hanya halal darahnya untuk di bunuh. Tapi akan jadi sasaran pembantaian, Basuki Tjahaja Purnama saja mencalonkan jadi Gubernur provinsi DKI Jakarta bisa halal darahnya, sampai anak anak bebas bernyanyi, ....bunuh...bunuh...bunuh si Ahok. Bunuh si Ahok sekarang juga..... dengan damainya anak anak meneriakkan yel yel dan menyanyikan membunuh Ahok.

Karena, jika kita mengakui Pancasila satu satunya dasar Negara ini, maka seharusnya jawabannya adalah semua putra putri Indonesia yang Loyalitasnya tinggi untuk bangsa dan negeri ini, yang punya Integritas yang baik dan teguh berhak untuk mencalonkan dan dicalonkan menjadi bukan saja menjadi Gubernur, tapi juga menjadi Presiden di Negara Pancasila ini, tanpa harus menanyakan apa agamanya, tanpa harus diskriminasi atas warna kulitnya.

Tapi jika anda tidak bisa menerima Presiden di Indonesia bukan berasal dari suku Jawa dan bukan beragama Islam, pikirkan kembali jiwa Pancasila anda, jangan jangan anda juga abu abu, kalau diartikan dengan warna, ada warna hitam ada warna putih. Kalau warna abu abu 50 % hitam dan 50% putih.

Melalui tulisanku ini, saya menegaskan dan mengajak anda, apakah anda benar benar setia berteriak Saya Indonesia, Saya Pancasila?!. Atau anda abu abu?!

Selamat Pagi, jangan lupa berbuat dan berbagi kebaikan di sepanjang hari ini. Salam Rahayu.

 

(Sumber: Facebook Herman Pakpahan)

Tuesday, July 25, 2017 - 17:15
Kategori Rubrik: