Apakah Kita Lebih Suci dari Afi Nihaya?

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Saya tidak tahu apa yang di pikirkan orang-orang soal Afi. Tapi mendadak saya kasihan pada remaja itu, teramat kasihan.

Hari belakangan ini pasti akan begitu berat di jalani Afi. Jauh lebih berat dari menghadapi tuduhan Plagiat yang terus menggempurnya. Entah apa alasan yang mendasari banyak orang menuding ia bagian dari skenario untuk memojokan islam. Hari ini ia di benturkan dengan mereka yang antipati dengan Presiden Jokowi.

Hari hari ini ini Afi di serang pribadinya, ia di telanjangi di gugat kelayakannya di undang Jokowi dan hadir di sejumlah media.

Hal pribadinya di ungkap ke publik. Dalam dua situasi ini saya melihat Afi justru sebagai korban. Saya yakin para netizen yang melakukan share status bocah ini lantaran konten dan narasinya yang menarik. Mereka yang melakukan share tidak sempat bertanya dan menggali lebih jauh soal latar belakang Afi. Termasuk dari mana asal tulisan Afi. Sekali lagi ini soal konten dan Narasi. Afi bukan siapa siapa.

Saya sendiri tidak tahu siapa Afi ini, kami hanya pernah bertemu dua kali dalam sebuah forum. Pertanyaannya kemudian, apakah yang membully Afi itu lebih baik dari Afi? entahlah. Tapi mendebatkan soal layak tidaknya Afi di undang Jokowi dan media justru mendangkalkan persoalan sesungguhnya.

Menyimak konten dan ucapan orang yang membully Afi saya hanya berdoa semoga ia kuat dan sanggup menjalani semua ini. Kiriman pesan WA ku ke Afi blum terkirim, tapi semoga doaku sampai untukmu nduuk...!! Tabah dan kuatlah, maafkan kami orang dewasa yang gagal menjadi contoh yang baik, kami malu.

Lebih elok kita mendiskusikan konteks tulisan Afi dalam kerangka bernegara kita. Tentang konsep demokrasi kita yang menjadikan pancasila sebagai tolok ukur. Tentang konstitusi kita yang menjadikan konsep Republik sebagai ruhnya. Tentang kebhinekaan, keberagaman sebagai jantung falsafah bangsa.

Dengan apa yang saya tulis ini, saya tidak patut di kasihani. Kita lebih patut kasihan pada Afi, yang menjadi tertuduh sebagai bagian dari skenario memojokan Islam dan seabrek tuduhan brutal lainnya. Kita lebih patut kasihan pada nalar keberagaman kita, pada sikap ambigu kita dalam bernegara, pada sikap kita yang mencaci orang lain di sisi lain kita juga gagal berperilaku lebih baik.

Afi mungkin pendosa, tapi kita bukan orang suci tanpa dosa yang layak mengambil peran Tuhan mengadilinya. Afi mungkin bersalah, tapi kita bukan orang suci yang layak menjadi algojo memerintah Afi bunuh diri. Kita, jari kita jangan menjadi alat pembunuh atas nama kebencian. Kita boleh tidak senang, tapi kita masih sama menghamba belas kasih dan ampunan bukan?

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Wednesday, July 12, 2017 - 21:30
Kategori Rubrik: