Apa Yang Ditakutkan Dari New Normal?

New Normal hidup normal yang baru, artinya belajar TERTIB dan SANTUN, seperti tabiat masyarakat Singapore, bagi yang pernah kesana pasti tau.

New Normal ini seperti perokok yang tiba-tiba dalam satu kurun waktu yang singkat dimusuhin, dan entah gimana caranya mereka berhasil dengan kebiasaan barunya. Tiba-tiba mereka bisa tahu diri.

Itulah kodrat manusia, selalu punya cara membuat penyesuaian terhadap apapun yang menimpanya. Selalu ada hal baru yang harus dilaluinya meski kadang tak ingin.

Demikian pula ajakan Presiden Jokowi untuk kita pahami tentang makna bahwa hidup kita berubah sejak Covid-19 ini.

Hari-hari kita sudah tidak sama lagi seperti kemarin. Ada kebiasaan yang tiba-tiba harus kita buang karena sudah tak sesuai lagi.

Presiden mengajak bagaimana kita kembali bekerja dan beraktifitas namun ada hal-hal yang harus banyak kita rubah dalam keseharian kita.

Apakah sulit?

Pernahkah kita masuk pada situasi tak mungkin tidak, harus mengambil putusan?

Tak selamanya hidup memberi kita kemewahan memiliki banyak pilihan. Untuk kali ini Hanya ada kanan dan kiri, lurus tak ada.

Ke kanan ada kemungkinan kita akan kehabisan makanan dan pada akhirnya mati. Ke kiri ada potensi tertular penyakit yang siap memangsa kita. Tak memilih, gak ada opsi itu.

Membuat warga tetap tinggal dirumah tanpa batas waktu yang jelas, pasti akan membuat negara runtuh. Tak ada satupun negara mampu memberi makan warganya yang tak bekerja selama setahun penuh!

Mengajak warganya yang secara fisik kuat dan sehat untuk beraktifitas dengan skala terbatas dan mulai membiasakan diri dengan kebiasaan yang sama sekali baru, juga bukan jaminan akan menyelesaikan masalah dengan cepat.

Ini bukan tentang memilih baik dan buruk, juga hitam dan putih. Simalakama, pahit namun hanya itu pilihan yang ada.

Disinilah kodrat atas ketangguhan kita sebagai penguasa planet selama empat juta tahun lebih ini sedang ditantang.

Dulu, ketika Presiden memilih PSBB sebagai cara bagi bangsa ini berperang melawan virus tersebut, pro dan kontra terjadi. Hujatan bahwa negara tak bertanggung jawab menjadi trending berhari-hari.

Benar atau salah pilihan tersebut bukan kita wasitnya. Tak mungkin kita sebagai pemain akan sekaligus menjadi wasit.

Namun majalah The Economist Intellegence, sebagai pihak netral bercerita lain. Dia menilai Indonesia adalah satu diantara tiga negara yang dianggap berhasil mengatasi pandemi dengan penilaian bagi banyak investor dibelakangnya. China dan India adalah dua yang lain.

Apakah fair penilaian itu, dapat terlihat dari bagaimana tanggapan invenstor. Tanggapan investor, terwakili dari menguatnya mata uang kita saat itu. Dan.....Rupiah menguat.

Beberapa hari yang lalu Sebuah studi dari CEOWorld sekali lagi menempatkan Indonesia pada urutan ke 4 dari 10, sebagai negara terbaik bagi investasi untuk tahun 2020.

Studi ini merujuk pada lingkungan investasi dan bisnis. Disana masalah korupsi, tenaga kerja, perlindungan terhadap investor, infrastruktur, pajak, kualitas hidup dan kesiapan teknologi adalah apa yang menjadi dasar penilaiannya.

Singapura, Inggris dan Polandia adalah tiga negara yang mengalahkan posisi Indonesia.

Selanjutnya India, Australia, Filipina, Amerika Serikat, Malaysia dan Republik Ceko dan Iran.

Dan secara luar biasa, Rupiah dalam tiga hari terakhir ini menempati urutan tertinggi sebagai mata uang paling perkasa di dunia justru setelah ide dan gagasan Presiden Jokowi yakni istilah New Normal diperkenalkan.

Sekali lagi, saat kita sebagai warga meragukan putusan pemimpin kita sendiri, diluar sana, mereka, para pemilik modal memberi penilaian positif terhadap langkah yang diambil Pemerintah Indonesia. Ukurannya lagi dan lagi, Rupiah menguat.

Apakah itu pertanda baik?

Tak ada mata seawas dan setajam mata elang saat berburu. Tak ada penciuman sesensitif hidung anjing bagi petugas imigrasi saat memeriksa bawaan penumpang di bandara.

Demikianlah, tak ada yang sejeli dan sesensitif naluri milik investor bila hal itu berhubungan dengan keuntungan.

Mereka telah mengendus bahwa kedepannya, Indonesia adalah tempat aman dan tepat bagi investasi demi meraih keuntungan bisnisnya. Tak ada yang dapat mengalahkan insting mereka.

Jangan membandingkan penilaian seperti ini dengan para politisi, apalagi seorang Mardani dan sejenisnya. Narasi orang-orang sekelas dia hanya tentang sejengkal jarak dari perut saja.

Bukan tentang uang dan investasi yang akan kita beri harga lebih mahal dibanding nyawa warga negara, ini adalah tentang keharusan memilih arah ke kiri atau ke kanan.

Ini adalah tentang kita yang harus terus bergerak dan bekerja. Keduanya sama-sama tidak mudah.

Seandainya para investorpun tak pernah hadir sebagai petunjuk, Presiden harus berbelok kanan ketika politisi semacam itu memintanya belok kiri. Sudah sesimpel itu.

Terminologi New Normal diperkenalkan. New Normal tidak lebih dan tidak kurang adalah jalan bergelombang dan tak nyaman yang tetap harus kita ambil karena harus.

Namun disana bukan tidak ada kebaikan. Disana masih ada harapan kita dapat melawan dibanding hanya dengan menunggu.

New Normal adalah paradigma baru tentang apa itu hakikat sebuah kenormalan. Dimasa lalu, normal adalah tentang kita yang cipika cipiki saat lama tak bertemu dengan teman dekat dan saudara kita.

Dimasa lalu kita cium tangan sebagai tanda hormat. Dimasa lalu kita biasa berdesakan tanpa masker.

Itu semua adalah tentang banyak hal baik yang tiba-tiba harus kita rubah sehubungan dengan New Normal. Dulu kita diajarkan membuang yang buruk dan mengambil yang baik.

New Normal juga akan mereset apa hal baik dan kurang baik. Kita akan diperkenalkan pada tatanan baru.

Kita akan dan harus berani memulai suatu yang baru. Kedekatan personal kita mungkin akan lebih terhambat, namun itulah dunia setelah Covid-19 ini.

Dunia memang akan berubah dan kita harus mengambil itu.

Benar...,kita akan sedikit terpaksa mengambil hal itu demi kelangsungan hidup kita. Hanya butuh usaha membiasakan diri saja.

New Normal bukan jalan yang menyenangkan, namun itu jalan terbaik yang kita miliki. Bukan hanya kita, seluruh dunia secara perlahan akan mengikuti langkah kita.

Haruskah kita terus berdebat?

Menunggu dan menyongsong adalah dua peristiwa dengan obyek yang sama. Bila peristiwa kematian adalah apa yang kita bicarakan, daripada menunggu, saya lebih bangga menyongsongnya.

(Karto Bugel/TP)

Tags: 
Saturday, May 30, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: