Apa Sih Hebatnya Bandung

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Itu yang saya tanyakan pada seorang karib yang tinggal disana yang biasa saya sewa mobilnya. Terus terang saya paling males ke Bandung kalau tidak terpaksa karena tugas.

Kemacetan tiada tara hanya untuk cari sepotong baju yang harganya sama dengan di Jakarta, bagi saya adalah keputusan yang tidak masuk akal. Ongkos ke Bandung bisa beli baju dua tiga potong d Pasar Pagi, Thamrin Square dan sejuta mol dan pusat perbelanjaan di ibu kota.

Kan jalan-jalan sambil wisata kuliner?. Halah.. semua makanan yang ada di Bandung ada kok di Jakarta. Nasi goreng gila, roti boy, brownies alamanda, cimory, rechees soes merdeka,cilok, Zupa soup dan sejuta makanan lainnya. Jadi ngapain ke Bandung ?

Ada Tangkuban Perahu, Maribaya atau Kawah Putih. Halah! Cuma itu aja kok dibanggain. Cuma liat belerang dengan tarif parkir selangit dan disuguhi stroberi oplosan yang direndem gula dan pewarna.

Jadi apa kelebihan Bandung,kecuali sajian kambing guling yang enak di sebuah hotel dekat Universitas Maranatha. Atau Ridwan Kamil, Wali Kota ganteng itu?

Kata kawan saya : Gini Kang.. semua yang akang komplen itu bagian cara bertahan orang Bandung. Otak orang Bandung sejak dahulu selalu diputar untuk mengeluarkan ide-ide.baru yang gres dan bikin tren supaya bisa makan dan nyambung idup. Dari stiker,kaos,cendol, pisang.molen sampai factory outlet. Semuanya kadang muncul bersamaan hingga Bandung seperti Neng Geulis yang sering ganti baju.

Sayangnya, para Neng Geulis itu cepet abis di boyong ke Jakarta jadi dagangan yang jadi trend langsung jeblok penjualannya. Liat aja tukang nasi goreng gila di deket Jalan Braga yang terkenal itu. Sekarang omsetnya biasa-biasa aja karena sekarang nasi goreng gila sudah muncul dan laris di Jakarta sampai ke gang-gang becek. Jadi bukan khas Bandung lagi.

Sama nasibnya dengan Soes Merdeka atau Pisang Bolen Kartika. Dijiplak dimana-mana dan sekarang rasanya sudah kalah dibandingin buatan Holand Bakeri.

Kawan saya kemudian melanjutkan. Demikianlah Bandung kang. Ide-ide gila dan kreatif akan terus muncul karena hanya dengan itu orang Bandung bisa bertahan hidup. Bandung yang jadi ibukota Jawa Barat diisi oleh para menak dan dikelilingi raja-raja kecil yang tidak pernah mengurus nasib orang kecil. Dia mengecualikan Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi karena figur favoritnya dia.

Orang-orang ini termasuk yang ada di Pemda yang terus buat Bandung kembang kempis nasibnya. Teu aya ( tidak ada) terobosan yang bikin Bandung jadi pusat inkubator IT padahal ada ITB sama Politeknik Bandung. Atau pusat-pusat pengembangan wirausaha untuk menampung takdir orang Bandung yang selalu punya ide-ide kreatif.

"Jadi larangan transportasi online di Jawa Barat gimana Kang", tanya saya.

Nah itu Kang! Kebijakan gaya menak. Main larang kayak ngusir kaki lima. Teu pake mikir dulu. Takut kali ya orang-orang itu keilangan suara maklum mau Pilkada.Banyak orang yang nganggur sekarang. Kan harusnya diomongin dulu ya kang..

Jadi bego dong orang-orang yang larang itu? DPRDnya ngapain aja?

Udah jelas bego. Tapi kita biasa kok di bego-begoin. Kita bisa idup karena kita pake otak, kang. Gak kayak mereka.

Jadi gimana tuh setelah pelarangan. Apa yang mau dilakuin warga Bandung?

Ah! Gampang kan. Kita lagi mikirin bikin group WA yang isinya kayak Gojek, Grab atawa Uber. Pesen ojek atau taksi dari situ kang.. Sama kan kayak akang sewa travel saya..

Iya bener. Salut sama urang Bandung yang tetep waras dan ide-ide kreatif meski berkali-kali di bego-begoin..

Nuhun kang.. ehh nginep di hotel mana? Apa yang mau deket karaoke?? Saya bisa cariin..

Hallahhh....

Gue di bego-begoin kalo gini caranya kang... Keluar terus idenya.. urang Bandung mah..

Aduhh maap.kang ngapunten..

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Saturday, October 14, 2017 - 21:45
Kategori Rubrik: