Apa Sih Ajaran Islam Itu?

Oleh: Satria Dharma
Salah satu masalah besar kita sebagai umat Islam dalam memahami agama adalah ketidakmampuan kita untuk MEMBEDAKAN mana yang ajaran agama, mana yang budaya, mana yang sejarah, mana yang ijtihad, mana yang pendapat ulama, dll.
Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh nabi Muhammad (atau yang dilakukan oleh para nabi yang tertulis dalam Alquran) adalah ajaran agama. Padahal tidak.
 
Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh para khalifah Islam adalah ajaran agama yang perlu kita ikuti. Tentu saja tidak.
Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa pendapat para ulama pastilah merupakan ajaran agama semua. Tentu saja tidak. Sebagian besar dari apa yang mereka sampaikan jelas hanyalah hasil pemikiran mereka. Meski pun mereka telah berusaha keras untuk mendasarkannya pada Alquran dan hadist paling shahih.
Para nabi itu punya beberapa istri. Tapi ada juga yang tidak beristri. Nabi Muhammad bahkan punya lebih dari empat istri. Nabi Daud bahkan sampai didatangi oleh malaikat perkara berlebih-lebihannya dalam soal memiliki istri. Nabi Sulaiman katanya juga istrinya puluhan orang. Tapi jelas punya banyak istri itu BUKAN ajaran agama. Itu hanya kebiasaan dan adat istiadat orang-orang zaman dahulu di mana para nabi termasuk di dalamnya.
Nabi Muhammad itu makanan utamanya adalah kurma dan sehari-hari mengenakan gamis. Kalau pergi ke mana-mana ya jalan kaki atau naik onta. Tapi makan kurma, pakai gamis, naik onta, bukanlah ajaran agama. Bukan itu yang mau diajarkan oleh Nabi. Apalagi sampai minum air kencing onta. Ya, Allah, bukan itu…!
Nabi Sulaiman mengancam untuk menginvasi negara tetangganya (Negara Saba milik Ratu Balqis) dan akan menghancurkannya jika tidak tunduk padanya. Tapi itu juga bukan ajaran Islam. Kita tidak diajari untuk menginvasi negara lain. Ketika pemerintahan Khalifah Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia. Umar juga mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar. Semua penaklukan ini adalah sesuatu yang luar biasa. Tapi itu juga BUKAN AJARAN AGAMA. Itu semua adalah inisiatif, ide, dan prakarsa Khalifah Umar beserta semua sahabat yang hidup pada zaman itu.
Abu Bakar ketika naik menjadi khalifah bertekad untuk memerangi pembangkang yang tidak mau bayar zakat. Meski pada mulanya Umar tidak setuju tapi pada akhirnya sepakat dan para pembangkang tersebut diperangi. Memerangi pembangkang zakat meski pun didasarkan pada pendapat Khalifah Abu Bakar dan tercatat dalam sejarah juga bukanlah ajaran agama. Yang menjadi ajaran agama adalah IJTIHAD dalam memutuskan sesuatu perkara.
Begitu juga dengan berdirinya kekhilafahan setelah Nabi wafat. Berdirinya kekhilafahan dengan diawali dengan naiknya Abu Bakar ra sebagai khalifah pertama juga BUKAN AJARAN AGAMA. Memilih serta memiliki pemimpin dan mematuhinya adalah ajaran agama. Tapi apakah bentuknya kehilafahan, dinasti seperti Umayyah, Abbasiyah, Usmaniyah, kerajaan seperti Nabi Sulaiman, republik seperti Indonesia, itu BUKAN AJARAN AGAMA. Itu sepenuhnya merupakan ijtihad dan kesepakatan umat saja.
Apakah mendirikan kekhilafahan itu wajib? Tidak.
Yang wajib itu PUNYA PEMIMPIN dan memilih yang terbaik di antaranya. Tapi perlu dipahami bahwa seringkali umat Islam itu TIDAK PUNYA PILIHAN dalam hal siapa pemimpinnya. Lha kalau sistem pemerintahan negaranya adalah dinasti atau kerajaan ya jelas tidak ada soal pilih memilih itu. Para khalifah pada zaman Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Ustmaniyah, dll tidaklah naik melalui pemilihan. Umat Islam TIDAK PUNYA HAK pada waktu itu. Sultan Hassanal Bolkiah, tetangga kita yang kaya raya itu, itu bukanlah PILIHAN atau menjadi pemimpin karena dipilih oleh rakyat Brunei. Apakah hal ini sudah sesuai dengan ajaran Islam? Ya sudah. Sepanjang rakyat Brunei sepakat dan Sultan Hassanal Bolkiah telah dilantik maka sahlah dia sebagai pemimpin Brunei. Soal naiknya pemimpin apakah melalui keturunan atau melalui pemilu itu hanyalah soal teknis yang tidak diatur oleh ajaran agama.
Lha kok para sahabat bertengkar soal siapa yang harus jadi khalifah ketika Nabi wafat? Ya karena Nabi Muhammad sama sekali tidak memberi amanat soal siapa yang harus menjadi pemimpin setelah beliau wafat dan bagaimana mekanismenya. Itu mah terserah para sahabat saja.. Toh mereka semua paham bahwa setiap umat itu PERLU DAN HARUS punya pemimpin.. Perkara siapa dan bagaimananya ya silakan berembug sendiri.
Apakah negara Indonesia sudah menjalankan syariat agama dalam hal kepemimpinan umat ini? Jelas bahwa BANGSA INDONESIA telah mencapai kesepakatan untuk membentuk negara Republik Indonesia dengan pemimpin yang berstatus Presiden sejak tahun 1945. Saat ini pemimpin negara dan umat Islam di Indonesia namanya Presiden Jokowi.
Tapi kan Jokowi ini dulunya hanya tukang mebel? Emang kenapa? Nabi telah bersabda dalam hadits, “Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan TAAT KEPADA PEMIMPIN walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR. At Tirmidzi).
Bagaimana kalau ada umat yang tidak setuju dengan pemimpinnya yang ada saat ini? Ya itu namanya PEMBANGKANG yang harus diperangi. Sudah jelas sekali PERINTAH TUHAN dalam hal mematuhi ulil amri ini dan itu tertulis dengan jelas baik di Alquran mau pun AlHadist. Mereka yang menentang adalah PARA KHAWARIJ yang memang harus diperangi. Menurut as-Syahrastani Khawarij adalah “Setiap orang yang keluar menentang pemimpinnya yang sah yang telah diputuskan oleh masyarakat, baik penentangan itu terjadi di masa sahabat terhadap para Khulafaur Rasyidin atau terjadi setelah mereka terhadap para tabiin yang baik dan para pemimpin di setiap zaman”. (as-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, juz I, halaman 114). Sila baca https://satriadharma.com/.../para-khawarij-dan-pembelanya/
Lalu bagaimana kalau yang membangkang justru mereka yang punya ilmu agama seperti ustadz, kyai, habib, dan cendekiawan muslim? Kalau menurut saya sih mereka itu MENURUTI NAFSUNYA dan bukan berpegang kepada AJARAN AGAMA. Anda boleh cari di Alquran atau pun AlHadist yang mengajarkan umat untuk MEMBANGKANG pada pemimpinnya. Tentu TIDAK ADA.
Lha kan Nabi Musa menentang Firaun? Itu kan jelas-jelas ada dalam Alquran. Gimana sih…?!
Lha kalian ini apa merasa sebagai bangsa Yahudi yang ditindas oleh bangsa Mesir di bawah kepemimpinan Firaun? Lha kalau kalian menganggap pemimpin kalian yang ada saat ini adalah Firaun lantas siapa yang Nabi Musa di antara kalian? Mbok ya jangan terlalu GR. Kadang-kadang kita itu ke-GR-an to the max mengira sebagai bangsa Yahudi yang sedang dibawah kepimpinan Nabi Musa memperjuangkan kemerdekaan umat di bawah tirani Firaun. Padahal hanya karena kita kalah di pilkada atau pemilu.
Mbok ya berhentilah berhalusinasi sedang membela agama padahal sebenarnya kalian sedang melakukan pembangkangan pada ulil amri yang sangat dilarang dalam agama.
Surabaya, 18 September 2020
Salam
(Sumber: Facebook Satria Dharma)

Keteranfan foto: Para khawarif dan pembelanya.

Thursday, September 24, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: