Apa Selama Ini Kita Sesat?

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Pertanyaan ini dilontarkan Hindun binti Utbah kepada suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Dari balik jendela, pasangan suami istri lagi mengintip keluar menonton 10 ribu pasukan muslimin masuk ke kota Mekkah dalam peristiwa Fathu Mekkah di tahun kedelapan hijriyah.

Abu Sufyan hanya mengangguk kecil dan dengan suara setengah berbisik dia menjawab,"Ya, selama ini kita sesat".

Perang bertahun-tahun lamanya, sama sekali mereka tidak menduga kalau akhirnya harus kalah. Mekah harus menyerah tanpa syarat kepada kekuatan Nabi Muhammad SAW dengan 10 ribu pasukan.

Semua senior pimpinan musyrikin Mekkah sudah rontok satu persatu. Sebagiannya gugur di medan tempur, yang lainnya malah menyeberang masuk Islam.

Tinggal Abu Sufyan bekerja sendirian. Tidak ada lagi Abu Jahal dan Abu Lahab, keduanya sudah tewas duluan. Tidak ada lagi Khalid bin Walid atau Amr bin Ash, keduanya malah sudah membelot dan menyeberang masuk Islam jadi pengikut Muhammad SAW.

Abu Sufyan sekararang tinggal sendirian, dia lelah, capek, sedih dan sakit hati. Sama sekali tidak menyangka kalau semua perjuangannya sia-sia dan akan berakhir seperti ini.

Tapi dia juga amat realistis, di sisi lain. Diam-diam, malam sebelum penaklukan kota Mekkah, dia penyelusup masuk ke kemah pasukan Madinah, menemui Nabi Muhammad SAW dan menyatakan masuk Islam. Dia baca dua kalimat syahadat di depan Nabi SAW. Asyhadu anla ilaha illallah, wa annaka ya Muhammad rasulullah.

Setelah mendapat jaminan keamanan, Abu Sufyan pun pulang ke rumahnya. Ketika ditanya istrinya, apakah kita sesat, jawabannya ya kita sesat selama ini.

Pelajaran berharga dari kisah Abu Sufyan ini, sejahil-jahilnya musyrikin Mekkah, mereka akhirnya sadar juga atas kekeliruannya selama ini. Ini adalah ciri bangsa Arab yang patut diteladani.

Hidayah itu kalau sudah Allah yang memberikan, tidak ada yang bisa mencegahnya.

Begitulah Abu Sufyan, dia menyadari kekeliruannya. Dan kalau pun harus kalah menyerah, tidak jadi masalah. Namanya orang keliru, ya manusiawi. Toh semua masih bisa diperbaiki. Masuk Islam belakangan, juga oke-oke saja, tidak jadi hina juga.

Malah Abu Sufyan dihormati dan dimuliakan oleh Nabi SAW lewat pengumuman : Siapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan, dia aman.

Padahal berlindung di rumah sendiri pun dijamin aman juga. Tidak harus di rumah Abu Sufyan juga. Tapi Nabi SAW ingin membesarkan hati mantan musuhnya itu. Toh dia sudah masuk Islam. Maka diberikan status yang mulia.

Begitulah keteladanan Nabi SAW yang mulia. Semua musuhnya yang masih hidup satu per satu akhirnya masuk Islam juga.

Saat detik-detik wafatnya Beliau SAW, ada ribuan sahabat yang menangisinya. Padahal dulu di awal era dakwah, mereka adalah musuh bebuyutannya, yang berniat jahat ingin membunuhnya.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Saturday, June 29, 2019 - 20:45
Kategori Rubrik: