Apa Salahnya Gibran Rakabuming Raka Menjadi Calon Walikota Digagalkan?

Oleh : Stefanus Toni

Anak Presiden mau jadi apa saja siapa yang melarangnya? Kita tidak bisa mengatur anak Presiden untuk jadi ini dan itu karena dia tetap PUNYA HAK untuk memilih jalan hidupnya, karena kebetulan anak Presiden kadang menjadi sorotan publik dan berbagai kecurigaan yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya.

Segala profesi anak Presiden di muka bumi ini sejatinya tidak perlu dipolitisir terlalu jauh hingga saling bertikai untuk mencari kambing hitamnya. Karena sejatinya manusia diciptakan oleh Tuhan selain untuk mengabdi kepada-Nya, kepada sesamanya juga untuk menjaga alam semesta negerinya.

Gibran Rakabuming Raka yang bertekad maju sebagai calon wali kota di Pilkada Solo 2020 tentu punya visi misi untuk membangun kota ke arah yang lebih maju, dituduh ingin mengikuti jejak bapaknya yang pernah jadi Walikota Solo pun tidak masalah, justru akan menjadi TANTANGAN BERAT bagi dirinya bila tidak mampu menorehkan PRESTASI yang pernah diraih bapaknya itu.

Langkah Gibran untuk maju memang tidak mulus, "penolakan halus" dari partai besar di kotanya harus dihadapinya, ia berusaha mencari jalan agar bisa dicalonkan lewat partai tersebut yang katanya sedang melakukan penjaringan calon-calon walikota Solo.

Walau anak Presiden, Gibran tidak meminta MEMO untuk dimudahkan dalam menemui para tokoh-tokoh partai tersebut, ia PATUH mengikuti mekanisme yang menjadi persyaratannya.

Ketika surat penugasan PDI-P Kota Surakarta untuk Purnomo dan Teguh telah dikirim ke DPP dan DPD PDI-P untuk mendapatkan rekomendasi, peluang Gibran maju dari PDI-P Kota Surakarta KONON sudah tertutup.

Ketua DPC PDIP Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo menegaskan, pihaknya secara resmi mengusung pasangan Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surakarta.

Rudy bahkan mengancam akan mencoret keanggotaan Gibran dari PDIP jika tetap maju dari jalur independen. Rudy mengakui Gibran berhak mencalonkan diri menjadi Wali Kota Surakarta. Namun hal itu artinya Gibran telah melanggar statement yang dibuatnya, yakni patuh dan taat terhadap keputusan partai. Hal itu menurut Rudy otomatis keanggotaan Gibran bakal dicoret dan dicabut.

Bila itu yang terjadi apakah peluang Gibran untuk maju menjadi calon Walikota solo gagal?

Walau nama Gibran sudah "dicoret" DPC PDIP Solo toh masih banyak jalan menuju Roma, artinya masih ada partai lain yang sudah siap mengusung Gibran untuk maju, misalnya dari PSI, PKS, PKB dan partai-partai lainnya. Tentu saja setelah melalui serangkain diskusi untuk mempelajari VISI MISI Gibran dalam memajukan kota Solo.

Sebagai pengusaha muda yang ulet dalam bisnisnya ini, terjun di dunia politik membuat Gibran harus membuat strategi baru, politic plan untuk mencapai tujuan, buku panduan sebagai senjata pamungkas dalam menghadapi dunia yang selama ini tidak menarik minatnya itu.

Sebagai tata krama berpolitik Gibran pun sudah minta restu kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Keinginan kuat Gibran ini memang layak diapresiasi, apalagi Solo selama 10 tahun ini belum ada prestasi yang SPEKTAKULER seperti saat dipimpin Walikota Joko Widodo. Gibran tentu sudah memiliki mimpi agar Solo bisa ditangani dengan lebih baik lagi.

Indonesia memang sudah saatnya ANAK MUDA maju di depan untuk ikut berperan menyumbangkan buah pikirannya demi kemajuan negaranya di segala bidang, anak siapapun dari manapun!

Tentu saja walau ada anak muda yang bisa JATUH karena kemelekatannya dengan kebendaan atau duniawi dan mulai memberatinya, suatu saat bisa jatuh.

Popularitas, kekuasaan dan kekayaan adalah amanah dari Tuhan, namun saat ketiga hal tersebut menguasai diri manusia dan mempertuhankannya, akhirnya akan memberati hidupnya yang pastinya akan membuatnya jatuh.

Saya kira Gibran yang sudah menekuni bisnis dengan berhasil paham akan hal itu, untuk tidak melakukan KORUPSI atau perbuatan tercela lainnya. Jika diberi amanah pasti akan mematuhinya dengan konsekuen, apalagi bayang-bayang bapaknya yang ANTI KORUPSI bisa menjadi contoh kualitas harga dirinya dipertaruhkan.

Bila Gibran gagal lewat PDIP apakah peluang Gibran untuk maju menjadi calon Walikota solo gagal?

Jika demikian nanti yang terjadi, peluang Solo untuk memiliki Walikota muda yang potensial jadi terhambat oleh "permainan" politikus tua yang sudah lama bercokol di kota ini dalam memangkas majunya generasi muda untuk berperan membangun kotanya.

Lalu dimana salahnya Gibran hingga tidak bisa menjadi calon walikota lewat PDIP?

Suatu kerugian masyarakat apabila meragukan orang muda cerdas untuk memimpin kotanya, sementara yang tua sudah bisa dibaca rekam jejaknya dan bisa dinilai hasilnya untuk rakyat.

Langkah Gibran masih panjang, dan komunikasi dengan partai-partai lainnya masih berlangsung, kita tunggu hasil akhirnya nanti, masih punya kesempatankah Gibran maju?

Salam Solo Berseri!

#StefanusToniAkaTantePaku

Wednesday, November 13, 2019 - 22:00
Kategori Rubrik: